Diskusi Alam Terbuka’99

2000_Mei_Edisi 112_wwf:
Diskusi Alam Terbuka’99
Bayu Dwi M

Perdagangan satwa langka dan dilindungi
Partisipasi aktif dari anggota kerabat WWF Indonesia, dalam hal ini komunitas Jabotabek yang mengkampanyekan pentingnya konservasi merupakan suatu langkah nyata yang perlu dikembangkan.

Karena ini, komunitas Kerabat WWF Indonesia Jabotabek menyelenggarakan Diskusi Alam Terbuka’99 tentang Perdagangan Satwa Liar dan Dilindungi, Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 20 Nopember 1999 di Aula Taman Anak, Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan. Diselenggarakan untuk menyambut hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional yang jatuh pada tanggal 5 Nopember 1999. Komunitas Kerabat WWF Indonesia Jabotabek merasa prihatin akan semakin maraknya perdagangan satwa liar dan dilindungi di Jakartaa, Bogor, dan sekitarnya. Diskusi ini tidak hanya ditujukan kepada anggota kerabat WWF yang berdomisili di Jabotabek, tetapi juga kalangan LSM, pecinta alam se-Jabotabek dan wakil media cetak. Bahkan Kerabat WWF Indonesia dari Pekanbaru dan Yogyakarta turut mengambil peran.

Kita semua tak ingin koleksi satwa liar yang tersebar di hutan-hutan Indonesia, satu persatu punah akibat perdagangan yang semakin marak. Indonesia di mata masyarakat Internasional sudah terkenal sebagai pengekspor hewan-hewan langka dunia. Timbul pertanyaan, apakah tidak ada sangsi internasional jika perdagangan satwa ini terus berlangsung di bumi pertiwi? Apa yang kita perbuat sebagai masyarakat pecinta alam dan satwa?
Chairul saleh (Mas Uyung) dari Yayasan wwf Indonesia dan Darmawan dari LSM Titian serta Matani Sunarya dari pihak Taman Margasatwa Ragunan tampil membahas dan mengupas diskusi kali ini. Masing-masing pembicara mengungkapkan hasil pengalaman dan pengamatan mereka selama ini di lapangan.

Mas Uyung (Yayasan WWF Indonesia) membahas sisi perdagangan satwa liar yang sudah semakin parah, bahkan petshop dan pasar burung semakin berani menampilkan barang dagangannya. Beliau juga menerangkan satwa mana saja yang dilindungi dan kategori satwa yang cukup laris dipasaran. Mas Uyung menyarankan agar hadirin mengembangkan opini publik serta janganlah menciptakan kebutuhan terhadap satwa. Mas Darmawan (LSM Titian) menggambarkan apa saja yang sudah dilakukan oleh jariangan PANTAU (terdiri berbagai LSM) dalam konteks perdagangan satwa. Mas Darmawan (LSM Titian) menggambarkan apa saja yang sudah dilakukan oleh jaringan PANTAU (terdiri berbagai LSM) dalam konteks perdagangan satwa liar ini. Kampanye, pemantauan di lapangan, investigasi, studi perdagangan, sudah sering dilakukan oleh jaringan ini. Tetapi semua tak dapat menuntaskan masalah pelik ini. Banyak factor yang saling terkait, dari mulai pihak pemerintah sampai oknum aparat, begitu tambah direktur LSM Titian ini.

Pak Matani Sunarya menyoroti peranan Taman Margasatwa Ragunan terus menyebrluaskan pentingnya masyarakat agar tidak membeli dan memperdagangkan satwa liar tersebut. Panitia acara sendiri sudah menerangkan model kampanye melalui stiker yang dibagikan kepada setiap peserta. Namun tampaknya peserta lebih menginginkan aksi yang lebih nyata, misalnya adanya keterlibatan pemerintah dan aparat unutk menyikapi masalah ini. Selain itu, acara seperti ini agar lebih efektif jika ada publikasi ke berbagai daerah-daerah.

Setelah acara diskusi selesai, acara dilakukan dengan kunjungn ke kandang primata. Kali ini Komunitas KErabat WWF Indonesia Jabodetabek dibantu oleh relawan Gelar Kebon dan [aikon!], memperkenalkan satwa yang sering diperdagangkan (khususnya primate) sambil membagikan makanan kepada satwa.
Komunitas Kerabat WWF Indonesia mengharapkan agar setelah mengikuti iskusi ini seluruh peserta menjadi lebih terfokus dalam membantu dan mencegah perdagangan satwa liar. Semoga anak cucu kita masih bisa melihat keanekaragaman satwa liar di hutan-hutan Indonesia. Semoga.

Leave a Reply

Close Menu