Juggling

1998_Agustus_Edisi 093_bahas:
Juggling

Menyitir kamus “Random House Dictionary”, Juggling berarti melempar dan menangkap beberapa obyek hingga melayag di udara dalam waktu bersamaan. Bagi orang yunani kuno, pemain juggling identik dengan sosok licik yag menipu pandangan mata penonton. Dalam sejarahnya istilah juggling memang mempunyai dua kutub makna yang berlawanan, dikagumi sekaligus dicurigai. Juggling merupakan salah satu pemain ketangkasan tertua-bentukya telah tercatat pada kuburan Beni Hasan [1994-1781 SM], seorang raja mesir yang tidak. Bahkan Fi Qieng, seorang guru akrobat cina memperkirakan juggling dan prajurit mengisi waktu luangnya melalui kesenangan melempar dan menangkap senjata tajam.  Hubungan antara juggling dan peperangan seringkali muncul dalam literatur Cina. Sebuah legenda Cina merekam seorang bernama Xiong Xilliao dari Shinan yang pernah mengalahkan lawan perangnya melalui kepiawaiannya melempar dan menangkap senjata dengan kecepatan tinggi. Di masa Dinasti Han, muncul pula sebuah kelompok pertunjukan juggling yang disebut “The Hundred Entertainments”. Pertunjukan ini telah berkembang di kalangan kelas bangsawan. Selama berabad-abad, para pemain juggling Cina telah mendapat tempat dihati masyarakat kelas atas. Namun pada permulaan Dinasti Ming [1368 M]. Juggling tidak lagi diminati para aristokrat yang menganggap bahwa pertunjukan ini sudah terlalu vulgar untuk kebutuhan selera mereka yang tinggi dan mereka terlempar kembali ke akarnya yaitu pedesaan. Di Eropa abad pertengahan kaum geriawan menganggap permainan juggling sebagai awal yang dosa. Menurut mereka “salah satu saja menghentikan permainan juggling” sementara kebanyakan masyarakat Eropa abad 19, juggling dianggap sebagai pertunjukan eksotis yang datang dari timur, seperti dari India, Jepang. Bahkan pemain juggling dari Jerman. Karl Rappo, mau tidak mau memakai sorban agar dirinya kelihatan seperti orang India dan dapat menarik perhatian penonton. Hanya enrico Rasteli dan Bobby yang dapat membuat orang Eropa dan Amerika sadar bahwa juggling merupakan atraksi yang bisa dipelajari teknisnya oleh setiap bangsa. Rastelli mampu membuat keseimbangan mengejutkan dengan lemparan 7 bola secara bersamaan. Sementara Bobby menawarkan bentuk juggling gaya art deco yang gerakannya lebih halus. Kedua pemain juggling inilah yang telah melempar juggling di posisi yang lebih bergengsi.

Di abad 20, pemain juggling terlempar ke dapur para ilmuwan, dimana jenis ketangkasan ini mulai diteliti secara ilmiah, yaitu dengan munculnya studi mengenai koordinasi mata dan tangan. Di tahun 1970, juggling secara serius diteliti oleh Masschusetts Institute of Technologi, kemudian di tahun 1980 berkembang studi mengenai matematika dalam juggling, dimana beberaa orang mencatat notasi pola juggling.

Sumber: Chandler, Arthur. The Moral and Aesthetic Implications of the Mastery of Falling Objects. The Journal of Popular Culture, Winter 1991.Vol.25.#3

Leave a Reply

Close Menu