Jam

1997_akhir Oktober_Edisi 079_bahas:
Jam

Akhirmya, manusia menciptakan jam untuk memperhitungkan waktu. Agar didapat ritme hidup yang lebih teratur.

Sungguhpun fungsi jam yang paling utama adalah menunjukkan ketepatan waktu, namun pada perkembangan selanjutnya, jam banyak dituntut pula untuk memenuhi kriteria sebagai alat pendukung penampilan. Bahkan, kadang lebih dari itu.

Ragam jam yang tidak lagi dapat terhitung. Anehnya, tetap saja ketepatan waktu masih sering mejadi masalah.

Bentuk Awal Jam

Setelah mengamat-amati pola gerak alam, manusia purba mulai memahami bahwa bulan beputar selama 365 hari. Saat itu, ilmu pengetahuan lebih berkembang baik pada masyarakat dengan pola hidup menetap, karena sudah terbangun profesionalisme kerja. Perkembangan jam pada masyarakat purba didukung oleh pemikir dan kaum agama. Misalnya setelah para ilmuwan sudah memiliki kesimpulan tentang perhitungan waktu, maka para pendeta membangun symbol penanda yang permanen agar bisa menunjukkan kapan sebuah ritual harus dijalankan. Salah satu penandanya adalah batu besar di Newgrange, 50 kilometer ke utara dari Dublin yang dibangun oleh manusia di jaman batu, sekitar tahun 3100 SM.

Disebutkan bahwa pengukur waktu pertama menggunakan perhitungan 30 hari antara bulan purnama. Nenek moyang manusia sangat tergantung pada perputaran bulan dan matahari. Orang–orang babilonia menghitung satu tahun tediri dari 360 hari dan mungkin ada hubungannya dengan pembagian lingkaran ke dalam 360 derajat. Konon, para arsitek dan pendeta babilonia selalu bekerja sama dalam membangun kuil, dan mereka harus memiliki hukum pembagian yang sama yaitu setahun dibagi 12 bulan dan lingkaran dibagi ke dalam 6 sampai 12.

Namun sebenarnya di seluruh peradaban terdapat kecenderungan menghitung dalam kelipatan 4. Disamping itu angka 12 seringkali muncul dalam agama, mite dan legenda, seperti dalam 12 pekerja Hercules, 12 dewa besar dari Olympus.

Ketika menghitung waktu dalam kurun satu tahun, berbagai ahli antropologi purba telah menggunakan tongkat bayangan. Mereka akhirnya memahami bahwa bulan berputar selam 365 hari, dan pendeta pun membangun symbol penanda yang permanen sehingga bisa menunjukkan kapan sebuah peristiwa penting berlangsung dan dirayakan. Salah satu penandanya adalah batu besar di Newgrage, 50 kilometer ke utara dari Dublin yang dibangun oleh manusia di jaman batu, sekitar tahun 3100 SM.

Bayangan Matahari Sebagai Jam
Seorang sejarawan Yunani, Herodotus, menulis dalam sebuah manuskrip tahun 430 SM penemuan alat petunjuk waktu dengan bayangan matahari dari bangsa Babilonia. Sebenarnya alat petunjuk waktu sudah dipunyai oleh bangsa Mesir, terbukti dengan adanya jarum Cleopatra pada monument kalender yang terletak di luar kuil Heliopolis, pusat pemujaan dewa matahari di sungai nill. Jauh sebelum para ilmuwan mesir mengeksporasi kota mereka, kerajaan Romawi telah meminta 20 tugu pengatur waktu dan Mesir. Hal ini diungkapkan oleh Pliny yang mengatakan tugu setinggi 30 meter telah dipasang oleh Raja Romawi di atas gunung, jauh di luar kota. Ketika Republik Roma berdiri tahun 210 SM, tugu ini dipindahkan ke padang Mars. Untuk melihat perputaran jam, maka setengah lingkaran di pinggir tugu harus ditandai dengan 12 bidang.

