Idola

1999_Maret_Edisi 099_selip:
Idola

Jika di masa lalu, idola adalah para dewa yang dipuja lewat pelbagai bentuk persembahan, maka kini sosoknya berganti rupa menjadi penyanyi legendaries Jim Morison atau di Sexy Marilyn Monroe yang kuburannya masih tetap dilawati dan dikeramati oleh fansnya. Sesuai akar katanya, idealis, maka idola adalah sesuatu yang diidam-idamkan dan disanjung sebab memenuhi impian seseorang-sehingga pemujaan tehadap idola bisa melewati batas akal sehat, bayangkan massa bisa dibuat histeris, menangis, pingsan.

Fenomena idola biasanya tumbuh subur dikalangan remaja, khususnya antara usia 16-18 tahun, yang sedang mengalami transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Lazimnya sebuah transisi, maka masa remaja merupakan masa kritis yang ditandai dengan kelabilan di segi fisik maupun psikologis. Pada sisi fisik, terjadi perubahan yang mendadak, seperti menstruasi dan membesarnya payudara bagi perempuan, atau kalau pria mulai tumbuh jakun dan jenggot. Kalau dari sisi psikologis, Al Bachri Husin, psikiater, direktur Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta mengatakan, bahwa kesadaran untuk mencari citra dan eksistensi diri mulai tumbuh di masa remaja. Disinilah idola berperan sebagai acuan remaja untuk mengidentifikasi dirinya.

Namun menurut Sinta , psikolog dari lembaga Sahaja (Sahabat Remaja), remaja Indonesia masa kini telah kehilangan proses pengolaan jati dirinya. Dalam pencariannya, mereka hanya diajar berpikir untuk bagaimana diterima oleh kelompok, tak ada lagi ritus yang berfungsi memberikan jejak jati dirinya. Yang tersedia adalah ritus menonton televisi, dimana idola disuplai oleh media massa dengan cap trendi dan langsung diimitasi tanpa proses pengolahan yang matang. Di sisi ini, remaja bisa dilihat sebagai korban industri, dimana kondisi psikologisnya dibiarkan labil agar mampu dibentuk menjadi konsumen  setia. Adanya idola yang relatif lebih dekat, yang masih bisa diajak ngobrol, yang betul-betul merepresentasikan gejolak jiwa remaja, seperti Slank, malah mungkin sangat efektif untuk membantu remaja menemukan dirinya sendiri.

Kalau pun media massa sangat kuat mempengaruhi hidup seseorang, maka, sangat menarik jika biografi atau semangat mereka juga diinformasikan sehingga tidak hanya diterima sebatas atribut. Bukankah sosok Idola memiliki sejarah yang bisa diolah untuk membangun keunikan pribadi seseorang, bukan malah menyeragamkan manusia. Sejarah tradisi pun mencatat, bahwa idola bisa diartikan berbeda di setiap bangsa, seperti interpretasi tokoh idola Warok Suromenggolo bisa berbeda di Jawa Timur dengan Jawa Tengah, atau Rahwana dalam cerita Ramayana versi Thailand adalah sosok idola, sementara di India menjadi biang kerok. Hal ini bisa terjadi, karena generasi muda sebuah bangsa telah diajarkan untuk menjalin proses pencarian jati diri, sehingga mampu menentukan sikapnya.

Leave a Reply

Close Menu