Gosip & wanita …

1998_September_Edisi 094_selip:
Gosip & wanita ….

Bahwa gosip merupakan praktek buang waktu kaum wanita sudah menjadi stereotip yang hinggap di benak awam. Tentunya banyak wanita yang menolak anggapan ini, karena gosip masih dilihat sebagai kebiasaan negatif yang ditumpahkan kebobrokannya ke wanita. Juga banyak wanita yang menentang penjualan stereotip ini lewat bisnis media massa. Namun ada sebuah analisa menarik dari Siti Kusujiarti yang menjelaskan bahwa kegiatan gosip di kalangan wanita Jawa merupakan akibat dari rasa tertekan mereka yang melulu ditempatkan pada posisi sekunder daam norma-norma masyarakatnya yang dominan. Berbagai kepatuhan yang harus dijalankan demi mengikuti keinginan masyarakat dibongkar melalui gosip. Disinilah perbincangan tersembunyi [atau transkip tersembunyi] antar wanita muncul di pertemuan informasi seperti arisan. Disanalah berbagai kesulitan ekonomi, sekolah anak, perlakuan suami merebak. Misalnya, seorang ibu yang dalam suatu arisan mengemukakan bahwa suaminya sangat ketat dalam hal keuangan, sehingga ia sulit mengatur keperluan rumah tangga yang kini harganya semakin bengkak. Para ibu yang lain langsung bereaksi bahwa wanita haruslah kompak, saling membantu, dapat cari nafkah sendiri sehingga tidak terlalu tergantung suami, dan lain-lain. Di arena inilah, gosip menemukan bentuknya sebagai siasat perlawanan para wanita.

Tahu tidak nama “Koran kuning” atau “Yellow Press” yang sering dititikan sebagai Koran gosip pada awalnya dibuat untuk menekan kaum urban Jepang dan Cina di Amerika isi beritanya selalu penuh hasutan, berbau rasialis dan menentang pendatang baru di tanah Amerika. Sebutan “kuning” sebenarnya untuk mengatakan warna kulit kaum pendatang tersebut, bukan untuk sensasi sebagaimana yang berkembang selama ini !

­­­­

Leave a Reply

Close Menu