Do It Yourself

2001_Juni_Edisi 125_Gaya:
Do It Yourself
Ade Tanesia

“Smart, Affordable Solutions to make life easier”. Dengan motto inilah, sejak tahun 1943, Ingvar Komprad dari Swedia melansir IKEA yang banyak menerapkan konsep pada mebel dan beragam dekorasi rumah yang diproduksinya. Rancangan dengan teknologi “bongkar-pasang” ini telah memberikan banyak kemudahan sekaligus merangsang kreativitas para pemakainya.

Rumit di awal, mudah di akhir
Produk IKEA, yang kini sedang digemari di Indonesia, tentunya bukan diciptakan untuk sekedar memenuhi trend sesaat. Para perancang di belakang setiap produk berpikir keras untuk melahirkan produk yang dapat memenuhi tuntutan efisiensi yang semakin tinggi. Dan mereka berhasil, menurut Putra, desainer produk dari DEDATO, IKEA sangat pas untuk masyarakat urban yang memerlukan kebutuhan rumah yang sederhana dan “compact”. Bahkan produknya yang dijual dalam keadaan “break down” telah memungkinkan konsumen dapat langsung membawanya hanya dengan kemasan kardus yang pas di bagasi mobil.

Konsep Do-It-Yourself banyak juga dipakai para perancang mainan anak. Mulai dari Lego yang begitu mendunia, sampai produk Aruna Arutala yang dibuat warga desa Kandangan, Temanggung, menerapkan model bongkar-pasang agar anak dapat mengembangkan imajinasinya. Tidak mengherankan bila Lego menyebut produknya “mainan untuk dibangun dan berpikir”.
Proses kerja di balik konsep “kerjakanlah sendiri”, yang ditawarkan oleh IKEA, LEGO dan Aruna Arutala, sangat menarik untuk disimak. Para perancang tidak cukup hanya mencorat-coret kertas, tapi harus mengetahui betul bagaimana produk dibuat, diurai, dan dipasang kembali. Mereka sepenuhnya sadar, bahwa produk mereka harus dapat dibongkar-pasang oleh anak kecil sekalipun. Karena itu, produk tidak saja harus mampu memudahkan, tapi juga mampu merangsang kemandirian. Intinya ada banyak kerja keras harus dilakukan pada saat produk diciptakan untuk menciptakan kemudahan pada saat memakainya.

Di Indonesia, menurut Putra, konsep Do-It-Yourself justru lebih banyak ditemui pada masyarakat pedesaan, bukan daerah perkotaan. Dari persoalan perkakas saja, mereka membuat sendiri dengan logika yang terstruktur, kreatif dan efisien. Sebagaimana contoh adalah rumah-rumah panggung di Sulawesi yang bisa dibongkar-pasang dan dipindahkan ke lahan lain. Demikian pula dengan rumah joglo Jawa yang bisa diangkut ke sana ke mari.

Walau tradisi sudah memberikan pelajarannya, dalam kehidupan sehari-hari nampaknya kita lebih sering menghadapi produk yang dihasilkan tanpa pemikiran mendalam. Akibatnya, bukan kemudahan apalagi kemandirian yang dihasilkan, tapi malah keruwetan. Lihat saja cara kerja para wakil rakyat. Bukan satu dua kali mereka menghasilkan produk tanpa pikir panjang, yang akhirnya malah membuat hidup rakyat makin jauh dari kata mudah dan mandiri. Mumpung konsep do-it-youtself, lewat produk Ikea, sedang digemari sekarang adalah waktu yang tepat untuk memasyarakatkan semangatnya. Tak ada salahnya melewati kerja keras dan pemikiran rumit saat mencipta (apa saja), yang penting pada akhirya dapat menghasilkan produk yang memudahkan dan memandirikan masyarakat. Coba dan buktikan!

Leave a Reply

Close Menu