Jodoh! Sebuah kontak kimiawi

1999_Agustus_Edisi 103_selip:
Jodoh! Sebuah kontak kimiawi

Tak sekedar peroalan hati, para ahli menyimpulkan bahwa perjodohan juga sebuah kontak kimiawi antara dua manusia. Pada pertengahan tahun 1960, seorang psikologi bernama Dorothy Tennov  mewawancarai 400 responden untuk mendalami apa yang mereka rasakan saat jatuh cinta, jawabannya, kebanyakan responden merasa takut, lemas, gagap, dan malu. Ketika manusia saling tertarik, maka terjadi reaksi pada tubuh dan otak. Terdapat jaringan syaraf yang menyampaikan pesan dari otak manusia ke seluruh organ, sehingga menimbulkan rasa dag dig dug dan senang tak terkira.

Adapun unsur kimia yang paling dekat dengan proses jatuh cinta disebut phenylethylamine (PEA). Pengaruhnya seperti obat bius yang dapat menimbulkan efek rasa melayang serta energy yang luar bisa dalam diri seseorang. PEA juga memiliki muatan dopamine yang menurut penelitian dari Universitas Emory dapat mempengaruhi proses pemilihan pasangan hidup pada diri wanita. Yang menarik, coklat pun bisa merangsang keluarnya dopamine, sehingga tak heran jika di hari Valentine makanan ini kerap menjadi tanda ungkapan cinta.

Sebuah laboratorium penelitian di Universitas St. Andreas yang dipimpin Professor David Perrett, mengatakan bahwa wanita yang sedang datang bulan cenderung memilih pria yang wajahnya lebih macho atau yang hormon kelaki-lakiannya sangat kuat. Sementara di waktu-waktu tidak subur, mereka justru memilih pria dengan wajah manis dan lebih feminin. Kesimpulan ini berawal dari pemikiran bahwa bau yang dikeluarkan oleh kekuatan hormon laki-laki sebenarnya tidak disukai wanita, kecuali mereka sedang dalam masa subur.

Bau yang dikeluarkan manusia juga merupakan sarana terjadinya kontak antara lawan jenis. Philosophy, sebuah perusahaan Kosmetik Amerika, telah meluncurkan parfum bertajuk “Falling in Love” yang mampu membuat seseorang semakin menarik di mata lawan jenisnya. Khasiat parfum ini terletak pada kandungan hormon seksual (pheromones). Dan untuk memperoleh khasiat yang jitu, parfum Falling in Love harus dioleskan pada bagian bawah hidung selama kurang lebih 2 minggu. Mengapa hidung? Menurut Dokter Beliner dari Amerika, pada hidung terdapat lubang kecil (organ womeronasal atau VNO) yang mampu menangkap pesan-pesan kimiawi dari sesamanya. Disamping itu, manusia juga mempunyai pheromones, yaitu bau-bauan yang dikeluarkan tubuh dan mengakibatkan reaksi dari sesamanya. Hal inilah yang juga mempengaruhi proses terjadinya jatuh cinta atau ketemu jodoh antara dua lawan jenis.

Leave a Reply

Close Menu