Film Independen

2001_Juli_Edisi 126_Bahas:
Film Independen
Ade Tanesia

Awal pencerahan atau sekedar trend?
Sebuah gerakan budaya bisa muncul karena terjadi sinergi dari unsur-unsur yang mendukungnya. Mungkin yang terjadi dalam dunia perfilman Indonesia, setelah lebih dari satu dekade mati suri, tiba-tiba menjamur film-film independen sejak tahun 1999. Kemunculannya sangat pas, karena masyarakat sendiri sudah dekat dengan teknologinya, kemudian ada komunitas yang bisa menampung potensi masyarakat yang ingin berkreasi seperti Pop Corner, ada ajang festival seperti Jiffest dan yang digelar oleh Konfiden, serta ada contoh kasus kesuksesan film-film alternatif seperti film Kuldesak.
Tidak seperti budaya perfilman sebelumnya yang penuh dengan aturan, maka semangat film independen memang lebih bebas. Karyanya dibiayai secara mandiri, tidak perlu perijinan birokrasi pemerintah, tidak tergantung pada aturan baku penciptaan sebuah film. Berbekal kamera video, digital atau bukan, sebuah cerita siap digarap dan ditayangkan. Hal ini berbeda dengan pembuatan film pada umunya yang memakai pita seluloid 35 mm sehingga mampu menelan biaya sebesar Rp. 1 milyar. “Kalau tidak ada alat, bisa pinjam teman atau pakai alat seadanya:, ujar Agus Chosu dari Komunitas Belajar Bikin Film di Yogyakarta. Memang kalau hanya berpatokan pada standar sebuah film, mungkin tidak akan pernah muncul film-film independen.

Kini video kamera bukan lagi barang asing bagi masyarakat. Dengan santainya seseorang bisa mendokumentasikan berbagai hal yang dia inginkan dengan mudah. Teknologi film memang semakin canggih, sehingga setiap orang bisa lebih gampang menjangkaunya. Bisa jadi gejala ini menjadi salah satu faktor pendukung merebaknya film-film independen tiga tahun terakhir ini, yaitu ketika masyarkat pun telah siap menghadapi genre film ini.

Belajar buat film dan festival

Terobosan yang juga penting dalam dunia film adalah dengan munculnya workshop membuat film di luar jalur institusi pendidikan. Adalah lembaga Pro Corner yang mengawalinya di tahun 1999. Mulanya adalah kepedulian terhadap remaja usia 13-8 tahun agar mereka diberikan pengalaman untuk berkreasi,. Hanya dengan kamera video, mereka mencoba menulis cerita, bekerja dalam tim, mengambil gambar. Aktornya adalah teman-teman sendiri, dan ceritanya berkisar tentang kehidupan mereka sehari-hari. Pada kali pertama, pesertanya memang belum membludak, baru pada tahun 2000 Pop Corner sampai harus menolak peserta. “Kami hanya bisa merasa, bahwa sebenarnya keinginan untuk membuat film dalam diri anak muda itu selalu ada. Kita harus akui, film adalah bentuk kesenian yang paling dekat dengan mereka, selain musik”, ungkap Mandy, pengurus bidang film Pop Corner.

Ajang Festival pun memainkan peranan penting dalam pembentukan film independen. Sejak tahun 1999 Komunitas Film Independen (Konfiden) menggelar Festival Film-Video Indenpenden Indonesia, responnya cukup besar, terbukti pada FFVII tahun lalu, pertanyaanya sekitar 100 film dengan penonton lebih dari 1200 orang. Perkembangan film indenpenden memang menakjubkan. Menurut Agus Chosu fenomena ini bukan sekedar trend sesaat, karena toh sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Apalagi sekarang Steven Spiekberg sudah digandeng Lego untuk ‘mendidik’ anak-anak membuat film dengan koleksi tokoh sebagai pemeran dan rangkaian batang Lego sebagai studio. Artinya, anak usia belasan tahun pun kini sudah bisa berperan sebagai sutradara dan film pun semakin mudah diproduksi lewat perangkat mainan bertajuk “Lego Studios”.

Leave a Reply

Close Menu