Dua Gunung, Satu Matahari dan Bemosakti

Minggu sore di Galeri Foto Jurnalistik Antara

Menggambar

Suasana gaduh menjadi tenang saat 37 orang anak itu mulai menggambar. Mereka dibagi dalam 5 kelompok. Masing-masing kelompok mengelilingi sebuah kotak crayon, yang terdiri dari 36 warna itu. Sebelum anak-anak mulai menggambar, koordinator program revitalisasi Bemo, meminta anak-anak untuk menggambar bebas, namun dengan gambar Bemo di dalamnya. Awalnya beberapa anak menyatakan “Susaah gambar bemo..”. Namun mereka tetap mencobanya.

Satu per satu mereka menyelesaikan gambarnya. Banyak di antara mereka masih menggambar dengan pola dua gunung dan matahari. Hal ini merupakan fenomena menyedihkan yang umum terjadi dalam pelajaran seni rupa sekolah-sekolah negeri di Indonesia. Demikian banyak anak di Indonesia secara otomatis berpikir bahwa menggambar pemandangan adalah menggambar dua gunung dengan matahari di tengahnya. Menurut ahli kreativitas dan seni rupa anak, Profesor Primadi Tabrani, sistem pendidikan seni rupa yang salah di sekolah-sekolah dasar negeri menghilangkan potensi kreatif anak Indonesia. Termasuk saat-saat seorang guru memberi contoh di papan tulis dengan sebuah pemandangan dua gunung dan satu matahari. Atau sistem belajar yang melulu disiplin kaku dan hafalan, yang menganggap otak manusia seperti alat perekam belaka. Untungnya masih ada beberapa gambar anak yang terbebas dari jenis gambar ‘dua gunung dan satu matahari’ itu.

Ketika dimintai pertolongan, salah seorang peserta Sendi yang berumur 13 tahun tanpa banyak bicara langsung membantu panitia untuk menempel gambar di bawah tangga, di tengah galeri. Akhirnya tangga semen kelabu dilapis besi berkilat dingin itu berubah menjadi ‘ceria’. Anak-anak terlihat memandang dengan binar, binar kebanggaan.

Memberi Nama Bemo

Selesai menggambar mereka mendapat guntingan kertas tempel berwarna-warni untuk memberi nama pada Bemo yang akan berfungsi sebagai pengangkut internet keliling (Netling) dan www.patungan.net. Bemo itu semula diberi nama Dewi Lanjar. Huruf ‘L’ nya kemudian dihilangkan – menjadi Dewi Anjar – dengan harapan bemo itu menjadi tidak sering mogok. Pak Kinong, si pemilik lama, menganjurkan untuk ganti nama. Harapannya setelah ganti nama, bemo itu tak akan lagi punya masalah. Sticker-sticker yang sudah mereka tulisi dengan usulan nama, kemudian mereka tempel pada bagian muka Bemo. Walhasil, kaca depan bemo dipenuhi kertas tempel warna-warni berbentuk bintang, segitiga dan lingkaran.

Nama-nama hasil karangan ke-37 anak itu beragam, mulai dari nama-nama ‘kreatif’ seperti: Indonesia vs Malaysia, Embi, Barang Antik, Bawang, Toxa, Moto, Bomo, Jeyo, atau nama binatang seperti Bleki, Mongki, T-Rex, Atau nama orang: Toyip, Jongki, Tongki, Junior, James. Sebagian lagi memberi nama ‘besar’ seperti Bima Sakti, Indonesia, Jagur, Bintang Bercahaya, Bintang Bersinar, Cahaya Matahari, Dewi Sri, Dewi Langit, Jaya Putra, Jaya Putri, Kusuma Cahaya, Dwi Kusma, Sinar Cahaya. Ada juga dengan kata “Bemo” seperti: Dewa Bemo, Bemo Cinta, Bemo Ajaib, Bemo yang bersinar di Jalan.  Rencananya panitia akan memilih salah-satu dari usulan nama-nama itu untuk menjadi nama baru dari Bemo.

Setelah bersama-sama membersihkan galeri, rombongan anak-anak, ibu, dan pengemudi Bemo itu pulang. Keempat Bemo bersuara khas itu meninggalkan Galeri Antara, dimana karya-karya gambar mereka terpajang. Kegiatan singkat dan sederhana ini memang sekedar ‘piknik’ kecil ke sebuah pameran di bangunan tua. Semoga saja kegembiraan sore itu dapat memberi kesan dan manfaat bagi ke-37 anak Karet Bivak itu.

Leave a Reply

Close Menu