Kaktus

1997_akhir Mei_Edisi 069_kenal:
Kaktus

“Do you like kaktus?” Tanya Dr. Missouri, seorang konsultan dari UNIDO PBB. Ditembak pertanyaan itu, Pak Busthamin, yang sebenarnya baru satu kali seumur hidup melihat tanaman kaktus, langsung saja menjawab dengan yakin, “yes, I like it very much”. Dan, siapa yang sangka perbincangan 45tahun silam ini telah mengantarnya menjadi kolektor kaktus kondang di Yogyakarta.

Pertemuannya dengan kaktus diawali pada tahun 1952….ketika itu Pak Busthanim menjabat ketua badan pertekstilan negara RI. Ia harus memimpin seluruh pabrik tekstil di daerah Jawa. Untuk menjalankan tugasnya beliau dibantu oleh Dr. Missouri dari UNIDO PP. Mereka melakukan perjalanan ke Jawa Barat untuk melihat penenanaman cocorus dan rosela yang nantinya digunakan untuk serat karung goni.

Di bandung, seorang petani memberitahu bahwa ia mempunyai tanaman bagus, namanya kaktus. Di saat Pak Busthanim masih mengagumi tanaman berbentuk unik ini, dan Dr. Missouri langsung saja menembak pertanyaan di atas. Mendegar jawaban Pak Busthanin, Dr. Missouri pun berjanji mengirimkan kaktus dari Amerika. Memang beberapa bulan kemudian, ia dipanggil kedutaan Amerika untuk menerima kaktus. Pak Busthanim langsung menerima kaktusnya ke Bogor untuk didata. Tidak hanya kaktus beliau pun menerima kiriman berbagai buku-buku tentang pemeliharaan kaktus.

“Karena itu dilihat boleh, tapi dipegang jangan, karena ia berduri”, ujarnya sambil tertawa. Bentuk-bentuk unik kaktus inilah yang tak pernah membuat beliau jenuh.

“Kalau sudah suka pada kaktus tertentu, karena bentuknya langka, langsung saja ingin saya beli, tanpa lihat harganya”, ujar pria kelahiran Aceh ini. Di rumahnya di Jl. Kusumanegaran, halamannya diramaikan dengan kandang-kandang kaktus berisis koleksinya yang mencapai 150 pot dengan variasi 30 – 40 jenis kaktus.

Menurutnya kaktus merupakan tanaman yang mudah dipelihara, karena ia tidak bisa menyadap banyak air, cukup disiram atau disemprot air seminggu 2X. Sedangkan untuk penanamannya, kaktus membutuhkan lapisan yang “mumpur”, yaitu sekam (kulit padi). Kemudian sekali-sekali disemprot dengan penyubur daun. Kemudian ini disebabkan sumber kehidupan kaktus lebih bergantung pada udara daripada tanah. Makanya sekujur tubuh kaktus berwarna hijau, tidak ada yang kering. Seluruh tubuh kaktus berfungsi seperti daun di pepohonan yang menangkap semua makanan dari udara. Kaktus membutuhkan udara yang lembab/dingin di malam hari, tapi kering panas sekali di siang hari. Tempat yang memenuhi persyaratan seperti itu adalah daerah padang pasir seperti Amerika bagian selatan, Mexico. Sementara untuk keperluan air, kaktus mengambil dari embun yang keluar di padang pasir ketika malam hari.

Mengapa kaktus itu berduri?
Menurut Pak Busthanim, duri itu mempunyai dua fungsi, pertama untuk menahan bahan-bahan makanan dari udara yang akan diolah menjadi makanan, dan kedua melindungi kaktus sendiri dari binatang-binatang.

Selain mengkoleksi kaktus, Pak Busthanim pun membiakkan kaktus. Biasanya beliau menggunakan cara grafting atau sistem stempel. Pendapat beliau, teknik grafting sangat sederhana daripada teknik biji-bijian yang membutuhkan ketelatenan dan waktu. Syarat untuk teknik grafting adalah potongannya harus licin dan rata, tentunya dengan pisau yang tajam serta bersih. Pertama ditanam kaktus pagar yaitu kaktus yang tingkatannya paling rendah. Setelah getah bening keluar dari kaktus pagar, maka langsung saja kaktus jenis tertentu ditempelkan dengan karet. Tunggu 1 minggu, maka kedua kaktus itu udah lengket menempel.

