Harimau Sumatera Terancam Punah

2000_Januari_Edisi 108_bahas:
Harimau Sumatera Terancam Punah
Kerabat WWF

Indonesia memiliki 3 dari 8 seluruh anak jenis harimau yang telah diketahui yaitu; Harimau Bali (Panthera Tigris Balica), Harimau Jawa (Panthera Tigris Sondaica) dan Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae). Saat ini Harimau Sumatera merupakan satu-satunya anak jenis harimau yang masih mampu bertahan hidup, setelah Harimau Jawa dan Harimau Bali dinyatakan punah.Sayangnya, populasi Harimau Sumatera juga berada dalam keadaan terancam yang terutama disebabkan oleh; semakin mengecilnya luas habitat, rusaknya habitat dan meningkatnya kegiatan perburuan. Pada tahun 80-an, kerusakan habitat merupakan masalah utama terhadap keberadaan seluruh jenis harimau di dunia, termausk Harimau Sumatera, sementara pada tahun 90-an perburuanlah yang menjadi masalah utama kelestarian jenis-jenis harimau. Masyarakat pada umumnya juga menganggap Hariamu Sumatera sebagai satwa yang sangat berbahaya  dan merupakan ancaman bagi hewan ternak. Hal ini tentu saja menambah tekanan terhadap keberadaan Harimau Sumatera.

Populasi Harimau Sumatera terus mengalami penurunan. Menurut hasil survey yang dilakukan pada tahun 1972 samapi 1975 dan tahun 1978 diperkirakan masih terdapat sekitar 1000 ekor Harimau Sumatera yang hidup tersebar di seluruh propinsi di Sumatera. Akan tetapi, pada tahun 1992 populasi Harimau Sumatera diperkirakan haya tinggal 400 ekor dan tersebar pada tujuh kawasan penting si Sumatera yaitu: Taman Nasional Gunung Leuser, TN. Kerinci Seblat, TN. Berbak, TN. Bukit Barisan Selatan, Cagar Alam Kerumutan dan CA. Rimbang. Pada tahun yang sama diperkirakan juga terdapat 100 Hariamau Sumatera yang hidup pada habitat yang telah rusak dan memiliki peluang relatif kecil untuk dapat bertahan hidup.

Harimau Sumatera diburu terutama untuk diperdagangkan tulangnya dan diambil kulitnya untuk dijadikan hiasan. Tulang harimau biasnaya diperdagangkan secara gelap untuk memasok pembuatan obat tradisional China (TCM) misalnya di Taiwan dan Korea Selatan. Harga kulit harimau yang terus meningkat akibat semakin sulitnya untuk memperoleh Harimau Sumatera membuat anggota keluarga kucing besar ini tetap menjadi target utama sebagai satwa buruan. Beberapa bagian tubuh harimau seperti taring, kumis, kuku dan potongan kulit (terutama kulit di bagian kening kepala) oleh sebagian besar masyarakat diyakini memiliki kekuatan magis yang daapat dipergunakan unutk tujuan tertentu. Permintaan domestik produk harimau ini juga merupakan pemicu meningkatnya perburuan Hariamu Sumatera.

66 ekor terbunuh dalam dua tahun
Harimau Sumatera terus diburu baik untuk diperdagangkan, maupun diburu karena dianggap telah mengganggu hewan ternak dan mengganggu ketentraman masyarakat. Menurut penelitian periode 1988 – 1992, diperkirakan tidak kurang dari 5 ekor telah diburu setiap tahun dari populasi alamnya. Dari hasil survey yang dilakukan pada tahun 1995 terhadap 88 pengecer produk, harimau yang terdiri dari toko emas, toko obat impor dan toko cendera mata diperkirakan paling sedikit 5 ekor Harimau Sumatera telah terbunuh.

