Jejak Kapal Laksamana Cheng Ho Diabadikan di Kali Semarang

Naga-Burung Hong di Buritan Jadi Simbol Damai Semarang memperkuat citra sebagai salah satu kota di Asia Tenggara yang jadi ikon ‘wisata ziarah’ perjalanan Laksamana Cheng Ho. Tiap tahun, peringatan pendaratan pelaut legendaris itu dirayakan meriah. Bulan depan, kota ini akan meresmikan replika kapal orang kepercayaan Kaisar Tiongkok tersebut yang dibuat seperti keberadaannya 600 tahun lalu.

Sebuah kapal unik terlihat bersandar di tengah Kali Semarang. Tepatnya di depan Kelenteng Tay Kak Sie di jalan Gang Lombok. Melihat bentuknya, kapal dengan panjang 41 meter, lebar 12 meter, dan tinggi 3 meter itu memang berbeda dengan yang ada sekarang. Maklum, ‘perahu raksasa¬°¬¶ itu dibuat sebagai replika kendaraan laut era Dinasti Ming. Dengan alat itulah, Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok menjelajahi dunia sekitar 600 tahun silam. Bangunan itu sesungguhnya merupakan sebuah panggung yang dibangun menyerupai bentuk kapal. Pada zamannya, ia disebut Bao Chuan atau bahtera pusaka. Enam abad yang lalu, kapal tersebut biasanya digunakan untuk menyimpan benda-benda pusaka untuk cinderamata bagi pemimpin yang dikunjungi rombongan Cheng Ho. Replika itu dibuat dari bahan utama besi dan beton yang dilapisi kayu bengkirai sehingga benar-benar mirip kapal sesungguhnya.

Dua tahun lalu, di tempat yang sama, sebenarnya juga pernah dibangun replika serupa, namun terbuat dari bambu dan kayu. Replika yang pertama tersebut digunakan sebagai panggung utama dalam peringatan 600 tahun pendaratan Cheng Ho di Nusantara pada tahun 2005. Selanjutnya, replika itu juga digunakan sebagai panggung pementasan berbagai kegiatan kesenian hingga tasyakuran peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Tahun ini Yayasan Kelenteng Tay Kak Sie memutuskan untuk membuat replika kapal yang permanen. Sindu Dharmali, ketua Yayasan Kelenteng Tay Kak Sie, menjelaskan bahwa pembangunan panggung berupa replika kapal itu bukan sekedar monumen kedatangan penanda Cheng Ho ke kota Semarang. Namun juga menjadi simbol perdamaian dalam menjalin hidup bersama. Layaknya pesan dari gambar naga dan burung hong di buritan kapal Bao Chuan yang menyimbolkan kejayaan dan perdamaian.

“Replika kapal ini kami bangun dengan dana swadaya masyarakat yang diinspirasi jiwa besar Laksamana Cheng Ho yang penuh cinta kasih.” Kata Sindu Dharmali. Pembuatan replika itu diperkirakan menghabiskan dana Rp.1,5 miliar yang dikumpulkan dari para donator yang peduli terhadap pembangunan tersebut. Bahkan, panitia pembangunan Cheng Ho ship, nama kepanitiaan dari Kelenteng Tay Kak Sie, juga membuka rekening sumbangan di bank swasta. “Kami berterima kasih kepada masyarakat yang sudah menyumbangkan dananya,” katanya. Menurut Sindu, replika itu memang dibuat lebih ‘mini’ daripada aslinya. Sebab kapal yang dipakai berlayar oleh tangan kanan Kaisar Tiongkok tersebut aslinya memiliki panjang 122 meter dan lebar 52 meter. “Itu kapal raksasa di zamannya. Bandingkan dengan kapal Santa Maria milik Colombus saat menemukan Amerika yang panjangnya diduga hanya 26 meter.”

Lalu, siapa yang merancang replika kapal itu? Para pengurus yayasan kelenteng umumnya menyebut nama Ganda Wijaya sebagai arsiteknya. Namun, kepada Radar Semarang (Grup Jawa Pos), Ganda menolak dikatakan sebagai arsiteknya. “Saya hanya membantu teman-teman di yayasan. Kebetulan saya tahu tentang teknik,” ujarnya merendah. Untuk membuat kapal tersebut, Ganda mengaku butuh waktu empat bulan. Namun dia berjanji akan mempercepat proses penyelesaian proyek itu. Konstruksi kapal yang dibuat dengan lapisan baja dan besi tersebut didesain bisa bertahan hingga 10 tahun. Agar persis aslinya, replika kapal itu akan dipercantik dengan kayu bengkirai yang sudah dipoles.

