Gosip seni rupa : uang dan seni

1998_September_Edisi 094_infoseni:
Gosip seni rupa : uang dan seni

Baru beberapa minggu yang lalu, seorang teman kedatangan kolektor dari Bandung. Hampir 25 lukisannya seharga Rp. 1 juta sampai Rp. 2,5 juta rupiah laku terjual. Kemudian ia pun bertanya, “Apakah ini sebuah karunia atau cobaan ?”. Di tengah krisis yang semakin absurd ini, bisnis seni rupa tampaknya tetap marak. Menurut sebuah sumber, kini ada tiga kolektor besar yang bersaing untuk memperoleh sebanyak-banyaknya karya perupa menjadi ajang perebutan mereka. Sempat juga tersiar tentang sistem ijon, karyanya belum jadi tapi sudah dibeli. Seorang teman mengatakan dengan nada sinis, kalau ada kolektor datang ke pameran, langsung saja dihormati seperti dewa. Ada pula seorang seniman yang dengan sedih mengatakan, “Untuk apa karya dibeli banyak, kalau hanya dibiarkan berdebu, tidak dipelihara oleh galeri ?

Yang namanya kekuatan modal tidak pandang bulu. Bahkan karya seni rupa yang bertema keperpihakan pada rakyat pun tidak jelas dari jeratannya. Seorang kolektor muda datang dan bertanya: “Apakah ada karya yang setipe dengan Agus Suwage ?”. Tiba-tiba sebuah tema yang seakan sarat komitmen kaos semirip C59 atau Gagadu yang sedang trend? Dan yang terjadi adalah “kehilangan esensinya sebagai kritik”, mengutip tulisan Alex Supartono di Media Kerja Budaya. Sehingga jangan terlalu kecewa jika sulit sekali muncul gerakan-gerakan kesenian yang mengakar pada komitmen sosial seperti seni rupa di era kemerdekaan dan orde lama. Dan tak perlu terlampau mencari-cari format komitmen sosial hanya lewat opini atau pendapat, karena komitmen sosial adalah praktek bukan modus pembentukan “image” lewat bahasa yang ujung-ujungnya juga modal.

Kalau memang logika dagang sungguh merasuk dalam dunia ini, sekalian saja seniman seni saat ini, sekaligus tahu bernegosiasi yang seimbang. Karena seringkali ketika ditanya akan dikemanakan karya-karya itu dan akan dijual berapa lagi, mereka akan bilang: “Itu bukan urusan seniman!:. Mirip seperti nasib buruh, ketika harga sebuah produk dilempar ke pasaran dengan harga tinggi berkali-kali lipat dari upahnya per-hari? Atau pemilik galeri seringkali tidak mengijinkan perupanya kontak langsung dengan permbeli karyanya, “takut harga jatuh”. Padahal banyak seniman ingin tahu nasib karyanya. Bahkan ada seorang perupa yang membeli kembali karya-karya kesayangannya dari tangan kolektor – yang sempat dijual terpaksa ketika kekurangan duit. Pertanyaan teman tadi muncul kembali, “Apakah ini karunia atau cobaan?”.

Sumber: Supartono, Alex”komitmen Sosial Seniman”. Media Kerja Budaya : Maret 1998 TIM.MKB. “Dagang Kesenian di Akhir Abad”. Media Kerja Budaya: Oktober 1997

Leave a Reply

Close Menu