Air Sebagai Penunjuk Waktu

Setelah mengalahkann Persian sekitar tahun 331 SM, Sang Alexander Agung membangun kota di dekat sungai Nil. Kota Alexandria yang dilengkapi dengan perpustakaan, ruang baca dan taman, telah menjadi ajang bagi orang-orang jenius. Di antaranya adalah Euclid yang mendasari penemuan teori geometri, dan Archimedes.

Salah satu yang menarik adalah pengembangan prinsip-prinsip teknik dari Sekolah Alexandria – Ctesibius. Di situ diterapkan prinsip mesin dan hidrolik untu pembuatan jam. Para ahli telah mengembangkan jam air untuk menggerjakan sesuatu. Cara kerjanya sangat sederhana, sebuah mangkuk dengan ukiran prasasti dilubangi baian bawahny. Kemudian mangkuk diisi denga air yang alirannya akan menentukan perputaran siang dan malam dalam satu hari. Bentuk jam ini telah diperkenalkan di Yunani sekitar tahun 400 SM oleh Plato.

Menara Jam atau turrent clock

Menara jam tertua berada di Katedral Salisbury, Inggris yang dibuat tahun 1386. Perpindahan waktu menara jam ini ditandai oleh bunyi bel dan digerakkan oleh tiga roda dengan satu lingkaran yang nantinya akan berputar. Awalnya,seorang uskup Salisbury bernama Rlph Erghum secara teratur mengunjungi istana Raja Edward III, yang telah mengundang ia pengrajin dari desa. Mereka adalah Johannes, Wiliemus Vrieman dan Johannes Lietuyt dari Delft. Erghum meminta ketiganya untuk membangun jam Salisbury. Kemudian pada tahun 1790, James Wyatt, yang telah merestorasi berbagai bangunan gereja, meruntuhkan dua kabel, serambi dan menara bel di Salisbury. Jam tua dipindahkan ke menara di bahgian tengah katedral.

Ketiga pengrajin itu pun membuat menara jam di Katedral Wells sekitar tahun 1392-1393. Menara jam Wells merupakan salah satu yang terbaik di dunia, dan menggambarkan pandangan masyarakat abad pertengahan tentang dunianya.

Jam Bracket

Jam Bracket adalah bentuk jam yang dirancang untuk diletakkan di atas perabot atau rak. Ciri khas jam bracket terletak pada kotak kayu yang menjadi pelindungnya. Kotak kayu ini terbuat dari kayu eboni, kayu kenari dan setelah tahun 1750 banyak pula memanfaatkan kayu mahoni.

Dari tahun ke tahun, jam ini banyak mengalami perubahan baik dalam bahasan dasar maupun bentuk. Di tahun 1700’an, misalnya, muncul desain kotak kayu dengan lengkungan patah di bagian bawahnya dan puncak berbentuk balon. Dan masih di tahun yang sama, kebiasaan para pemilik jam bracket yang semakin sering memindah letak jam ini menimbulkan kebutuhan untuk merancang pegangan di atas jam tersebut. Salah satu jam bracket dengan pegangan yang sangat elegan adalah hasil kary Thomas Tomplon dan Edward Banger [1705]

Di akhir abad 18, dikenal pula jam bracket berlonceng yang meskipun dibuat di Jerman, telah menjadi citra Inggris klasik selama 100 tahun. Jam ini terbuat dari kayu mahoni dengan ornamen Lapisan logam yang mengkilat.

Jam mantel
Mirip seperti jam bracket, jam mantel umumnya lebih kecil, pendek dan tanpa pegangan. Pertama kali muncul di Perancis tahun 1750 dan menyebar hingga ke Inggris di dekade berikutnya. Beberapa jam mantel yang terkenal adalah jam ormolu dan perunggu buatan Julien Le oy dari Perancis, perancang jam di jaman Louis XV. Jam ormolu adalah bentuk khusus dari jam mantel yang akhirnya diberikan sentuhan ornamen kuningan atau perunggu. Prosesnya menggunakan air raksa yang beracun, dan nantinya digantikan melalui proses pelapisan dengan arus listrik.

