Depot Tanamur

Oleh B. Dharmawan Handonowarih
Seperti yang pernah saya katakan dulu, saya pernah makan di sini. Dan terlanjur jatuh cinta dengan tempatnya (seperti juga depot yg lain).
Makanannya waktu itu tidak enak, si pemiliknya juga tidak ramah (satu di antaranya mungkin anak pemilik, bertubuh tambun. tidak jauh dari situ, di jalan Budi Kemuliaan, dulu ada klinik TNI AU di sebuah rumah indies. Keren, sudah dibongkar dan dijadikan lapangan parkir.. tapi.. semua cerita ini nggak penting deh. hehe
Saya tidak yakin kios itu dibiarkan atau ditinggalkan, sebab sudah puluhan tahun keluarga itu jualan di situ. mungkin mau dijual. Entahlah. kita tunggu saja berita baiknya. Yang jelas, sepanjang jalur hijau itu sudah DIBERSIHKAN oleh Pemerintah Daerah DKI. Warung-warung yang lebih besar dari depot itu ada dua buah (atau lebih) dan terdapat dua stasiun pompa bensin. semua kini telah rata digantikan tanaman peneduh. mungkin depot itu menunggu ajal?
Sementara itu Tanamur telah lama pensiun, satu-satunya restoran adalah Ajengan, persis di hoek depan depot ini, sebuah resto bergaya bali. Di seberangnya dulu ada warung pizza dengan nama Nigtmare (?) yang mirip-mirip film Nightmare on the Elm Street karena ada tampang Freddy Krueger-nya. lalu tutup, dan disewa warung padang. Tempat ini pun sekarang mau dijual. si warung pizza itu mungkin kepingin dapat limpahan pengunjung dari Tanamur. Apa daya diskotiknya tutup, jalan Abdul Muis adalah seruas jalan kuno di Jakarta, dulu ada gedung tua milik PMI yang terbakar.
Di hoek dekat Milenium terdapat gedung pegadaian (kini sudah rata diganti bangunan Citibank). Sebuah bangunan tua lain dengan pilar-pilar yang cantik sempat digunakan untuk perhimpunan penghayat kepercayaan. Sudah diambrukkan pula.
Yang masih ada dan (sudah pasti!) rico sangat suka adalah bekas bengkel mercedes. Tempat ini sangat keren dengan lampu-lampu bengkel di atasnya. Bangunan ini tampaknya dalam sengketa antara bank mandiri dan pemilik lama.
Sekian cerita di akhir pekan.

This Post Has 2 Comments

  1. Andipo Wiratama menulis:

    Diseberang depot itu, ibu saya pernah melahirkan seorang anak laki2. Ayah saya setelah menjenguk, mungkin mampir ke depot ini buat beli es batu. Berandai2 boleh ya, meski kemungkinannya kecil. Diseberang rumah ada depot ijs Kesehatan, buat apa beli es di Abdul Muis.

    Beberapa bulan yang lalu, saya pernah makan sate di samping depot. Juga nggak enak, bentuk dagingnya mencurigakan. Penjaga bertubuh tambun (yang diduga) anak pemilik, apa tidak ketukar dengan pemilik Onder De Boom ya ? Coba periksa kenangannya lagi mas.

    Di sebelah klinik AURI (jaman sebelum ada TNI) dulu ada dokter gigi. Dinas di Angkatan Darat. Kerjanya cepat, agak brutal. Semua orang diperlakukan sama. Warga sipil seperti saya dianggap sekuat tentara yang sudah sering kena tembak.

    Dari sana ke Tanah Abang 5, ada beberapa rumah Indies. Di sisi kanan, sebelum sekolahan, ada rumah kayu sederhana. Dinding depan persis mepet jalan.Dinding separuh kayu, atasnya kawat ayam. Isinya penuh piala & medali. Kapan2 mau mampir kesana, mempertanyakan asal piala2 & medali2 itu.

    Di Tanah Abang 4 ada tukang daging Ihsan (masih ada gak ya ?). Piara celeng, elang dan sepasang biawak. Biawak betina suka jalan2 masuk ke toko.

  2. Perlu lebih banyak cerita ini sehingga orang tahu perjalanan nasib kedai Onder de Boem 😀
    Ayo, Dehawe! Nulis terus!

Leave a Reply

Close Menu