Hope In A Jar: The Making of America’s Beuty Culture

2000_Januari_Edisi 108_bahas:
Hope In A Jar: The Making of America’s Beuty Culture
Ade Tanesia

Dalam bukunya Hope In A Jar, Kathry Lee Peiss meneliti kultur kecantikan dan kosmetika di Amerika Serikat pada abad 19 dan 20. Peiss menyanggah anggapan yang berkembang saat ini, bahwa industri kecantikan dikuasai kaum pria, dan menjebak wanita dalam sebuah visi sempit tentang “kecantikan,” Peiss menunjukkan bahwa industri kecantikan, terutama di rentang tahun 1890-1920, hampir semuanya dijalankan oleh wanita; wanita memiliki perusahaan kosmetik, wanita menjadi operator kecantikan yang membuka lapangan pekerjaan untuk sesamanya.

Buku ini disusun dengan sistematis, pertama Peiss mendiskusikan tipe kosmetik yang dipakai wanita di abad ke-19. Banyak wanita yang membuat bedak sendiri, salep dari resep-resep alam. Sementara pada masa sebelum canggihnya infrastruktur, sudah ada perbedaan estetika wanita kulit hitam dan putih. Namun periklanan memanfaatkan warna putih untuk mewakili kemurnian dan warna hitam untuk kekotoran atau ketidak murnian. Peiss kemudian membeberkan istilah “golden age,” saat kaum wanita mulai memproduksi kosmetik dan menjualnya. Pada bab lainnya, Peiss juga mendiskusikan mengenai wanita kult hitam, ia memang menaruh perhatian pada ras dan standar kecantikan yang berbeda. Jika kulit berminyak dan pucat menjadi warna kulit yang diinginkan, maka jalan keluar bagi wanita kulit putih ada sederetan bedak, cat dan zat pemutih. Namun apa yang harus dipakai wanita kulit hitam? Peiss meneliti produk-produk untuk rambut dan kulit yang dipasarkan untuk wanita kulit hitam. Dua perusahaan terbesar dalam masyarakat kulit hitam tidaklah menjual pengikat rambut dan pemutih kulit.

Pada tahun 1920-an, strategi penjualan kosmetik dialihka ke toko-toko obat, dan anehnya kaum wanita mulai disingkirkan dari produksi serta bergeser ke perusahaan periklanan dan ditugasi “menjual” produk tersebut. Dari sensus dan data produksi terlihat jelas bahwa penjualan kosmetik meningkat dari ratusan ribu di tahun 1900-an menjadi ratusan juta dollar di tahun 1920-an. Peningkatan ini disebabkan oleh bertumbuhnya industri periklanan, majalah dan sinema. Jika pada abad ke-19, system promosi dilakukan melalui tukang promosi keliling (peddler), maka di awal abad ke-20 agen-agen periklanan modern bermunculan. Disamping itu, juga ada perubahan dalam konsep belanja, yang telah bergeser dari aktifitas fungsional menjadi bentuk kegiatan bersenang-senang. Seperti menghadiri matinee (pertunjukan siang), makan di restoran, pergi ke salon, merupakan gaya hidup baru yang menunjukkan status sosial seseorang.  Faktor peru-bahan gaya hidup ini telah memacu kenaikan industri kosmetik di Amerika.

Banyak para ahli sejarah yang mengatakan bahwa Hope In A Jar merupakan buku komprehensif pertama di Amerika Serikat dalam 50 tahun terakhir. Kita diberikan sajian Informasi menarik mengenai kewirasastaan kaum wanita, pekerjaanya dan pembuatan keputusan di kahir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Close Menu