Hotel – Hotel Melati …bertaburan di Djogja

1997_akhir Februari_Edisi 063_inap:
Hotel – Hotel Melati …bertaburan di Djogja

Untuk para turis yang ingin mengirit dapat melacak hotel-hotel melati yang berjumlah 220 hotel di Djogjakarta. Apa bedanya dengan hotel berbintang? Fasilitasnya lumayan, tergantung melati 1,2, dan 3, kalau mau yang paling lengkap adalah hotel melati 3. Namun secara umum, setiap kamar setidaknya tersedia fasilitas AC atau kipas angin, kamar mandi diluar kamar, bath tub, water basin, toilet, shower. Di public area hotel, terdapat telepon langsung, telepon intern, taman, tempat parkir, lobby, ruang makan, restoran, ruang konferensi. Pastinya tidak semua hotel melati memenuhi persyaratan diatas. Biasanya para petugas dari dinas pariwisata akan mengadakan peninjauan ke setiap hotel, kemudian mengklarisifikasi hotel tersebut dalam golongan 1, 2, atau 3. Di Djogjakarta sendiri yang paling banyak adalah hotel melati golongan terendah alias nomor 1, sebanyak 190 hotel. Mau yang tarif Rp. 5.000,- sampai Rp. 75.000,- bisa dilacak didua daerah tempat ngumpulnya hotel melati.

Ngumpulnya Hotel Melati di Djogjakarta
Jika lokasi hotel-hotel saling berpencar, lain halnya dengan hotel-hotel melati di Djogja. Di Jakarta kita mengenal daerah di Jl. Jaksa, sementara Djogja memiliki Sosrowijayan dan Prawirotaman, sebagai pusatnya hotel melati. Kedua daerah ini telah tumbuh menjadi bisnis akomodasi yang menawarkan harga miring bagi para turis. Walaupun sama-sama miring, keduanya memiliki sejarah berbeda yang menyebabkan tingkat kemiringannya pun berlainan.

Perkamungan para turis ini berada di Jl. Sosrowijayan dekat Malioboro, dan bisa juga dicapai dari gang-gang tikus yang berada di mulut jalan pasar kembang. Daerah ini telah berkembang menjadi tempatnya para turis asing yang datang dan mencari penginapan dirumah penduduk lokal. Melihat peluang ini, seorang penduduk Sosrowijayan di gang 1 bernama ibu Purwo membuka losmen. Losmennnya diberi nama “Losmen Ibu Purwo”. Sejak itu, para penduduk Sosro mulai mengikuti jejak beliau dengan membuka losmen dan juga ikut-ikutan menami losmennya dengan nama pendirinya, misalnya Dewi Home Stay, Hotel Utar, dll. Pertumbuhan losmen pertama terpusat di gang 1, lalu menjalar di gang 2 sampai di seluruh pinggir jalan Sosrowijayan. Disini kita bisa menginap di losmen seharga Rp. 5000,-. Mau tahu fasilitasnya/ Ambil contoh Dewi Home Stay II yang terletak di gang 2. Setiap pagi, sore sampai malam hari….disediakan teh hangat diruang tengah, ada kamar dengan kamar mandi dalam (harganya sekitar Rp. 9.000,- Rp. 10.000,-), juga disiapkan kamar dengan kamar mandi diuar (ini yang Rp. 5.000,-an). Jika ingin mencuci pakaian, bisa mencuci sendiri dan menjemurnya di loteng. Atau kalau sedang malas, bisa minta tolong pengururs losmen untuk membawakan cucian ke tukang cuci yang juga tinggal disekitar daerah Sosro. Suasana di losmen sangat santai dan kekeluargaan, dalam arti antara tamu bisa saling ngobrol bahkan mungkin saja menjadi teman perjalanan untuk rute berikutnya, entah ke Bromo, Bali atau sampai di Thailand. Untuk losmen-losmen yang bisa menjaga pelayanan dan kebersihannya tidak jarang masuk dalam buku guide luar negeri yang ditulis oleh para traveller atau penulis manca negara.

Seperti apa sih penduduk Sosro sebelum kedatangan para turis? Menurut Mas Bayu, seorang penduduk asli, “dulunya disini yah penduduk biasa-biasa saja, lain dengan daerah Prawirotaman yang sebelumnya tempat bermukim orang kaya atau saudagar”, ujarnya.

