Daur Ulang

1998_April_Edisi 089_peduli:
Daur Ulang

Limbah peradaban manusia telah memunculkan rupa-rupa kreatifitas proses daur ulang, dari bentuk kerajinan sampai teknologi canggih, sekaligus kreatifitas untuk melakukan praktek penyalahgunaannya.

Di bidang teknologi, Beijing Golden River Petroleum Product dari Cina sudah mampu mengubah plastik menjadi minyak solar dan bensin dengan biaya murah. Rancangan teknologi ini ditemukan seorang anak muda jenius bernama Yang Yali.  Proses kerjanya tidak terlalu  rumit yaitu limbah plastik dan bubuk katalis dimasukkan bersama ke dalam cerobong. Campuran itu lalu mengalir ke dalam tanki yang dipanaskan dengan bahan bakar batu bara. Ketika temperature mencapai titik katalis maka keluarlah minyak yang nantinya akan di alirkan melalui pipa menuju tanki pendingin. Kemudian minyak dimurnikan dengan pompa dan akhirnya akan diproses menjadi bensin dan solar. Proses daur ulang plastik ini telah berkembang menjadi bisnis antar negara.

Dalam bentuk kerajinan, tony Juanda asal Palembang telah mendaur ulang kaleng bekas menjadi sebuah karya seni pelintir kaleng. Ide ini muncul dari kebutuhan dekorasi penganten adat Palembang yang biasanya dihiasi dengan rumbai-rumbai terbuat dari kertas. Oleh Tony, rumbai-rumbai kertas itu diganti dengan materi kaleng bekas dan hasilnya memang lebih indah. Sejak peristiwa inilah, Tony mulai mengembangkan seni pelintir kaleng dengan berbagai bentuk. Dan yang tidak kalah pentingnya, ia bisa memperoleh penghasilan cukup dari kreasi daur ulangnya.

Sisi positif penanganan limbah pun dikotori oleh perlakuan negatif. Sebagai contoh atas nama daur ulang, pemerintah Jerman dengan kreatifnya telah mengekspor limbah secara illegal ke negara lain, terutama negera dunia ketiga. Dan yang diekspor tidak hanya limbah plastik, tapi pula sejumlah jenis limbah beracun dan berbahaya.

Setiap usaha untuk mencari teknologi daur ulang merupakan langkah kedepan untuk mengatasi menggunungnya limbah. Namun jika kita tidak merubah cara hidup untuk mengurangi limbah, maka limbah tetap menumpuk. Dan yang terjadi bukannya menyelamatkan bumi dari kehancuran melainkan tanpa sadar kita ternyata sedang mendukung bisnis daur ulang.

Tak terlalu rumit untuk ikut sert mengatasi limbah, yang diperlukan hanyalah komitmen dan disiplin. Semuanya bisa dimulai dari hal yang sederhana di lingkungan sekitar kita sendiri, mulailah memilah sampah organic dan non organik. Sebagai ilustrasi, ada seorang ibu bernama Ireng Larasari yang dikenal dengan sebutan ibu pecinta sampah dari Yogyakarta. Di rumahnya ia sediakan tiga kantong sampah yaitu buang limbah plastik, kertas dan nabati. Khusus untuk sampah nabati, ibu Ireng telah membuat lubang di taman depan rumahnya yang nantinya akan menjadi kompos. Tak hanya di dalam rumah, ibu Ireng pun membuat 2 tempat sampah di taman milik umum, agar masyarakat pun ikut memilah buangan limbahnya di tempat yang berbeda.

Selain pemilahan sampah, hendaknya setiap orang menghindari pemakaian piring kertas, cangkir, pembungkus plastik, aluminium foil. Juga hindari penggunaan bungkus yang berlebihan terutama bungkusan sekali buang. Dan jika pergi belanja jangan lupa membawa tas belanja dari kain/kanvas/anyaman.

Cara hidup ramah lingkungan sebaiknya menjadi sebuah keputusan setiap penghuni bumi. Ini adalah kekuatan memelihara lingkungan dan paling efektif mengalahkan kekuatan industry.

Leave a Reply

Close Menu