Kemudian revolusi Industri di abad 19, jam mantel diproduksi secara massal untuk memenuhi permintaan masyarakat kelas menengah ke atas. Tentunya produksi massal ini dibarengi dengan peningkatan teknik pembuatan jam yang mampu menekan biaya produksi. Di Inggris, teknik pencetakan terus berkembang dan memungkinkan produksi lapisan perunggu dengan kualitas baik dan massal. Walhasil, beberapa kotak jam dinding Victroria disusun dengan patung perungggu yang dipadahat dengan symbol binatang atau objek-objek dari mitologi yunani kuno dan mesin jam menjadi bagian integral dari rancangan tersebut. Namun di era yang sama pula jam mantel telah ditiru secara besar-besaran, sehingga muncul desain jam mantel yang kurang artistic dengan kualitas rendah.

Jam Mekanik: dari abad ke abad !

Ada beberapa fakta yang menunjukkan awal pemakaian mesin dalam pembuatan jam. Fakta pertama dapat ditelusuri melalui album sketsa arsitektur yang dibut oleh Villard atau Willars dari Honnecount antara tahun 1240-1251. Dalam album atau terlihat adanya perlengkapan jam mekanik paling sederhana yaitu seutas tali dengan berat yang mengendalikan roda dan mengontrol malaikat di atap gereja. Posisi melaikat tertuju pada matahari, yang menjadi petunjuk waktu.

Selain itu, adanya temuan bahan kuningan dan besi menunjukkan bahwa terjadi perkembangan dalam alat mesin jam. Hal itu bisa dideteksi dari terjemahan Chronicie oleh Galvano de la Glamma yang menunjukan adanya jam besi yang dibangun di gereja Millan tahun 1309. Kemudian tahun 1330, Richard dari Willingford merancang jam astronomi yang dipasang di St. Albans Abbey, jam ini dikenal memiliki gigi oval dan gigi berbentuk segitiga. Di tahun 1364, Glovanni da Dondi [1318-89], seorang professor di bidang astronimi, logika dan kedokteran di Universitas Papua menulis deskripsi teknis jam astronomi dengan detil. Dalam tulisan itu, ia menguraikan waktu dalam hitungan jam Itali, dan juga memberikan petunjuk kalender dan astronomi. Beberapa tahun kemudian, tulisan ini direproduksi oleh Thwaites dan Reed, pembuat jam menara [turret clocks] dari inggris. Aspek yang paling menarik dari manuskrip Giovanni dan Dondi adalah gambar yang sangat detil tentang alat penggerak jam yaitu roda pengatur per atau verge, dan sering dipakai untuk mengatur roda gigi [verge] dihubungkan dengan jarum jam, dan diperlakukan satu alat lagi yang disebut roda pelepas. Dengan setiap ayunan bandul atau pendulum, jarum bergerak pelan bersamaan dengan saat roda pelepas terkunci dan terbuka secara otomatis. Dari tahun 1275-1800, alat penggerak verge tidak pernah berubah, walaupun setelah tahun 1670 ditemukan roda pelepas yang lebih baik canggih. Misalnya roda pelepas brocot buatan perancis di tahun 1800-an, juga roda pelepas tuas yang dikembangkan tahun 1759 oleh Thomas Mudge. Atau roda pelepas Silinder yng disempurnakan oleh George Graham, dan roda pelepas dead-beat temuan tahun 1715, biasa digunakan untuk jam saku.

Berbagai temuan jam telah memberikan inspirasi bagi seorang penyair perancis, Jean Froissart, yang pernah menulis puisi panjang berjudul Li oriege Amoureus, yang membandingkan beberapa bagian dari jam dengan atribut cinta. Gerak mekanik jam yang terombang-ambing disebutnya folier [bahasa perancis] yang artinya menari. Froissart menggambarkan roda pertama sebagai seorang ibu yang menajdi sumber penggrak bagian lain dari sebuah jam. Roda kedua bergerak pelan dan mulai berputar mengikuti berlangsungnya waktu setiap harinya.

 

 

Leave a Reply

Close Menu