-ect

1994_Agustus_Edisi 002_seni:
-ect

The TRUTH, suatu kebenaran, itulah yang dicari oleh manusia-manusia seni sejak dulu. Suatu kebenaran dalam hidup tidak hanya dalam soal ssosialisais atau situasi-nya saja melainkan huga suatu kebenaran yang didapat dari pada hasil instuisi.

Diberitakan oleh philosoph-pilosoph bangsa Athena, bahwa, suatu hasil intuisi yang diwujudkan secara menyeluruh dan lengkap akan menghasilkan suatu haeil karya yang sempurna – dan dapat disebut suatu karya yang “benar”.

Sebagi contoh, adalah dua orang yang mendalami “pencarian” suatu hasil karya yang sempurna. Persamaan dari kedua manusia itu adalah “pencarian” suatu benda yang kita sebut saja sebuah kursi. Orang pertama, si A, menggunakan pendekatan ke arah yang realis dan ekspresionis, guratan cat minyak warna-warni yang ia gunakan membuat umum kagum akan hasil yang ia dapatkan, yaitu: sebuah traslasi kursi itu berbenntuk seperti apa. Sebuah bentuk yang biasa kita kenal dengan sebutan kursi malas. Kursi yang amat abgus unutk dipakai, karena lengkap dnegan urat-urat kayu maupun bonggol dahannya. Si B, dipihak lain, menggunakan suatu approach yang belum prnah diallui oleh khalayak ramai. Ia berdiam diri, dan kemudian berkarya hanya dengan, sapuan kuas besar berlumuran cat dengan aksen warna tak lebih dari hitam dan putih.

Taka lama ia berbuat, ia menganggap dirinya selesai. Ia menemukan seuatu “bentuk” kursi yang belum manusia lihat sebelumnya. Umum meninggalkan sambil menggeleng.

Tidak aka nada yang akan disebut kursi di dunia ini bila tidak ada yang menciptakan kebenaran dari sebuah kursi. Sbeuah benda dikatakan sebuah kursi bila bisa diduduki (titik). Itu pendapat umum.

Suatau ha yang amatlah sulit bila seseorang ditantang unutk membuat sesuatu yang belum pernah dibuat atau ada. Disinilah beda dair kedua seniman tadi. Si A berusaha mengekspresikan apa itu yang disebut kuris. Ia berusaha mengungkapkan bagaiaman rasa, warna, bau, dan bentuk dari sebuah kursi. Dan dia berhasil. Umum mengatakan ia berhasil menggunakan kahliannya dalam menggunakan keahliannya dalam mengungkap kebenaran tentang kursi Si B, berusaha menelaah kembali apa itu kursi, emngapa kursi, dan bagaimana kursu itu. Ia mengembalikan pookok maslah tentang kebenaran dair sebuah kursi. Umum belum siap menerima dan meninggalkannya.

Dua pendekatan yang sangat berlainan dan tidak dapat disebut bahwa ada kesalahan diantara kedua orang itu. Itu semua adalah masalah ego dan persepsi.

Leave a Reply

Close Menu