Gelandangan salah siapa?

1997_akhir Juli_Edisi 073_peduli:
Gelandangan salah siapa?

Measure, yang berperan sebagai dokter muda, dihadapkan pada sebuah pilihan yang sulit. Mendukung kegiatan Gene Hackman, yang tengah melakukan penelitian untuk mencari obat bagi para penderita lumpuh, atau menentang kegiatan tersebut. Sepintas, tidak terlihat masalah dari pilihan tersebut kalau saja tidak melibatkan nyawa para gelandangan, yang “dipaksa” untuk menjadi kelinci percobaa. “Mereka (para gelandangan) akan menjadi pahlawan. Hidup mereka akan lebih berarti daripada sekedar menjadi orang-orang tidak beruntung dan tanpa harapan, “kilah Gene Hackman pada bagian akhir film tersebut.

Nasib gelandangan di mana pun saja sama. Ada banyak ketidak beruntungan yang terpaksa atau bahkan dipaksakan untuk menjadi nasib mereka. Sampai di sini tidak akan banyak perbedaan pendapat yang akan kita dengar. Hampir semua orang sepakat bahwa keberadaan mereka adalah cermin berbagai kegagalan. Tapi, ketika kita sampai pada pertanyaan “siapa yang bertanggung jawab atas nasib mereka?”, berbagai perbedaan pendapat pun muncul serentak.

Sebagian pihak berpendapat bahwa ketidak berhasilan mereka menikmati pembangunan adalah akibat dari kurangnya keinginan mereka untuk bekerja keras. Sebagian pihak lain berpendapat bahwa kesempatan untuk menikmati nasib baik ternyata tidak pernah diberikan secara merata. Ada pula yang berpendapat bahwa pranata keluarga yang tidak berfungsi adalah penyebab utama dari lahirnya para gelandangan. Memang, selalu saja ada alasan untuk berkilah dari tanggung jawab. Bahkan, para gelandangan pun kadang merasa bahwa nasib buruk tersebut bukanlah tanggung jawab mereka.

Sibuk mencari pihak yang bertanggung jawab, nampaknya hanya akan menunda perbaikan nasib para gelandangan. Tidak ada yang memulai. Tidak ada yang bergerak. Tidak akan ada yang berubah.

Veteran Perang Jalanan
Sejak tahun 1980, Amerika Serikat mengalami kenaikan jumlah penduduk tanpa rumah untuk berlindung. Sebab musababnya sangat beragam, menaiknya jumlah usia remaja pria dan wanita, remaja yang lari dari rumah, pengangguran, pemotongan biaya untuk program pelayanan sosial dan yang muncul terakhir adalah pelayanan untuk para veteran militer USA. Seharusnya militer Amerika memberikan tanggungan sosial dalam jangka panjang. Menyediakan fasilitas pengobatan, penyewaan rumah, pensiun yang cukup. Rupanya kenyataan tidak berbicara demikian. Para veteran perang Vietnam banyak yang tinggal di kamp-kamp isolasi perkayuan di Florida dekat Miami. Kerap ditemui tubuh seorang pria disepanjang jalan yang kemudian diketahui berstatus veteran perang. Seperti halnya lagu “Soldier of Misfortune”, sungguh mengenaskan nasib para pahlawan Amerika ini.

Veteran jalanan ini biasanya berasal dari keluarag buruh pabrik dan berpendidikan rendah, tidak tamat SMA. Ada juga yang memang tidak lagi mengurus dirinya sendiri karena masalah kejiwaan akibat perang. Tidak sedikit para veteran yang menjadi gila karena tidak siap menghadapi kekerasan perang. Selain itu terdapat macam-macam alasan untuk berangkat perang. Misalnya ada yang masuk militer karena ayah tirinya telah mengusir dia dari rumah, atau masuk militer untuk mengatasi masalah yang sekarang dialaminya yaitu tidak punya rumah.

Militer USA sebenarnya memberikan pelatihan kerja bagi para veteran perang, misalnya pengetahuan akan tekhnik komputer mekanik pesawat, konstruksi bangunan, dll. Namun tidak semua pelatihan itu lalu tersedia lapangan kerjanya. Ataupun jika suatu keahlian sudah dikuasai dan bisa masuk kerja, seringkali terjadi pemecatan yang menyebabkan pengangguran dan kembali hidup luntang lantung. Misalnya seorang veteran menjadi gelandangan karena di PHK dari kantor kapal di Seattle. Lalu ia pergi ke Texas untuk mencari pekerjaan lain, dan selama itu ia mendapatkan makan dari program untuk kaum gembel. Akhirnya ia menghabiskan waktunya didalam box tua sebuah truk. Seorang veteran pernah berkata “Mereka, Departemen Pertahanan USA, tidak berbohong, hanya mereka telah memberikan harapan yang terlalu indah untuk para veteran”. Dan solusinya hanya sebuah peringatan, kalau pemerintah masih berharap pemuda bangsanya maju ke laga perang yang lain, mereka harus memberesi dulu persoalan tanggungan sosialnya dijangka panjang”, ujar veteran Vietnam.

