Jika air lebih mahal dari emas

1995_pemula September_Edisi 028_peduli:
Jika air lebih mahal dari emas
Indah NS.

Tak ada petaka yang muncul lebih mengerikan daripada jika air bersih berharga lebih mahal daripada emas. Tapi itu bukan mustahil terjadi di ibukota tercinta, jika tidak kita antisipasi sejak sekarang. Hasil penelitian tentang air yang baru-baru ini diungkap sejumlah ahli benar-benar bagai mimpi buruk seharusnya membanggunkan kita dari tidur.

Pusat Penelitian Kegiatan ITB sebagai contoh, telah menyiangi sejumlah sungai yang bermuara di Teluk Jakarta, selama tiga tahun. Hasilnya, akibat beban polutan yang sangat besar, tahun 2010 nanti perairan Jakarta akan menjadi dead water atau air mati, yang benar-benar tak bisa digunakan untuk keperluan apapun. Termasuk untuk mencuci pakaian, mobil, mandi. Beberapa untuk minum atau masak.

Menurut data-data tadi, sungai-sungai di sekitar ibukota itu sudah mencapai kondisi an aerob, yang bisa diketahui dari konsentrasi DO (dissolved oxygen) yang negative. Artinya, tak ada oksigen yang terlarut dalam air. Padahal oksigen amat penting untuk oksidasi limbah. Selain itu, BOD (biochemical oxygen demand) yaitu jumlah oksigen yang dibutuhkan bakteri untuk mengurangi limbah organik, meningkat sangat besar. Itulah indikasi bahwa pencemaran yang terjadi di sungai Jakarta sudah amat parah. Padahal, menurut data Fakultas Teknik UI, tahun 2010 nanti Jakarta dengan penduduk 15,325 juta orang akan membutuhkan air bersih sekitar 1,1 milyar kubik per tahun. Lalu, bagaimana Jakarta dapat memenuhi proyeksi kebutuhan itu!

Solusinya memang sulit, karena seluruh Jakarta saat ini cuma sanggup menyerap sekitar 800 juta meter kubik air hujan. Persediaan itu dalam bentuk air hujan yang jatuh dan terserap ke dalam lapisan dangkal tanah (760 juta meter kubik), dan lapisan dalam tanah (40 juta meter kubik) . Padahal, masih menurut FTUI, dengan curah hujan rata-rata 1750 sampai 2500 milimeter per kubik dan jumlah penduduk pada saat itu sekitar 9 juta, air hujan Jakarta cuma cukup memasak kebutuhan antara lima empat bulan.

Bagi Jakarta ada beberapa cara mengatasi kebutuhan air bersih. Tak Cuma mengandalkan air hujan, tapi juga air tanah yang mengalir dari bagain selatan Jakarta yang letaknya lebih tinggi seperti daerah Puncak dan Bogor. Ataupun dari suangi Ciomas, seperti yang dilakukan PAM DKI. Tapi, berdasarkan data DKI, cadangan air itu hanya bisa diharapkan sampai 2003 saja. Lalu, bagaimana agar kita tak mesti minum berasin, yang sekarang harganya saja sudah lebih mahal dari air mineral !

Leave a Reply

Close Menu