deterjan

1999_Desember_Edisi 106_peduli:
deterjan
Adi Setiadi

Tak pelak lagi, deterjen sudah menjadi bagian dari kebutuhan primer dalam roda keseharian kita. Boleh dibilang, tiada rumah tanpa deterjen! Merek-merek deterjen berhamburan seirama dengan promosi yang begitu gencar. Tak hanya di daerah perkotaan, bubuk berbusa tersebut telah menembus kehidpan suku-suku pedalaman di seantero Indonesia. Banyaknya buih busa dalam kegiatan cuci mencuci telah menjadi indikator masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, untuk mengukur nilai bersih dan tidak bersih.

Meskipun belum diketahui berapa jumlah deterjen digunakan oleh rumah tangga di Indonesia per hari, namun dapat dipastikan kebutuhan tersebut menngkat seiring dengan berkembangnya industri rumah binatu dan jasa pencucian kendaraan. Penemuan Laboratorium Teknik ITB 1976 mengungkapkan, konsentrasi deterjen di titik banjir kanal mencapai 20-30 ppm yang pada umumnya berasal dari limbah domestik (rumah tangga).

Sebenarnya sebagian besar deterjen yang kita gunakan adalah pospat, yaitu zat kimia yang mengandung pospor. Meskipun dalam prakteknya, zat ini mampu menanggulangi partikel kotor pada pakaian dan sebagai pelembut air. Namun dibalik kemampuannya itu, sifat deterjen tidak hancur oleh bakteri pengurai, busanya utuh memenuhi perairan dan mengancam lingkungan. Efeknya akan mengeringkan badan-badan sungai dan danau karena berperan menyuburkan (booming) ganggang. Kelak, ganggang yang tumbuh di luar control tersebut akan mati, dan bakteri pembusuknya membutuhkan oksigen dalam jumlah sangat besar. Konsekuensinya tumbuhan dan hewan air lainnya akanĀ  kekurangan oksigen dan akhirnya menemui kematiannya. Air yang sudah tercemar kandungan pospat ini sebenarnya tak dapat digunakan lagi oleh manusia, terutama yang sangat tergantung pada sungai sebagai sumber air.

Kekhawatiran terhadap zat kimia ini semakin menjadi-jadi dengan munculnya kasus-kasus pencemaran air secara nyata. Misalnya di Long Island, New York, di tahun 1959 saja, 1/3 dari sumber air yang diteliti ternyata mengandung deterjen. Penyelidikan selanjutnya menyebutkan bahwa endapan tersebut berasal dari konsentrasi detergen yang terdapat pada air bahan baku PDAM. Dan tentu saja air yang sudah tercemar itulah yang akan mengalir ke kran-kran pelanggan dan mengancam kesehatannya, apalagi beberapa jenis deterjen terbukti menjadi penyebab langsung penyakit kanker.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan, sementara ketergantungan rumah tangga terhadap deterjen sulit untuk dihindari. Untuk mengurangi pencemaran air, ada baiknya sebelum membeli deterjen, kita melihat kanker pospat dalam sebuah produk serta pilihlah yang mempunyai kandungan pospat rendah. Jika ingin lebih yakin, hubungi pusat Informasi konsumen untuk memperoleh informasi detil tentang kadar pospat di setiap merek-merek produk deterjen. Namun yang lebih aman, gunakanlah sabun biasa. Demi keselamatan generasi mendatang, tak ada salahnya untuk bersama-sama mengurangi pencemaran air.

Leave a Reply

Close Menu