hutang

2000_Agustus_Edisi 115_bahas:
hutang
Ade Tanesia/Joni Faizal

Sehabis nonton berita perihal hutang luar negeri Indonesia di televisi, Abram, bocah SD itu dengan spontan berkata…” jadi saya nanti cuma bayarin hutang negara aja yah”,. Memang diperkirakan setiap anak Indonesia yang lahir sudah menanggung hutang negara sekitar Rp. 6.188.000,-. Artinya di masa depan, kita akan melahirkan generasi yang dibebani hutang sehingga kelebihan pendapatan hanya akan dipakai untuk menyaurnya, bukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Ironis memang! Hutang piutang yang pada bangsa-bangsa arkaik muncul untuk membantu kekurangan sesama manusia dan memungkinkan roda kehidupan masyarakat tetap berjalan, sebaliknya juga sebuah jerat yang memperpanjang roda kemiskinan.

Hutang Indonesia itu…
Alangkah malangnya nasib anak negeri yang lahir di negara yang subur, kaya akan sumber daya alam,—konon, tongkat dan kayu pun bisa jadi tanaman-harus menanggung hutang yang tidak pernah ia menikmat sejak lahir. Bayangkan, 200 juta lebih rakyat Indonesia harus memikul hutang luar negeri yang mencapai US$ 144,5 milyar lebih itu. Berarti, setiap orang termasuk bayi yang baru lahir harus menanggung hutang sebesar US$ 722,5 atau sekitar Rp. 5.780.000 (dengan kurs Rp. 8000/US$). Untuk melunasinya maka rakyat Indonesia harus bekerja 24 jam sehari dengan upah sebesar 10 ribu rupiah selama 50 tahun. Itupun kalau hutang luar negerinya tidak bertambah.

Itu baru hitung dari segi uang. Belum lagi rasa malu dan harga diri bangsa yang benar-benar bermuka tebal. Menurut Harian Bisnis Indonesia, terhitung per 30 Juni 1999, Indonesia merupakan pengutang terbesar di Bank Dunia dengan total pinjaman US$ 11, $53 milyar. Berdasarkan laporan tahunan Bank Dunia, Indonesia pada periode 1 Juli 1988 hingga 30 Juni 1999 menyedot sebagian terbesar (9,86%) total pinjaman lembaga tersebut yang mencapai 115,739 milyar, disusul Meksiko US$ 11,116 milyar (9,48%), Cina US$ 8,308 milyar (7,09%). India US$ 7,820 (6,67%), dan Argentina US$ 7,319 (6,24%). Dan yang paling menyakitkan adalah bahwa 30% dari dana pinjaman tersebut dikorupsi oleh pejabat RI yang diakui sendiri oleh Bank Dunia.

Dalam kurun waktu 1994-1999 Indonesia mengalami net transfer negatif alias banyak dana yang masuk ke Bank Dunia sebagai pembayayaran utang ketimbang dana yang diterima Indonesia, yakni US$ 4,391 milyar. Padahal total komitmen Bank Dunia untuk Indonesia dalam lima tahun fiscal itu mencapai US$ 8,257 milyar. Artinya pembayaran hutang Indonesia lebih besar dari pada hutang yang diterimanya.

Beban hutang luar negeri tidak saja akan menghambat pembangunan dan pemulihan ekonomi, namun juga membuat masyarakat semakin miskin dan jauh untuk mencapai kemakmuran. Investasi untuk pendidikan,kesehatan dan lain-lain menjadi tidak ada atau terlalu kecil. Data PBB menunjukkan, kalau saja dana negara-negara miskin (income per kapita US$ 725) yang dipakai untuk membayar hutang dialihkan untuk biaya pendidikan dan kesehatan, maka 7 juta anak dalam satu tahun bisa diselamatkan.

Perlu diketahui juga bahwa setiap dollar atau pound bantuan (hibah) yang masuk ke negara miskin atau berkembang akan kembali dalam bentuk 9 dollar atau pound ke negara maju dalam bentuk pencicilan hutang. Sebenarnya bantuan tersebut tidak lagi membantu negara miskin, karena bantuan dan hutang tersebut ternyata habis dipakai untuk cicilan hutang.

Leave a Reply

Close Menu