hip hop

hip hop

2001_Januari_Edisi 120_gaya:
hip hop
Ade Tanesia

….does not avoid errors; it makes them, mimics them!
Seorang Madonna pun tak mau ketinggalan bergaya hip hop. Dalam video klipnya berjudul “Music”, dengan sengaja nuansa budaya hip hop dikemas. “aku akan menampilkan gaya ghetto”, ungkapnya. Gaya jalanan paling mutakhir ini juga diekplorasi dalam film “Shaft” yang seluruh kostumnya diinspirasi oleh fesyen hip hop. Di Indonesia sendiri, hip hop tak pernah lenyap walaupun salah satu unsurnya, break dance, sempat dilarang di masa pemerintah orde baru.

“Hiphop is the true imperfect art”, ungkap Charles Mudede, seorang dosen sastra dari Seattle. Di tengah budaya yang hipokrit inilah sebuah gaya dari komunitas jalanan New York yang merayakan “distorsi atau kesalahan”. Budaya Hip Hop mulai muncul di kalangan anak muda kawasan kumuh South Bronx di New York sekitar tahun 1970-an. Sebuah kawasan miskin yang dihuni oleh keturunan Afro- Amerika dan Hispanik. Saat itu status New York yang ingin dikokohkan menjadi pusat perputaran modal dunia dan layanan informasi telah membuat kaum miskin kota semakin terpuruk, Banyak kawasan yang dirubah menjadi pemukiman mewah, lapangan kerja semakin sempit akibat pergantian proses produksi dengan teknologi tercanggih, serta adanya kebijakan pemerintah untuk memotong uang jaminan sosial telah memperparah kondisi kaum miskin. Antara tahun 1978-1986, 20% dari keluarga Hispanik dan 25% keluarga Afro-Amerika hidup di bawah garis kemiskinan. Akibatnya mereka hidup dalam pemukiman padat yang tidak sehat, bahkan mulai muncul orang-orang yang tidak mempunyai rumah. Kondisi ini telah membuat kawasan miskin ini menjadi sarang kejahatan, sarang penjualan obat bius, dan sarang segala sesuatu yang dianggap “sampah”. Tidak aneh jika kawasan tersebut bercitra seram, rawan dan barbar.

Himpitan semacam ini telah melahirkan rasa keterasingan, kemarahan, kecemburuan sosial di tengah kehidupan kota modern. Seluruh pengalaman frustasi inilah yang telah melahirkan bentuk ekspresi unik yang merayakan citra buruk dan jorok ini. “Kalau kami dikatakan sampah, jorok, barbar…so what? Mari kita berpesta tentang semua” demikian semangat anak-anak muda di kawasan Bronx New York ini. Mereka mengolahnya, memainkannya, mencampur segala kebisingan kota, pembicaraan di subway, kejahatan di jalan, kemiskinannya menjadi sebuah musik, menjadi sebuah lukisan, menjadi apapun. Kemudian kita kenal musik rap atau “MCing”, lukisan graffiti atau disebut “graf” dan “writing”, “B-boying” yang merujuk pada gerak hip hop, gaya dan sikap serta bahasa tubuh yang jantan, gaya berpakaian gombrong dengan kaos atau jaket lengan panjang serta celana panjang yang kebesaran. Dan tidak ketinggalan penutup kepala dari kaos yang mirip pendaki gunung. Kesan yang muncul dari mode Hip Hop adalah gaya sportif.

Dan kemunculannya di tahun 1970-an, baru pada tahun 1980-1990-an, produk kebudayaan Hip Hop mencapai puncak popularitasnya dan menjadi mode bagi berbagai kalangan masyarakat. Seperti budaya resistensi lainnya punk, reggae, mood, hip hop pun berkembang menjadi komoditi industri musik, fesyen yang menghasilkan begitu banyak uang. Sementara komunitas Bronx, sebagai pemilik budaya Hip Hop, tetap saja miskin. Ironis memang.

Sambil menenteng cat semprot (spray), anak-anak muda dari kawasan Bronx, Queens dan Broklyn, menyuruk-nyuruk di tengah kegelapan sambil mencoret-coret dinding KA bawah tanah. Deejay hip pertama yang terkenal adalah DJK Kool Herc (Clive Campbell), imigran usia 18 tahun. Dengan dua turntab,e dia mencampur-adukkan potongan-potongan dentam perkusi dari piringan musik lama dengan lagu-lagu dance populer dan menghasilkan aliran musik tanpa jeda. Lirik musik rap pertama diambil dari kisaj-kisah epik bangsa Afrika Barat, lirik-lirik lagu blues, jailhouse toast (pusisi panjang yang mengisahkan tentang keanehan niatan dan perbuatan jahat) serta the dozens (ritual permainan berbalas kata yang dikembangkan dari aksi berbalas makian atau penghinaan antara anggota keluarga yang sedang bermusuhan).

Leave a Reply

Close Menu