Ilustrator Flora Ilmiah: Melukis hingga Akarnya

2000_Juni_Edisi 113_lingkungan :
Ilustrator Flora Ilmiah: Melukis hingga Akarnya
Joni Faizal

Cendana dan Menteng okelah merupakan kawasan elit Jakarta dan tempat bermukimnya bekas orang nomor satu di negeri ini yang belakangan sering didatangi demonstrasi mahasiswa. Tapi lain bagi Djdjat Suradjat, “tukang gambar” flora di Kebun Raya Bogor dan Subari di Herbarium Bogoriense. Menteng (Boccourea recemosa)—yang dalam bahasa Sunda disebut juga ki menteng dan dalam bahasa Jawanya disebut kepundung atau orang Melayu menyebutnya dengan rambe—adalah sebuah tanaman dengan buah yang bergelayut seperti duku, pohonnya berkulit licin, dan daging buahnya putih keungu-unguan disertai tanda titik-titik bintang di bawah kulitnya seperti pada buah manggis. Itulah gambaran menteng sesungguhnya yang di kawasan Menteng sendiri pohonnya mungkin tidak agi dikenal, boro-boro merasakan buahnya yang terkenal sangat asam. Gambaran semacam itu hanya bisa kita saksikan di buku-buku botani dan karya ilmiah lain yang ilustrasinya dikerjakan oleh orang-orang seperti Djadjat maupun Subari.

Profesi illustrator flora ilmiah atau yang dikenal sebagai scientific illustrator ini memanng profesi langka. Seniman lukis bisa menjamur. Tapi khusus yang mendalami flora inilah mungkin sulit dicari. Cara kerjanya pun berbeda dengan “tukang gambar” lain seperti pelukis ataupun arsitek.

“Yang pasti karya kita harus realis dan obyek yang digambar sudah ada,” papar Subari yang telah bekerja selama 20 tahun di Puslitbang Botani, LBN LIPI. “Jadi, tidak ada gambar yang direka-reka. Malah obyek yang digambar harus memperlihatkan detail seperti duri, bulu-bulu tangkai, hingga ke akarnya,” lanjut Subari.
Sementara Djdjat yang kelahiran tahun 1954 dan telah memiliki dua putri ini mengakui, “Melukis flora harus teliti dan sabar. Bentuk dan ukuran daun misalnya, harus disesuaikan dengan skla di atas kertas. Tidak jarang kita harus menunggu berjam-jam hingga larut malam hanya untuk menggambar pohon yang sedang berbunga,”katanya. Adakalanya untuk satu pohon digambar berulang-ulang, mulai benih hingga menjadi pohon sempurna.

Keduanya, Subari dan Djadjat sebenarnya adalah pelukis otodidak, Djadjat sendiri mengakui bahwa setelah ia masuk menjadi pegawai Kebun Raya Tahun 1975, pertama ia bekerja di bagian anggrek hingga tahun 1986 dan telah melukis bermacam-macam anggrek selama lebih dari sepuluh tahun. Untuk menambah pengetahuannya, Djadjat kursus melukis privat selama enam bulan di tahun 1978. Di samping itu, ia juga mendapat pelatihan dari Mc Ross, illustrator asal Belanda selama Sembilan bulan.

Sedangkan Subari. 40 tahun, mengatakan bahwa ia banyak belajar dari seniornya di Herbarium Bogoriensis dan juga mendapat pelatihan dari illustrator Belanda selama dua tahun. Pekerjaan Subari sendiri kadang melukis ulang koleksi hebarium karena pohon aslinya langka atau malah sudah punah. “Kadang saya membutuhkan mikroskop untuk melihat bagian-bagian paling kecil yang tidak bisa dilihat oleh mata,” papar Subari yang pernah melukis hingga ke hutan Irian ini.
Karya-karya Djadjat maupun Subari telah banyak beredar melalui booklet, skripsi mahasiswa, buku-buku ilmiah, hingga para peneliti mancanegara. Melalui goresan tangan orang seperti mereka ini flora-flora yang kita miliki tersebar dan diwariskan ke anak cucu kelak, meskipun hanya melalui gambar, Teknologi media visual boleh canggih. Tapi tangan manusia punya kelebihan sendiri untuk mengungkapkan rahasia di balik kehidupan tumbuh-tumbuhan.

Leave a Reply

Close Menu