Dongeng tentang Taqim Suatu Realitas Kehidupan Sosial

1996_akhir November _Edisi 057_seni:
Dongeng tentang Taqim Suatu Realitas Kehidupan Sosial

Taqim adalah sosok seniman penggelisah yang selalu berada dalam pencarian proses kreatif. Ia bisa saja ditemui sedang menyentuh kasar-halus dedaunan, membaui aroma tanah, mengolah keliatan tanah, lalu membawa segudang pengalamannya itu ke studio untuk diwujudkan menjadi sebuah karya seni berupa keramik teraccota, porselin yang eksotik.

Kali lain, Taqim mungkin terlihat sedang menatap dalam-dalam seonggok kayu atau batu, untuk kemudian menatah, mendesain dan mewujudkan benda-benda mati tersebut menjadi elemen seni yang hidup. Maka lahirlah patung dari berbagai materi seperti granit, marmer, bebatuan dan materi lainnya dari tangan Taqim.

Selanjutnya Taqim sudah berada di hadapan sebuah kanvas dan menggoreskan cat minyak di atasnya. Meluncurlah ia ke Pasar Beringhardjo, Pasar Klewer Solo, pedesaan nelayan di pinggir pantai, bakul gendong, potret kehidupan yang selalu menjadi objek lukisannya yang berarti impresionisme naturalnya.

Taqim selalu mencari, berkarya lewat keramiknya, pahatannya, maupun lukisan-lukisannya. Ia adalah seniman yang mau berendah hati menjadi tukang ukir kayu,arsitek, pembuat keramik, sampai seni instalasi.

Seperti halnya banyak cerita seniman yang lain. Taqim melewati penderitaan yang cukup panjang untuk bertahan dalam hidup kesenimanannya. Dengan keterbatasan modal, ia menciptakan keramik model kodok, dibakarnya dan jadilah seni keramik. Walau sempat ditertawakan orang sekitar ia jalan terus. Taqim yang kini sudah dikarunia 3 putra/putri Andi, Riza dan Yudi, adalah sosok pemberontak yang tidak pernah mau menyerah dalam memperjuangkan kesenimannnya. Jiwa pemberontakanya sudah terlihat ketika pada masa muda ia dikeluarkan dari sekolahnya di SPG Kudus. Semangat dan dendam membawanya menyelesaikan sekolah di SPG demak. Walau akhirnya ijazah itu tak terpakai, tidak berarti ia melecehkan pendidikan formal. Ia hanya ingin membuktikan bahwa potensi sumber daya manusia tak tergantung pada selembar ijazah formal.

Leave a Reply

Close Menu