Gapura Sebuah Politik Kosmetik Kota

2001_September_Edisi 128_Sekitar Kita:
Gapura Sebuah Politik Kosmetik Kota
Ade Tanesia

Disetiap kota lepas kota, gapura-gapura megah selalu menyambut kedatangan kita. Selain berfungsi untuk menunjukkan batas wilayah yang berbeda, gapura juga melambangkan identitas dan kebanggaan suatu kota. Pembangunan gapura megah di Indonesia secara serentak dan gencar dilakukan di masa pemerintahan orde baru. Hal semacam ini bukanlah hal baru, tetapi sudah dipraktekkan sejak jaman kerajaan-kerajaan di masa lalu untuk mengukuhkan kekuasaannya.

Mayarakat Trowulan percaya bahwa hingga kini mereka dapat “bertemu” dengan Patih Gajah Mada di gapura Wringin Lawang, yang merupakan situs peninggalan kerajaan Majapahit. Di gapura itulah, jika Anda mengucapkan salam, maka Sang Patih bisa sekonyong-konyong muncul menyambut Anda. Melalui kepercayaan ini, dapat kita lihat betapa pentingnya arti sebuah gapura dalam masyarakat. Gapura yang mempunyai fungsi sebagai pintu gerbang untuk masuk dan keluar dari suatu wilayah juga dibalut dengan aspek kultural. Melalui gapura, tata krama yang dianut suatu wilayah telah dipancangkan dan selalu mencerminkan keagungan dari wilayah yang dipintu gerbanginya. Seoran asing yang memasuki wilayah seakan harus menghormati si empunya kawasan.

Gapura yang kerap kita temui disetiap lintasan antar kota merupakan jenis gapura yang berkembang dari bentuk candi bentar, yaitu gerbang tanpa atap atau gerbang belah. Bentuk gapura ini masih bisa kita lihat pada peninggalan di candi-candi msa hindu seperti candi jago, Candi Tiga Wangi, Candi Wringin Lawang di Trowulan. Pada masa itu candi bentar adalah pintu gerbang untuk memasuki halaman paling profane. Bentuk ini tetap bertahan hingga masa Islam, seperti yang masih berdiri kokoh di Kraton Surakarta dan Yogyakarta. Oleh karena sifatnya profan, maka gapura bentar merupakan pintu perbatasan antara wilayah ndalem Kraton dan Luar Kraton. Kraton yang menjadi pusat kehidupan dan dianggap sakral, perlu diantarai dengan sebuah keagungan gapura. Pada gapura bentar itu pula etika Kraton, misalnya di masa lalu abdi dalem yang masuk tidak boleh berpayung dan berkendaraan, kecuali hanya tamu agung. Gapura bentar juga menjadi tempat pelepasan abdi dalem yang tidak taat pada Sultan atau Sunan.

Dengan prinsip yang kurang lebih sama, gapura-gapura yang dibangun di seantero Indonesia juga merupakan simbol status sebuah wilayah. Dengan biaya yang mahal, gapura seakan telah menjadi politik kosmetik kota, yang memperlihatkan kesuksesan penguasa untuk menciptakan pembangunanyang merata di seluruh daerah. Hal ini mirip dengan prasasti di setiap kota yang diperintahkan oleh pemerintahan pusat kepada daerah merupakan proses pengahalusan dari segala kenyataan yang bobrok dari sebuah kota. Dan ini dilakukan untuk melegalitimasi kekuasaan sekaligus mengingatkan masyarakat untuk melupakan berbagai ketidak suksesan penguasa dalam mengatur negerinya.

Leave a Reply

Close Menu