Langitku rumahku
Lebih dari sebuah judul film, ungkapan ini merupakan kenyataan sehari-hari yang dijalani para Tekyan Girli di Djogjakarta. Sama halnya seperti label “mahasiswa” atau “pegawai”, Tekyan Girli adalah sebutan untuk suatu komunitas yaitu anak-anak jalanan. Kalaupun ada bedanya, keberadaan mereka telah dianonimkan oleh masyarakat pada umumnya. Dan akses mereka untuk mencapai kebutuhannya sebagai manusia telah dipotong-potong lebih dahulu. Bahkan ada seorang Tekyan yang meninggal dunia dan tidak dapat dikubur di sebuah kampung. Atau ketika menikah hanya bisa disahkan KUA, itu pun dengan catatan anak yang akan lahir hanya bisa diakui sebagai anak ibunya. Lalu apa bedanya dengan anak haram?

Adalah LPS Humana yang sejak tahun 1982 sudah berkawan akrab dengan tekyan. Karena berteman, maka mereka cukup mengerti keinginan-keinginan para tekyan. Siapa sih yang tidak ingin punya rumah, tidak harus terus menerus menahan lapar, atau siapa yang ingin terus menerus dilecehkan orang lain. Namun masyarakat telah berburu dibekali pandangan negative terhadap para tekyan. Liar, maling, copet, kotor, seks bebas sudah menjadi cap-cap paten yang distempel masyarakat terhadap mereka. Sehingga mereka mencoba mengontrak rumah untuk perhentian agar ada kata “pulang” dalam benaknya, penduduk kampung sudah lebih dulu menolak keberadaannya

Walhasil, usaha menyatu dengan lingkungan kampung dianggap selesai saja. Para tekyan pun berusaha mendekorasi “langit-langit rumahnya” dengan mitos-mitos anak jalanan, agar mereka cukup yakin bahwa ruang hidupnya memang enak untuk dijalani. Tidak jarang bahasa humor satir muncul dalam komunitas mereka, seperti “kere kok mangan nganggo piring (kere kok makan pakai piring), kere kok seneng wong ayu, kere jatahe lonte”. Atau membuat upacara-upacara khas semisal “menjadi orang jalanan harus bo’ol duluan”. Seringkali mimpi-mimpi ketika mereka masih tinggal dengan orang tuanya muncul kembali, biasanya di bulan Ramadhan ketika banyak ornag pulang kampung. Menghadapi ha ini tentunya ada kesedihan, tapi dengan gesit mereka menciptakan mitos baru untuk menghibur diri.

Tanpa henti LPS Human tetap menjalin persahabatan dengan menjadikan siapa lebih tinggi dan rendah. Tekyan itu bukan sosok yang rendah. Tekyan bersih dll. Saat dalam kandungan itu tidak ada Tekyan, karena kebetulan ibu kita itu buka ibu Edi Tanzil maka kita ditekyankan”, tegas Mas Didid, pemimpin LPS Humana di seri buku Jejal. Dengan menghormati bahwa kita berbeda tetapi sejajar, secara tidak langsung. LPS Humana telah menanamkan kepercayaan diri dalam pribadi-pribadi para Tekyan Girli. Jika biasanya sebuah LSM menekankan bantuan ekonomi, LPS Humana membuka akses bahwa Tekyan itu tidak lebih rendah dibanding kelompok masyarakat lainnya. Kalau tekyan tidak bisa memiliki KTP, maka dibuatlah kartu Girli yang memungkinkan para tekyan menabung di Bank, mendapat pengobatan gratis dibeberapa dokter atau tidak sembarangan digaruk aparat keamanan. Kalau para tekyam ingin membuat sebuah media, maka LPS Humana pun membantu serial buku bernama jejal yang sudah berjalan 4 tahun. Semua isi buku ini ditangani oleh para tekyan girli, bahkan catatan harian seorang tekyan bernama Heri Bongkok sudah dibukukan. Dengan media jejal, kehidupan tekyan yang biasanya bergulir begitu saja, kini mempunyai perhentin waktu. Misalnya ada waktu deadline penyerahan tulisan, cetak distribusi. Suatu rutin kerja yang membangkitkan kesadaran akan arti hidup, dan memang hidup mereka tidak berbeda dengan orang lain, hanya berlainan kegiatan saja. Dengan cara ini lambat laun para tekyan girli tidak lagi anonym di mata awam, peragaulan pun bertambah luas dari berbagai kelompok masyarakat yang mau belajar menghargai perbedaan. Mereka ada, dibawah langit-langit rumah penciptanya.

Sumber
Robertson J. Marjorie. Homeless veterans, an emerging problem, dalam “The homeless in contemporary society”. Cornell : 1991
Hasil wawancara dengan A. Didid Adidananta, pemimpin umum LPS Humana

Leave a Reply

Close Menu