Harga sebuah dongeng

1998_Mei_Edisi 090_peduli:
Harga sebuah dongeng

Pada suatu hari….
Hiduplah seorang nelayan bersama seekor anjing hitamnya. Nelayan itu begitu marah ketika mendapati ikan yang baru saja ia dapatkan hanya tinggal tulang. Karena tidak ada orang lain, anjing hitam itu mejadi sasaran kemarahannya. Keesokan harinya ia mendapati seekor ikan lagi. Tapi tiba-tiba ikan itu lenyap. Ternyata ikan terakhir ini merupakan penjelmaan seorang Putri. Dengan perjanjian bahwa sang nelayan tidak akan berkata kasar. Putri yang jelita ini mau mengabdi untuk nelayan. Pada suatu hari ketika mereka telah dikaruni seorang bocah, sang nelayan merasa tidak sabar menunggu makanan yang dikirimkan melalui anaknya. Maka keluarlah perkataan kasar dari sang Nelayan kepada anak yang terlambat membawa makanan itu. “Dasar anak ikan!” kata nelayan itu pada anaknya. Perkataan ini didengar istrinya. Terang saja perkataan ini menyinggung sang Putri dan sekaligus pelanggaran janji oleh nelayan. Sang Putri dan anaknya berubah jadi ikan kembali. Lalu datanglah banjir besar yang menelan neleyan dan anjing hitamnya…

Demikian kira-kira cuplikan dongeng yang keluar lewat gagang telpon dari “kotak dongeng” di Istana Anak-anak. Taman Mini Indonesia Indah. Dengan sebuah koin seharga 300 rupiah, anak-anak dapat memilih salah satu dongeng yang mereka sukai. Misalnya untuk mendengarkan dongeng Jaka Tarub, mereka harus memasukkan koin di kotak yang bergambar Joko Tarub. Demikian juga dengan dongeng lain. Ada sekitar 25 kotak yang berada di ruangan itu. Semuanya merupakan dongeng yang populer di Nusantara. Dari dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih, Lutung Kasarung, Dewi Sri, Ken Arok dan Ken Dedes, Malin Kundang, Timun Mas, Sangkuriang sampai dongeng tentang terjadinya Danau Toba dia atas tadi. Satu-satunya kotak yang bukan dongeng mungkin adalah yang bergambar Tugu Monas. Karena merupakan kisah sejarah tentang berdirinya tugu yang menjadi kebanggaan warga Jakarta itu.

Bagi anak-anak, dongeng tiga ratusan itu tidak lebih sebagai pemuas rasa penasaran mereka terhadap “kotak ajaib” tersebut. Apalagi dikotak itu terdapat gambar yang memberikan citra kepada mereka bahwa Jaka Tarub itu adalah laki-laki perkasa yang telanjang dada. Sementara Nawang Wulan adalah Dewi Khayangan dengan dada menyembul seperti gambar yang Nampak dikotaknya. Terbukti, Lilik, bocah kelas 5 SD 08 Pagi ketika ditanya [aikon!] tentang dongeng yang baru saja ia dengarkan hanya menjawab gelengan. Dan ketika [aikon!] memasukkan koin  ke kotak yag baru saja di dengar oleh Lilik, ternyata yang terdengar hanya suara seruling sebagai latar cerita itu, sedang ceritanya sendiri terdengar lamat-lamat, berisik seperti radio salah gelombang.

Lain lagi dengan Pak Hasibuan, 62 tahun, asal Medan yang berlibur ke TMII bersama keluarganya. Meskipun berasal dari daerah Sumatera Utara, dia memilih cerita Danau Toba bukan karena ingin tahu ceritanya. Justru ia penasaran karena merasa memiliki cerita Danau Toba yang telah melegenda itu. “Puas-puas!” katanya setelah mendengar dongeng asal-usul danau yang mengelilingi Pulau Samosir tersebut. Tentu saja kepuasan Pak Hasibuan berbeda dengan kepuasan Lilik atau anak-anak lain yang sebayanya. Soalnya, anak-anak seusia Lilik belum dapat menangkap ceria secepat Pak Hasibuan. Apalagi suara narator yang bercerita lewat kaset yang direkayasa dengan semacam mesin vending tersebut tak beda dengan kecepatan pembacaan narasi iklan. Sayang, dongeng menarik itu harus berakhir dalam satu koin alias 3 menit, sebelum sang anak sempat bertanya, “Di manakah Malinkundang sekarang?”

Nyi Roro Kidul, dongeng paling laris.
Sejak cerita Ratu Pantai Selatan di sinetronkan, dongeng Nyi Roro Kidul adalah penghasil koin terbanyak diantara dongeng-dongeng yang ada di ruang dongeng Istana Anak-anak TMII. Hal ini diakui sendiri oleh Indah dan Lia, petugas dari PT. Harco yang merupakan pengelola telpon dongeng tersebut. Tidak saja anak-anak yang menyukai cerita Nyi Roro Kidul, katanya, tidak jarang remaja dan orang tua juga merapatkan telinga mereka di depan box yang bergambar Ratu Pantai Selatan itu. Cerita lainnya yang juga laris adalah Bawang Merah dan bawang Putih. Mungkin karena cerita ini lebih memihak pada anak-anak dan tidak sedewasa cerita Jaka Tarub dan Sangkuriang. Atau mungkin karena cerita ini punya happy ending dan tidak setragis cerita Malin Kundang, Asal-usul Danau Toba, Sangkuriang, Jaka Tarub atau Roro Jonggrang. Entahlah yang pasti dongeng sekarang menjadi barnag yang mahal bagi anak-anak. Dan ketika koin terakhir habis, anak-anak itu—seperti Jaka Tarub kehilangan Nawang Wulan – hanya terperangah.

Akhirnya…

Sumber: Ngobrol dengan pengunjung Istana Anak-anak TMII dan mbak Indah dan Lia dari PT. Harco di stand Telpon Dongeng TMII

Leave a Reply

Close Menu