Eksperimen Sahni Mootoo!

1997_akhir September_Edisi 077_bahas:
Eksperimen Sahni Mootoo!

Daya tarik poster ternyata telah memberikan inspirasi bagi beberapa seniman. Adalah Shani Mootoo, seniwati India kelahiran Irlandia, salah satunya yang pernah menggunakan poster sebagai elemen karya seninya. Fungsi poster sebagai publikais produk industry telah dihancurkan dan diletakkan sebagai media eksperimen seninya.

Penulis, seniman visual, dan pembuat film video ini lahir di Dublin, besar di Trinidad dan sejak tahun 1981 bermukim di Kanada. Karya Mootoo terkenal sangat dekoratif, berwarna terang dan berpola. Ia melakukan eksperimen dengan menggunakan materi diluar dunia seni, seperti manggunakan daun pacar yang biasa digunakan sebagai cat kuku pengantin wanita India, dan yang paling menarik adalah karya eksperimennya dengan menggunakan mesin foto kopi. Karya ini telah menarik perhatian Xerox Canada Corporation, sehingga Mootoo diperbolehkan bereksperimen selama beberapa bulan dengan mesin Xerox.

Dalam menggarap poster, Mootoo selalu berusaha menyatukan bentuk dan kesan untuk menarik perhatian masyarakat. Dengan cara itu ia berharap dapat merangsang penikmat posternya untuk mendalami masyarakat India, sehingga seringkali bahasanya terasa militant dan menggelitik pembacanya. Dalam satu posternya ia menggambarkan sebuah keluarga yang riang gembira di arena carnival Trinidad, sementara teks yang tertera berbunyi “adalah suatu kekerasan jika saya harus menggunakan bahasa. Akan saya katakan bagaimana rasanya ketika kamu merampas milik saya”. Ini adalah narasi dalam budaya Trinida yang telah dicabut oleh kolonialisme Eropa. Menurut Mootoo, bahasa Trinida telah diperkosa oleh colonial, sehingga mereka kehilangan bahasa yang lebih ekspresif.

Setelah berhasil ia membuat ratusan poster, ia lalu memasangnya rapat-rapat di tembok jalanan sehingga menyerupai bingkai sebuah etalase kaca toko. Karya ini ia beri nama ‘Ad walls’, yang menghantarkan visual cerah di tengah kota. Jika diamati, karya Mootoo kerap mempertanyakan persoalan diri dan tempatnya dalam tatanan dunia. Mungkin hal ini dipengaruhi oleh pengalamannya sebagai orang minoritas di berbagai tempat, ia pernah mengatakan bahwa “dalam tulisan dan seni rupa, saya selalu menempatkan diri saya pada pusat”. Itulah obsesninya yang dituangkan melalui media poster. Dan didisplay di ruang jalanan, sehingga siapapun bisa menikmati karya seninya.

 

Leave a Reply

Close Menu