Istana Air Romatik dari Yogyakarta

Istana Air Romatik dari Yogyakarta

2001_November_Edisi 130_Nuansa:
Istana Air Romatik dari Yogyakarta

Air banyak dimanfaatkan sebagai elemen arsitektural yang memperkuat tampilan konstruksi suatu bangunan. Tamansari, situs peristirahatan keluarga Kraton Yogyakarta, bisa menjadi contoh yang menarik bagaimana perpaduan air dan bangunan memuncukan lanskap yang mempesona dan mengagumkan.

Tamansari….. yang artinya kurang lebih “tamna yang harum”…..konon diengkapi 18 kebun bunga, buah, sayur dan rempah serta koleksi satwa terpilih, menurut catatan seorang sarjana Belanda, Y. Gronemon, dibangun secara bertahap dari tahun 1758 hingga 1787, atau membutuhkan waktu 25 tahun! Selain sebagai tempat rekreasi, pulau buatan ini juga berfungsi sebagai tempat pertahanan yang dilengkapi benteng-benteng bermeriam dan jalur-jalur bawah tanah untuk menyelamatkan diri. Hebatnya, banyak bagian dari bangunan-bangunan di Tamansari terletak di bawah permukaan air.
Elemen air memang sangat dominan dalam bentukan ruang Tamansari, selain membentuk segaran (danau buatan), sumber air untuk tiga kolam rekreasi keluarga sultan dan untuk mengairi kebun-kebun yang ada, aliran air dimanfaatkan pula untuk menghasilkan ornamen audio di peraduan Sultan. Di Pesarean Ledok Sari, tempat istirahat pribadi Sultan, dirancang aliran air di sekeliling ruang tersebut yang memunculkan seuara gemericik yang terdengar terus menerus. Sumur Gumuling, masjid kecil berbentuk sirkular tempat bersemedi Sultan, dibangun di bawah air yang konon dilakukan untuk memunculkan suasana khidmad dan menghasilkan akustik ruangan yang baik.

Danau buatan yang mengelilingi Tamansari dan terbentang dari gapura barat Tamansari hingga alun-alun selatan, memperoleh pasokan airnya dari sungai Winongo yang terletak sekitar 1 kilometer di sebelah barat Kraton Yogyakarta. Untuk itu dibuat saluran air yang dikenal sebagai Sungai Larangan karena masyarakat dilarang memanfaatkan aliran air di saluran tersebut. Selain itu, di Tamansari sendiri juga terdapat sumber air, yakni Umbul Winangun yng dipergunakan untuk mengisi tiga kolam renang, Layaklah jika kompleks rekreasi ini kemudian disebut Istana Air.
Dalam catatan Y. Gronemen (1884) dikisahkan pula bayang-bayang bangunan di Tamansari yang terpantul di permukaan air ditimpa cahaya matahari petang, sementara abdi-abdi kraton berperahu sembari makan ikan, memunculkan pemandangan romantik yang akan selalu berbekas dalam ingatannya.

Leave a Reply

Close Menu