gajah dan manusia

gajah dan manusia

2000_Desember_Edisi 119_bahas:
gajah dan manusia
WWF

Tak seekor binatang pun pernah mempunyai hubungan yang begitu erat dengan manusia seperti halnya gajah Asia. Meskipun tidak pernah diperlihara seperti kuda, gajah dijinakkan dan telah dijadikan binatang beban selama ratusan tahun. Cap ukiran dari peradaban lembah Indus 5000 tahun yang lampau menunjukkan gajah dengan kain di punggungnya. Cap tersebut menununjukkan bahwa gajah tersebut telah dilatih.

Masyarakat pribumi India dan Negara-negara Asia lainnya barangkali mulai menundukkan gajah sebelum masa-masa tersebut. Weda, kitab suci Hindu kuno antara tahun 1500 SM-1200 SM, menyebutkan adanya gajah yang jinak. Pada mulanya gajah-gajah tersebut disebut sebagai binatang buas (me’ga) yang mempunyai tangan (hazing) yang menggambarkan belalai. Kemudian di India dan Sri Lanka, gajah disebut hautin dan kini dikenal dengan istilah hasti atau hathi.
Gajah-gajah liar juga ditemukan di kawasan yang luas di Cina kuno. Beberapa diantaranya ditempatkan di kebun binatang dan digunakan untuk tunggangan atau alat transportasi. Di semua tempat hidup gajah Asia, para pengusaha membuat kandang-kandang gajah yang benar untuk digunakan pada masa perang dan masa damai. Ketika raja Sumarkand Timur menyerang Delhi pada tahun 1998, para prajuritnya takut melihat gajah-gajah lawannya. Tetapi Timur mengirim unta dan kerbau dengan menaruh rumput yang dibakar di punggung kedua jenis hewan tersebut. Gajah-gajah tersebut kemudian panik dan berlari sehingga mengacaukan bala tentara India. Timur bergerak menuju kota dan menguasainya.

Raja-raja dan para penguasa memelihara ribuan gajah yang digunakan untuk upacara, berburu, atau berperang. Bahkan beberapa gajah digunakan untuk tujuan eksekusi, yakni menginjak orang yang dijatuhi hukuman mati. Tetapi untuk orang Asia, gajah mempunyai arti yang lebih besar daripada hanya sekedar binatang beban atau perang, Gajah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan dan kebudayaan mereka. Karya Hindu kuno dan seringkali mengacu pada gajah dan ada karya besar mengenai gajah. Salah satu dewa yang paling terkenal saat ini adalah Ganesha, putra Siwa, salah satu dewa Hindu dan Parwati. Sebagai Dewa Kebijaksanaan dan Penolak Bala. Ganesha dihormati oleh orang Hindu sebelum mereka memulai pekerjaan. Ornag Hindu memohon padanya sebab dia dianggap sebagai penulis karya epic besar Mahabharata. Umat yang memujanya tersebut di seluruh Asia Tenggara.

Untuk umur Budha, gajah mempunyai arti khusus. Sbelum lahirnya Sidharta Gautama, ibunya Maya, mimpi ada seekor gajah putih mendekatinya. Orang bijak mengatakan bahwa ia akan mengandung anak yang akan menjadi orang besar. Gajah putih muncul di cerita-cerita Budha dan juga dipuja di Thailand dan di Negara-negara sekitarnya. Sampai saat ini gajah putih yang tertangkap di Thailand otomatis menjadi milik raja.

Di Negara oriental (Timur), gajah juga menjadi binatang pertunjukan. Di Sri Lanka, gajah yang paling besar diikat dengan gajah-gajah yang kecil dihiasi dengan indah, untuk membawa gigi Budha yang diarak pada festival tahunan Esala Perahera di Kandy. Candi Hindu di India Selatan membuat kandang-kandang gajah untuk digunakan pada upacara-upacara. Di Mysore, India Selatan, festival musim gugur di Davchra terkenal dengan parade gajah yang dilukis dengan desain berwarna-warni dan dihiasi dengan kain yang bagus. Gajah-gajah untuk upacara juga membawa keluarga kerajaan dan tamu-tamu mereka pada penobatan raja Nepal.

Lomba balap gajah tahunan di pedalaman Vietnam tengah masih diadakan di setiap musim semi dan di beberapa pemakaman di desa-desa pedalaman dihiasi dengan gading gajah yang diukir dari kayu berkeping dua. Laos disebut sebagai “tanah jutaan gajah” dan bendera Negara tersebut masih menggunakan simbol gajah.
Masyarakat Cina gemar sekali akan obat-obatan dari hewan termasuk dari bagian tubuh gajah. Serbuk dari gading digunakan sebagai obat, drumcik, epilepsy, osteoomyclitis, cacar, sakit kuning, dan gangguan kesuburan. Dagingnya digunakan untuk mengobati kebotakan. Empedunya untuk halisonis, dan bola matanya yang dihancurkan dicampur dengan usus digunakan untuk mengobati sakit mata, luka pada kulit dan penyakit bisul. Sedangkan tulang gajah digunakan sebagai penawar racun, obat muntah-muntah, diare dan kurang nafsu makan.

Gajah saat ini banyak digunakan di industry kayu. Lebih dari 4.000 ekor gajah dilatih untuk membantu penebangan kayu (untuk menarik kayu-kayu yang telah ditebang) di hutan-hutan di Myanmar. Gajah juga dipekerjakan di India, Thailand, dan Indo Cina, dan pada tahun 1914 gajah digunakan unutk membantu pembangunan jalan setapak dari papan (heand walk) di Long Mand, New York. Dulu, gajah merupakan binatang tunggangan yang aman untuk berburu harimau dan badak. Kini, para ilmuwan menemukan bahwa gajah merupakan alat transportasi ideal untuk sebagai penelitian karena binatang buas (liar) biasanya tidak mengganggu gajah-gajah itu untuk masuk ke dalam hutan dengan selamat serta bisa melihat binatang buas dari dekat. Sebagian besar gajah sirkus berasal dari Asia. Gajah-gajah terampil menunjukkan kontrol yang mereka miliki terhadap tubuhnya yang jelas-jelas sangat berat tersebut. Namun demikian, berdiri di atas kaki belalang saja sama sekali bukan merupakan trick gajah siskus. Gajah-gajah yang masih berada di hutan belantara memang melakukan gerakan semacam itu untuk mencapai cabang pohon yang tinggi.***

Leave a Reply

Close Menu