Pembuatan replika tersebut memang membutuhkan waktu lumayan lama. Namun waktu yang diperlukan untuk mencari bentuk yang paling tepat tentang kapal Cheng Ho yang asli ternyata lebih lama lagi. Sejak 2004, Yayasan Kelenteng Tay Kak Sie telah mengumpulkan berbagai referensi untuk mencari bentuk kapal Cheng Ho yang asli. Langkah ini dilakukan untuk peringatan 600 tahun pendaratan Cheng Ho di Semarang pada tahun 2005. Berbagai buku tentang Tiongkok ditelusuri, namun belum ada yang pas.

Cheng Ho dikenal sebagai pelaut yang ulung. Namanya hingga kini tenar di kawasan Asia Tenggara. Dia melepas armada Tiongkok ke seluruh penjuru dunia. Dalam ekspedisi pertama (1407-1409) dari Nanjing menuju Calicut (India), Cheng Ho singgah di Champa, Semarang, Sriwijaya, dan Srilanka. Berikutnya (1409-1411), Cheng Ho kembali mengunjungi Champa, Temasek (Singapura), Malaka, Sumatera Timur, Aceh, dan Srilanka. Ekspedisi terakhir Cheng Ho dilakukan pada 1431-1433. Kali ini mereka menuju Selatan Vietnam, Surabaya, Palembang, Malaka, Samudra Pasai, Srilanka, Calicut (India), Afrika, dan Jeddah.

Pada tahun 2004 dan 2005, Ganda berkunjung ke Tiongkok. Kesempatan itu tidak disia-siakan untuk berkunjung ke kampung halaman Cheng Ho. Dia terus menggali referensi serta mendokumentasikan berbagai hal terkait dengan tokoh yang lahir di Kunyang, kota kecil di Barat daya provinsi Yunnan tersebut. Pada saat berada di perpustakaan Universitas Jian Tong, Shanghai, Ganda menemukan sebuah buku yang menggambarkan replika-replika kapal yang dicari. Replika yang sama juga didapatinya di Museum Maritim Nanjing. Selain itu, dia memanfaatkan kemajuan teknologi dalam pencariannya. “Saya juga mencari bentuk kapal Cheng Ho dari internet,” jelasnya. Hasil penelusurannya tersebut akhirnya dijadikan bahan acuan untuk membuat replika semipermanen di Kali Semarang pada tahun 2005.

Pembuatan replika itu kini sudah mencapai 90 persen. Saat Radar Semarang berkunjung kesana kemarin, sejumlah pekerja sedang menyelesaikan pembuatan ruangan di bagian haluan kapal. Ruangan itu akan digunakan untuk ganti pakaian bagi artis saat akan tampil di panggung yang berada di dek kapal. Ruangan tersebut juga dilengkapi toilet. Selain ruangan di bagian haluan, sejumlah pekerja sibuk memasang layar pada dua tiang layar utama. Menurut Ganda, layar bagian depan berukuran 8 x 8 meter dan layar bagian belakang 8 x 9 meter. Keberadaan panggung permanen di tengah sungai yang membelah kota Semarang itu mengundang polemik warga kota. Yang menentang khawatir proyek tersebut akan mengganggu aliran sungai. Seperti, kemungkinan adanya sampah-sampah yang tersangkut di bagian konstruksi yang terendam air. Sebab kapal itu memakan tempat hingga tiga perempat lebar Kali Semarang. Ganda menjelaskan, pembuatan kapal di tengah Kali Semarang sudah dikaji secara mendalam dari aspek lingkungan. Konstruksi kapal sudah dibuat sedemikian rupa. “Anjungan dan buritan bisa ditarik saat air pasang dan diturunkan saat air surut sehingga tak mengganggu aliran Kali Semarang” tuturnya. Proyek itu, lanjut Garuda, ditargetkan selesai pada awal bulan depan.

Dengan demikian kapal tersebut bisa digunakan sebagai panggung kesenian dalam perhelatan Semarang Pesona Asia (SPA) pada tgl. 10 Agustus 2007 dan peringatan pendaratan Cheng Ho di Semarang pada tgl. 12 Agustus 2007. Panggung replika kapal Cheng Ho itu akan menjadi ikon kawasan pecinan ibu kota Jawa Tengah dalam even SPA.

Dikutip dari: harian Jawa Pos terbitan Surabaya, tgl 25 Juli 2007

This Post Has 2 Comments

  1. kapal replika tersebut masih bersandar dengan baik di Kali Semarang, digunakan sebagai tempat keramaian acara-acara etnis cina di semarang. bangga menjadi warganya. semoga terlestarikan dengan baik..

  2. terima kasih informasinya, pak..

Leave a Reply

Close Menu