Caranya Hotel Mendapat Bintang

Proses pemberian akreditasi :
(a) Pemilik/pengelola hotel mengajukan izin Sementara Usaha Hotel (ISUH) yang dikeluarkan Direktorat Pariwisata c,q Dit. Akomodasi Wisata atau Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM [jika pemiliknya perusahaan PMA atau PMDN]). ISUH ini berlaku selama 3 bulan, setelah disetujui maka dikeluarkan Izin Tetap Usaha Hotel (ITUH). ITUH ini mempunyai masa berlaku yang tak terbatas, sampai pembangunan hotel tersebut selesai.
(b) Pemilik/pengelola hotel diharuskan melakukan soft opening (biasanya setelah 80% pembangunan hotel) dan diberi jangka waktu 3-6 bulan.
(c) Setelah soft opening, pemilik/pengelola diwajibakan mengisi kuisioner yang berisi fasilitas di hotel yang dimiliki. Di dalam kuisioner, yang akan dinilai oleh Dit. Akomodasi Wisata ini tercantum criteria bobot penilaian yaitu: Mutlak, Penting atau disarankan, apabila pemilik ingin mandapat golongan hotelnya. Contoh: Unutk hotel *1, ruang rapat dan televisi di kamar adalah mutlak dimiliki, lalu kolam renang penting untuk dimiliki dan lemari es dalam kamar disarankan dimiliki.
(d) Setelah kuisioner dinilai oleh Dit. Akomodasi Wisata, jika terdapat koreksi berdasarkan bobot penilaian maka pemilik wajib memenuhi kekurangan tersebut. Jangka waktu pemenuhan kekurangan fasilitas itu tergantung pernyataan dari si pemilik / pengelola, misalnya : fasilitas Lemari es kamar di *1, dapat dipenuhi dalam waktu 1 minggu atau menambahkan kekurangan bangunan fisik sehingga memerlukan waktu hampir 1 tahun.
(e) Setelah semua persyaratan telah dipenuhi, maka ditetapkan golongan bintang hotel tersebut.

Mekanisme singkatnya : Hotel — kanwil Depparpostel setempat —-Dit.Akomodasi —kembali ke Hotel

Yang membedakan hotel berbintang ialah : -Fasilitas –Pelayanan – Manajemen

Prawirotamam? Satu lagi pusat perkampungan turis di Djogja yang ternama dibuku turis guide.Daerah ini terletak dimulut jalan Parang Tritis. Dulunya daerah Prawirotomo merupakan pusat industri batik tulis. Pemiliknya adalah kaum keluarga saudagar Djogja asli yang cukup kaya, sehingga rumah-rumah mereka pun “lux” dijamannnya dan berukuran besar. Pasaran untuk batik Prairotaman cukup baik, di jual di pasar, koperasi bahkan menyuplai langganan dari luar kota seperti Temanggung, Medan dll. Namun setelah adanya produksi batik printing dari Solo, pasaran batik tulis pun mengalami kemerosotan. Menghadapi gelagat ini, para saudagar ini membanting stir ke bisnis penginapan.

Awalnya adalah wisma Kirana milik Pak Subardjo di tahun 1976. Ceritanya….beliau menjalin persahabatan dengan orang-orang Belanda. Dari surat menyurat, teman-temannya mengusulkan agar rumah Pak Subardjo bisa dijadikan tempat menginap bagi mereka yang ingin nostalgia ke Djogjakarta. Usul itu pun diterima, dan jadilah satu kamar depan menjadi tempat menginap para sahabat dari negeri Belanda. Waktu bisnis batiknya masih berjalan, sehingga ketika belaiu beralih ke usaha akomodasi sudah terjaring pelanggan-pelanggan dari Belanda. Usaha ini pun diikuti oleh adiknya Pak Sugiyanto dengan mendirikan hotel Airlangga, yang kini menjadi hotel bintang 1. Lalu para sanak saudaranya pun membuka rumahnya menjadi bisnis penginapan, seperti Losmen Sumarjo, Galunggung (anak dari kakaknya Pak Subardjo), Agung Star, Rose Guest House. Sehingga hampir seluruh hotel melati tertua di Prawirotaman usaha masih mempunyai hubungan keluarga. Mereka juga masih family dengan pengusaha batik di Jl. Tirtodipura (dekat Jl. Prawirotaman) yang tetap eksis sampai saat ini, seperti batik Plethong, Rarajongrang. Bahkan antara usaha akomodasi dan batik saling melengkapi, maksudnya sama-sama bisa menjaring turis untuk menginap dan membeli “oleh-oleh” dari Jogja. Semakin mantaplah perkembangan pariwisata didaerah Prawirotaman.

Jika melihat kondisi rumah aslinya, maka hotel-hotel melati di Prawirotaman memang pantas dikenakan harga yang lebih mahal (harganya dari sekitar Rp 20.000,-  sampai Rp. 76.000,-an). Di daeah inipun lebih banyak hotel melati golongan 2 dan 3, misalnya Duta Guest House, Wisma Gajah yang berdiri tahun 1978, dlll. Sedangkan hotel melati 1 adalah Indrapastha dengan harga Rp, 20.000,-an.

Kalau yang bertaburan adalah bintang-bintang, maka di Djogja hotel melati’lah yang bertarburan . Mereka kecil tetapi besar, lebih sederhana tetapi kekeluargaan, dan yang pasti memberi solusi bagi para turis berkocek pas-pas’an. Atau juga incaran bagi para turis yang ingin merasakan “liuran membumi” alias dekat dengan masyarakat.

Sumber:
Buku Panduan Wisata Remaja Yogyakarta, penerbit Dinas Pariwisata Prop. DIY
Haisl wawancara dengan Pak Edi Siswanto dari Wisma Karisma
Hasil wawancara dengan Mas Bayu dari Dewi Home Stay I
Data Statistik jumlah hotel Brbintang Prop, DIY
Petunjuk Hotel, Deparpostel, Direktorat Pariwisata, Proyek Pengembangan Usaha Sarana Parieisata Tahun 1996/1997
Travel Palnner, The Directorat General of Tourism Republic of Indonesia, 1996/1997

Leave a Reply

Close Menu