garam dari lumpur bledug kuwu

garam dari lumpur bledug kuwu

2001_Maret_Edisi 122_Peduli:
garam dari lumpur bledug kuwu
Rohman Yuliawan
bledug

bledug1

bledug2
Garam ternyata tidak harus selalu diperoleh dari penguapan air laut. Anda juga bisa mendapatkan garam dari gumpalan lumpur. Lumpur? Ya, di desa Kuwu, kecamatan Kradenan Grobogan, Jawa Tengah, petani garam mengumpulkan lumpur lunak yang mengandung air garam dan mengolahnya secara tradisioanl menajdi garam yang lezat.
Di areal terbuka seluas kurang lebih 45 hektar, tergelar pemandangan menakjubkan berupa ledakan-ledakan berurutan yang mengangkat tanah lumpur sampai setinggi 2 meter atau lebih. Ledakan gas karbon dioksida (CO2) dan sulfur (H2O) menimbulkan bunyi cukup keras menyerupai gelegar meriam di kejauhan, sehingga tempat wisata andalan kabupaten Grobogan ini selain api abadi di Mrapen, dikenal sebagai Bledug Kuwu. Bledug adalah kata dalam bahasa Jawa untuk melukiskan suara ledakan dan Kuwu adalah desa yang terletak lk28 kilometer arah timur kota Purwodadi, ibukota kabupaten Gobogan.

Munculnya larutan air garam (brines) di tengah tanah tandus yang berjarak puluhan kilometer dari laut mengundang banyak peneliti untuk mencoba mengungkap sumber air garam tersebut. Berdasar peta geologi Dr. A.J. Panekoek, lapisan tanah dimana terdapat bledug adalah termasuk aluvial plains atau tanah endapan. Dan diyakini ratusan meter dibawah pusat ledakan terdapat lapisan endapan garam yang berasal dari pengangkatan dangkalan laut di masa lalu. Selain Kuwu, di kabupaten Grobogan juga terdapat lima tempat lain yang memiliki sumur sumber air garam diantaranya di Kesongo, Crewek dan Ngramesan.

Untuk mengumpulkan air garam dibutuhkan keberanian besar, karena para petani garam harus merangkak bahkan “berenang”, supaya tidak terbenam, di atas lumpur yang sangat lunak mendekati lubang kawah dan mengmpulkan lumpur cair dengan helaan tangannya. Namun pengumpulan air garam dari kawah hanya dilakukan pada musim kemarau aja, yaitu saat tanah lumpur di seputaran kawah agak mengeras. Air garam yang terkumpul di kolam penampungan sementara dipisahkan dari endapan lumpur, kemudian dialirkan ke sumur buatan yang dibuat di bawah gubuh penyimpanan garam yang tengah dijemur. Kemudian air diciduk dan dimasukkan ke belahan bambu untuk dijemur selama lima sampai tujuh hari. Butiran-butiran garam terbentuk dan langsung siap untuk dikonsumsi. “Rasanya lebih enak dibandingkan garam dari air laut dan tidak pahit.” Promosi Pardiman, salah seorang petani garam di Bledug Kuwu. Bersama lima petani garam lainnya, sampai satu kuintal garam setiap bulan. Produk mereka selain dijual di pasar setempat juga dikemas dengan plastik untuk dijual pada wisatawan dengn harga Rp. 500,- setiap kemasan.

Selain garam dapur, dijual juga garam yang masih belum diolah dalam kemasan botol bekas air mineral dan air garam atau bleng. Yang disaring dari garam jemuran. Air garam murni katanya memiliki khasiat mengobati penyakit kulit dan gatal-gatal, sementara bleng dipakai untuk bumbu pembuatan legendar, makanan semacam kerupuk yang terbuat dari nasi tumbuk. Nah, ternyata anda pun tidak harus ke pantai untuk menyaksikan pembuatan garam.

This Post Has 2 Comments

  1. Kalau saya ingin membeli garamnya bagaimana caranya?apakah bisa dipaketkan?

  2. Saya mau beli garamny bagaimana

Leave a Reply

Close Menu