Fabriek Gallery

2002_Maret_Edisi 132_Sekitar Kita:
Fabriek Gallery
Nila/Ade


Mimpi Senilai US $ 15.000 ++ Inilah contoh kerja sungguh-sungguh untuk seni. Mendapat dana sebesar US $ 15.000 dari The Japan Foundation dianggap terlalu besar oleh Asmujo Jono Irianto bila hanya untuk menggelar sebuah pameran. Karena itu, lahirlah Fabriek Gallery. Sebuah ruang pamer bongkar-pasang, mudah berpindah dan dapat menyiasati minimnya Infrastruktur seni rupa kontemporer di Indonesia, khususnya bagi karya-karya yang tidak sejalan dengan kecenderungan pasar.

Bermula dari terpilihnya Asmujo sebagai wakil Indonesia dalam sebuah proyek Pameran Seni Rupa Kontemporer Asia di Tokyo tahun 2002/2003. Pameran yang melibatkan Jepang, Cina, Korea, India, Philipina, Thailand, dan Indonesia ini, memiliki tema Underconstruction, sebuah gambaran tentang cepatnya perubahan yang dialami oleh Asia saat ini. Dan Asmujo pun merancang ide kuratorial yang berjudul “Dream Project: Underconstruction”.

“Ini merupakan proyek seni untuk dunia seni, art for the art world, dengan hasil berupa pameran dan sebuah galeri yang dirancang dapat berpindah-pindah tempat. Dana sebesar $15.000, terlalu mewah untuk ukuran sekali pameran saja,” papar Asmujo. “Memang kemudian harus nombok.Tapi Selasar Seni Sunaryo memberikan bantuan Rp. 5 juta, juga lahan kosong untuk pendirian bangunannya, “lanjutnya.

Sebuah galeri berukuran 9 x 18 meter kini sudah berwujud. Ia siap berpindah pada saat keberadaannya tidak lagi dianggap penting. Ia siap pula mencari ruang-ruang impian baru yang setuju akan pentingnya perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia.

Leave a Reply

Close Menu