Biasanya setelah mendapat jenis kaktus yang baru, Pak Busthanim langsung membiakkannya. Kadang kala ia bersedia menjual kaktusnya….” Tapi harga kaktus saya tidak mahal, kalau di Supermarket sampai Rp. 4.000 – Rp. 5.000,-/pot, maka saya hanya menjual Rp. 1.750,-. Sekarang ada lagi bisnis kaktus di daerah Pring Wulung, biasanya mereka pun membeli beberapa jenis kaktus ke tempat saya”, jelasnya.

Untuk beberapa jenis kaktus, Pak Busthanim enggan menjualnya. “Saya pernah mendapat kaktus Chrystata dari Bandung, yang saya beli seharga Rp. 70.000,-. Sampai di Djogjakarta, ada seorang teman yang datang berkali-kali merayu saya untuk membeli kaktus itu. Agar dia tidak minta lagi, saya bilang saja kalau kaktus itu saya beli dengan harga Rp. 300.000,-. Eh, bukannya mundur, si Ibu itu langsung mengeluarkan uang tiga ratus ribu dan lima puluh ribua rupiah. Akhirnya kaktus itu lepas, tapi untung saja saya sudah punya anak-anaknya”, cerita Pak Busthanim sambil tertawa.

Kecantikan kaktus Pak Busthanim pun tak luput dari incaran pencuri. Beliau pernah kehilangan 50 pot kaktus dari jenis yang terbagus. “Pencurinya tahu mana kaktus yang bagus dan yang jelek, sejak saya pelihara anjing untuk menjaga koleksi kaktus, ada manfaatnya juga”, lanjut Pak Busthanim. Yang sering jadi masalah adalah para kalkun peliharaan anaknya. “kalau mau bertelor. Kalkun itu sering naik keatas kandang kaktus, dan pot-pot saya amburadul nggak karu-karuan”, ujarnya sambil tertawa.

Kecintaan Pak Busthanim terhadap tanaman unik ini diwujudkan pula melalui perhimpunan penggemar kaktus dan skulen Indonesia. Kegiatan organisasi ini adalah membuat bursa untuk tukar menukar kaktus, memberikan informasi dan konsultai mengenai pemeliharaan kaktus. “Tapi sekarang perhimpunan ini sudah tidak berjalan dengan baik, karena ketuanya sudah punya kaktus baru, maksudnya istri baru”, jelasnya dengan tawa lepas.

Untuk menambah koleksi kaktusnya, Pak Busthanim sendiri mencari ke Bandung, beliau mempunyai hubungan baik dengan kerabat di Bandung yang memiliki bisnis kaktus. Beliau kerap dikontak jika ada jenis kaktus yang terbaru dari luar negeri. Menurut Pak Busthanim, yang ada di Indonesia hanyalah kaktus pagar. Selain berasal dari luar negeri. Di jaman Belanda, banyak sekali didatangkan kaktus untuk dijadikan tanaman pagar berduri.

Kini menginjak usia 84 tahun, Pak Bsuthanim tetap  menebarkan pengetahuannya tentang kaktus, rumahnya terbuka untuk menerima tamu. Hal ini sangat wajar karena ia sangat berharap agar penggemar kaktus semakin bertambah banyak. Apalagi kalau yang menyukai kaum muda, terutama bagi mereka yang berniat membisniskannya….”bayangkan, mereka dapat memelihara dan membisniskan kaktus pada waktu senggang, sehabis sekolah”, ujar Pak Busthanim. Lucunya, beliau sendiri tidak mempraktekkan bisnis itu, hanya terbatas menjual dengan harga murah agar merangsang ornag menyukai kaktus.

Bertemu Pak Busthanim memang mengasikkan. Berbagai hal yang dijalaninya dalam hidup, selalu ditekuninya dengan serius. Siapa yang nyana di jaman revolusi beliaulah yang berjalan keliling mengambil alih pabrik-pabrik tekstil Jepang ke tangan Republik Indonesia, juga pendiri Departemen Perindustrian di Yogyakarta, pendiri Balai Penelitian Batik, dan Akademi Teknologi Kulit. Sedangkan untuk urusan mengembangkan hobby, boleh dikatakan, beliaulah yang memperkenalkan kaktus secra luas di Yogyakarta.

Sumber: Hasil wawancara dengan Pak H.M. Bustahnim di Jl. Kusumanegara Yogyakarta

Leave a Reply

Close Menu