WWF Indonesia bekerja sama dengan LSM-LSM di Sumatera melakukan monitoring perdagangan Harimau Sumatera mulai tahun 1998 di seluruh propinsi di Sumatera, kecuali Aceh dan Sumatera Utara. Dari hasil investigasi diketahui sedikitnya 66 ekor Harimau Sumatera telah terbunuh dalam dua tahun terakhir (1998 – 1999). Perburuan ini terjadi di beberapa propinsi antara lain Sumatera Barat (9 ekor), Jambi (5 ekor), Riau (13 ekor), Bengkulu (9 ekor) dan Lampung (30 ekor). Dari seluruh Harimau Sumatera yang terbunuh, 37 diantaranya diburu dari beberapa taman nasional di Sumatera, sementara sisanya diburu di kawasan hutan dekat pemukiman dan kawasan yang umumnya tidak terlalu jauh dari populai Harimau Sumatera di belahan Tengah dan Selatan di belahan Tengah dan Selatan pulau Sumatera.

Ancaman Kepunahan
Di Indoneisa penjualan produk Harimau Sumatera seperti kulit, taring, kuku, kumis dan bagian tulang tertentu dilakukan secara terbuka dan bebas. Beberapa tempat yang biasanya menjual produk Harimau Sumatera antara lain, toko emas, toko cendera mata dan toko batu permata. Beberapa toko emas di Jambi, biasanya menjual kuku harimau dengan harga yang sudah termasuk dengan harga emas uang mengikatnya dan umumnya dipergunakan untuk hiasan kalung.

Sebagai satwa yang dilindungi, memperdagangkan Hariamau Sumatera dalam keadaan hidup maupun mati, termasuk bagian-bagian tubuhnya sudah merupakan perbuatan melanggar hukum dan kepada pelakunya dapat dikenakan sanksi. Dengan adanya penjualan bebas produk Harimau Sumatera ini, maka secara tidak langsung pasar untuk barang-barang tersebut tetap terbuka sehingga perburuannya diperkirakan akan terus berlangsung. Tentu saja hal ini merupakan salah satu ancaman yang cukup besar terhadap kelestarian Harimau Sumatera.

Ancaman lain terhadap Harimau Sumatera adalah semakin mengecilnya habitat akibat adanya konversi hutan untuk peruntukan lain, mislanya HTI dan perkebunan. Konversi hutan ini tentu saja dapat mempercepat laju kepunahan Harimau Sumatera, di samping perburuan. Sampai dengan Januari 1999 sebanyak 7-4 juta Ha hutan alam telah dikonversi untuk pembangunan HTI di Indonesia yang diberikan kepada 161 perusahaan, termasuk beberapa perusahaan di Sumatera.

Peburuan Hariamau Sumatera masih terus berlangsung hingga saat ini baik dengan menggunakan jerat kawat baja, lubang jabakan, racun dan senapan locok. Harimau yang telah memasuki kampung atau membunuh hewan ternak sebagian besar dapat dipastikan akan berakhir dengan kematian. Rantai perdagangan produk harimau yang melibatkan berbagai pihak mulai dari pemburu hingga eksportir diketahui hingga saat ini masih aktif melakukan kegiatannya. Oleh karena itu tindakan nyata melalui penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang terlibat perburuan dan perdagangannya mutlak diperlukan. Jika tidak, bukan mustahil dalam waktu 1 – 2 dekade ke depan populasi liar Hariamu Sumatera akan mengalami kepunahan.

Pencegahan Harimau Sumatera dari kepunahan dapat dilakukan dengan meningkatkan kerjasama yang lebih efektif antara pemerintah (termsuk seluruh instansi terkait dan parat penegak hukum, masyarakat luas, LSM (nasional maupun internasional) serta media massa. Masyarakat juga dapat berpartisipasi secara nyata untuk mencegah kepunahan Harimau Sumatera dengan cara tidak membeli dan menggunakan produk-produk harimau untuk berbagai keperluan. Semoga auman si raja rimba terakhir yang kita miliki ini masih dapat terdengar dari belantara Sumatera.

Leave a Reply

Close Menu