Gaya hidoep kaoem terpelajar tempo doeloe

1999_April_Edisi 100_milikita:
Gaya hidoep kaoem terpelajar tempo doeloe
Nurani Juliastuti

Waktu itu tahun 1901. Kemenangan koalisi partai-partai Kristen di Belanda telah merubah kebijaksanaan kaum penjajah di negeri hindia. Mereka mendesak kebijakan politik etis yang hendak memperluas kesempatan pendidikan bagi anak-anak pribumi. Kebijakan ini telah melahirkan elit baru di Indonesia, yaitu golongan kaum terpelajar. Mereka inilah yang mengenyem pendidikan tinggi, juga meninggalkan romantisme gaya hidup kaum muda dijamannya.

Bioskop Tuschinshi, Teater kota Stadsschouwbur atau café Riche
Dalam buku-buku sejarah di sekolah, kaum terpelajar angkatan Soekarno, Syahrir atau Hatta yang sempet studi di negeri Belanda, lebih sering dikenang lewat organisasi-organisai pergerakan kemerdekaan Hindia – atau setelah penat seharian berdebat soal kolonialisme Belanda, mereka juga mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang tak melulu bernuansa heroik.

Syahrir yang studi di Fakultas Hukum di Universitas Amsterdam kerap pergi ke Bioskop Tuschinski, ke teater kota Stadsschouwbur, ke Bar Amerika, atau ke restoran populer Bohermian di Lange Leidse Dwaarstraat, milik sahabatnya, Salomon Tas. Bersama Maria Ulifah, seorang mahasiswa. Hindia di Leiden, Syahrir kadang-kadang pergi ke ceramah Jef  Last, seorang penyair Belanda yang antikolonialisme dan bersimpati terhadap masalah-masalah Hindia. Sesekali mereka pergi ke konser rakyat yang dimainkan kaum buruh Belanda, atau ke suatu acara teater siang hari dimana anak-anak kaum buruh menjadi sutradara, penulis dan pemainnya. Di kali lain mereka berdua pergi ke Klub Rakyat (People’s Club), dimana kaum buruh muda dan anak-anaknya mengembangkan keahlian dalam kursus bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya, juga dalam seni menjahit atau seni peran. Tak jarang  pula mereka pergi ke sebuah acara tamasya “Akhir Minggu Sosialis” yang diadakan oleh jurnal De Socialist. Acara ini dihadiri leh orang-orang muda multiras yang biasanya dilanjutkan dengan perdebatan di Café Bellevue.

Atau coba saja simak cerita Bung Hatta, ketika ia bersama anggota Perhimpoenan Indonesia, sibuk mengerjakan karangan majalah dan buku peringatan (gedenboek) 15 tahun organisasi siswa asal Hindia di Nederland. Mereka memilih untuk mengerjakannya sambil berlibur di Lyon, Prancis. Begini ceritanya : “Pagi sesudah sarapan, belajar sampai pukul 12, sesudah itu pergi makan tengah hari dan bekerja…, antara jam 4 dan jam 5 minum teh pada suatu kafe, pada jam 6.30 makan malam di restoran, sesudah itu bicara-bicara mengenai berbagai hal. Kadang malam kami melihat konser atau menonton bioskop…” Para anggota Perhimpoenan Indonesia memang sering sekali mengunjungi café. Menurut Dinas Rahasia Pusat Nederland (Centrale Inlichtingendienst)., mereka sering datang ke café Riche di Den Haag dan bicara dalam bahasa Melayu.

Menyukai “Seni Klasik”
jika para mahasiswa hindia di Nederland sering kumpul di café-café, bagaimana dengan mahasiswa di Indonesia? Kehidupan sehari-hari mahasiswa kelompok IC (Indonesia-Clubgebow) angkatan ’28, yang tinggal di gedung Kramat 106 (sekarang Gedung Sumpah Pemuda) juga punya keseharian yang unik. Sebagian besar mereka yang tinggal di situ adalah mahasiswa STOVIA dan sekolah-sekolah tinggi lainnya di Jakarta. Yang tinggal di situ antara lain adalah Abu Hanifah, Mohammad Yamin, Amir Syarifudin, Assaat, Abas dan Mangaraja Pintor. Hari-hari di IC tak pernah sepi dari perdebatan soal politik, budaya msyarakat, kolonialisme Belanda, atau soal-soal lain. Di saat luang mereka membaca surat kabar, majalah, main billiard, pingpong, catur atau bridge. Kalau usdah lebih belajar, Amir Syarifuddin biasanya menggesek biola. Kesukaannya adalah ciptaan Schubert atau satu senata yang sentimental. Yamin lebih senang menghabiskan waktu kosongnya dengan membuat sonata dan sajak, sementara Abu Hanifah memilih menutup waktu-waktu kosongnya degan berolahraga (tennis, silat, sepak bola) dan main musik (biola, gitar) plus berdansa. Masa itu, orang-orang yang bisa memainkan biola atau piano hanya terbatas pada kalangan tertentu saja.

“Masa itu, orang-orang yang bisa memainkan biola atau piano hanya terbatas pada kalangan tertentu saja.”

Pesta Dansa
Kebiasaan kolonial untuk menghadiri pesta dansa-dansi juga diminati oleh kaum terpelajar, bahkan hingga tahun 1950-an, pesta dansa masih disukai oleh kalangan mahasiswa UGM. Pengaruh Belanda ini memang tak bisa begitu saja lepas, hal ini terlihat dari kartun-kartun yang dimuat Madjalah Gama Gema Intrauniversiter, majalah bulanan yang diterbitkan Dewan Mahasiswa UGM, dimana gaya bahasa yang dipakai mahasiswa tempo dulu masih sering tercampur dengan istilah-istilah berbahasa Belanda atau bahkan Inggris. Namun kegiatan pesta dansa ini juga memperoleh kritik keras, misalnya dianggap meniru tari barat atau susila barat yang tidak sesuai dengan alam dan fikiran bangsa ini. Bahkan ada catatan yang mengatakan bahwa pesta dansa yang melanda mahasiswa di Jogyakarta sempat menjadi kegiatan bawah tanah, tak ubahnya seperti judi, prostitusi dan kesenangan terlarang lainnya.

Mendekati gaya hidup sehari-hari kaum muda, setidaknya bisa memberikan gambaran bahwa riwayat kebangsaan kita tidak seluruhnya terdiri dari peristiwa-peristiwa yang dramatis, heroik atau menegangkan. Yang membentuk sejarah toh bukan orang-orang besar, melainkan tindakan-tindakan besar, dan itu tak terjadi setiap hari.

Leave a Reply

Close Menu