dokumen berharga milik ragil suwarna pragolpati …yang kini tak terurus

Pragola1

Pragola

2001_Januari_Edisi 120_jelajah:
dokumen berharga milik ragil suwarna pragolpati …yang kini tak terurus
Ade Tanesia/Cindhil gunawan Maryanto

Tumpukan buku-buku berharga di dalam 5 lemari itu semakin kusam dimakan usia. Kertas-kertas catatan yang merupakan bagian dari sejarah sastra di Indonesia ini kondisinya sungguh menyedihkan, banyak yang basah akibat lembab atau terkena rembesan hujan. Inilah tinggalan paling berharga dari sastrawan Ragil Suwarna Pragolapati yang sering dijuluki “HB Yassin’nya Yogyakarta” karena ketekunannya yang luar biasa dalam soal dokumentasi.

Sejak dirinya hilang 15 Oktober 1990 di Parang Tritis, dunia sastra Yogyakarta tidak hanya kehilangan salah satu sastrawan terbaiknya. Lebih dari itu, tidak ada lagi dokumentator sekaliber Ragil Suwarna Pragolapati yang mau bersusah payah mengumpulkan karya sastra para penyair senior maupun pemula serta menjilidkannya menjadi sebuah buku. Inilah yang dia kerjakan bertahun-tahun, sehingga masih tersimpan data puisi-puisi awal satrawan besar seperti Korrie Layun Rampan, Emha Ainun Najib, Umbu Landu Parangi, Imam Budi Santosa, Kuntowijoyo. Juga seluruh peristiwa di Persada Studi Klub Yogyakarta sebuah klub sastra tahun 1969-an yang telah menelurkan sastrawan besar Indonesia-dikumpulkan-nya secara rinci sampai pada catatan absen pertemuan, pengeluaran dan keluh kesah para anggota klubnya. Bahkan catatan honor puisi, cerpen para satrawan di masa itu dapat kita jumpai. Setiap buku yang dibeli, tak pernah lupa ditempelkan bon pembeliannya. Begitu pula dengan buku-buku pemberian orang, ia selalu menuliskan nama si pemberi berikut tanggal, hari dan tahunnya. Sedemikian lengkap catatannya! “Sebagai seorang dokumentator dia memang hebat atau malah gila. Pernah suatu waktu Limus memberikan pada saya kliping puisi saya yang saya sendiri tidak punya”, kesan Landung Simatupang, seorang aktor teater Yogyakarta. Untung Basuki, seniman Bengkel Teater, juga mengakui kehebatan Ragil…” pernah saya minta dibawakan cerpen. Wah, ternyata dia memberikan banyak sekali cerpen sehingga saya bingung. Soal dokumentasi dan komitmennya pada dunia sastra memang luar biasa”, kenang Untung Basuki.
“Hampir setiap hari dia menulis, mencari buku loakan di shoping, bahkan seringkali dia menerima tamu sambil mengelem surat-surat, karcis bis di bukunya,” kenang Menik, Isteri Ragil Suwarna Pragolapati. Semasa pernikahannya , menik memang harus berbesar hati, karena perhatian terbesar Ragil lebih ditujukan pada sastra dan hobi mendokumentasinya. Menurut Menik, Ragil memang bercita-cita mempunyai sanggar dengan perpustakaan yang lengkap dan bisa diakses oleh siapapun. Kini cita-cita bisa dikatakan pupus. Sepeninggal Ragil, isterinya sendiri sudah terlampau sibuk mencari nafkah dengan menerima jahitan, dan merawat buku juga membutuhkan biaya. “Saya sudah berhenti menunggu. Sudah sepuluh tahun…terlalu lama untuk berharap”, ungkapnya lirih. Selama sepuluh tahun, buku-bukunya menumpuk begitu saja, tak tersentuh. “Seperti cita-cita suami saya, saya ingin buku-buku ini dibaca banyak orang. Dulu seluruh buku mau dibeli sebuah yayasan seharga 5 juta rupiah. Tapi menurut teman-teman jangan dijual. Kalau saya punya rumah saja, mungkin bisa ditata dan orang bisa datang melihat”, lanjutnya. Sebenarnya dokumen yang dimiliki Ragil Suwarna Pragolapati adalah milik dunia sastra Indonesia sehingga sangat mendesak untuk diselamatkan. Langkah minimal yang diperlukan untuk penyelamatan dokumen itu sebenarnya sangat sederhana, pertama melakukan inventarisasi buku-bukunya sekaligus dibuatkan katalog; kedua, diperlukan wadah (lemari kaca besar) untuk menampung buku-buku tersebut; dan ketiga, publikasi tentang dokumen tersebut sehingga siapapun dapat mengaksesnya. Siapa yang mau memulainya, sebelum dokumen itu habis termakan ngengat.

Ragil Suwarna Pragolapati lahir pada tahun 1947 di Pati. Ia studi di fakultas Ekonomi UGM di tahun 1967. Beliau juga salah satu pendiri Persada Studi Klub sastra yang kondang di masanya karena mampu menelurkan banyak sastrawan besar di kemudian hari. Ragil juga mendirikan Sanggar Pragolati, dimana para penyair pemula memperoleh tempatnya di sanggar tersebut. 15 Oktober 1990, Ragil dinyatakan hilang di goa langse, Parang Tritis. Hingga kini tidak diketahui sebab musabab kehilangannya, bahkan sebagian orang masih percaya bahwa dirinya tidak hilang. Namun 10 tahun telah lewat, misteri kehilangannya masih belum terungkap. Yang jelas, Ragil Suwarna Pragolapati tak pernah hilang dengan meninggalkan setumpuk dokumentasinya yang sangat berharga bagi dunia sastra Indonesia.

Ibu Menik Pragolapati
Jl. Kaliurang Km5.4 Gg. Wuni CT
III/2 Yogyakarta
T: 0274-515346

Leave a Reply

Close Menu