Cukur Rambut

1997_awal Desember_Edisi 082_bahas:
Cukur Rambut

Jangan anggap sepele orang yang punya profesi mencukur rambut, karena kalau melongok sejarahnya, tukang cukur pun dipercaya untuk menangai pembedahan!
Jangan pula menganggap remeh persoalan cukur mencukur rambut, karena mulai dari perlengkapan sampai upacara adat sering kali jadi bagian penting yang perlu proses berbelit-belit.

  1. Dari Masa Lalu

Di tahun 1905, penduduk golongan tionghoa di Yogyakarta diperkirakan berjumlah 4200, mereka hidup berkelompok mendirikan kampung Pecinan. Pemukimannya menyebar di beberapa lokasi kota Yogyakarta, seperti daerah Ketandan, Gandekan, Ngabean, Adiwinatan, dan Malioboro, yang menjadi pusat perdagangan legendaries sampai saat ini. Di daerah Malioboro inilah masih dapat ditemui bisnis jasa khas Tionghoa seperti toko obat, tukang gigi, dan barber shop.

Barber shop “Khiang Gin” yang kini bernama “Masa Baru” merupakan tempat cukur tertua di Yogyakarta, didirikan tahun 1921 oleh seorang pendatang dari dataran Cina. Rupanya di jaman colonial, Barber Shop “Masa Baru” termasuk kategori jasa layanan mewah yang hanya bisa dikonsumsi oleh kalangan atas. Pelanggannya kebanyakan orang Belanda, Jepang, Cina dan para priyayi Jawa.

Suasana silam masih terasa ketika memasuki barber shop masa baru. Desain interior maupun mebelnya tidak dirubah sejak jaman Belanda. Menurut Pak Subiyanto, seluruh perangkat kursi cukur, meja, kotak hingga lampunya dipesan langsung dari Singapura. Satu peralatan yang menarik adalah lampunya,yang dirancang sedemikian rupa agar bisa ditarik ke atas dan ke bawah untuk keperluan jasa pembersihan kuping (kilik kuping). Mengikuti aturan Eropa yang berlaku di jaman Belanda, sampai tahun 1960’an “Masa Baru” masih dilengkapi dengan symbol “barber shop” berupa balutan kayu di atas baskom berwarna merah putih yang diletakkan di kaca depan.

Dari awal berdirinya,barber shop ini dikelola oleh keluarga, dan kini tinggal pak Subiyanto, yang mengurusi bisnis warisan mertuanya ini. Sejak usia 13 tahun, Pak Subiyanto diajar mencukur oleh keluarganya dan ia mulai menekuni profesi tukang cukur tahun 1958, sampai akhirnya menikah dengan wanita dari kampung Malioboro tahun 1963. Sebelumnya ia bekerja dengan kakak iparanya yang sudah almarhum. Karena sampai saat ini belum ada yang cukup handal unutk menggantikannya, maka sejak pukul 08.30-16.00, Pak Subiyanto setiap harinya bekerja sendirian melayani pelanggan, yang rata-rata berjumlah 10 orang/hari. Dengan tariff Rp. 7.000,-/orang. Usaha Barber Shop “Masa Baru” nampaknya dapat tetap bertahan melewati jaman.

  1. Semakin Tajam, Semakin Baik

Peralatan cukur Barber Shop tidak kalah tajamnya dengan peralatan di ruang operasi. Macam-macam jenis pisau, gunitng, tondes harus dirawat agar tetap jitu memangkas setiap helaian rambut. Setiap habis dipakai, pisau cukur biasanya diasah dan dibersihkan dengan kulit dari ikat pinggang bekas. Kebersihan menjadi prioritas utama, karena dikhawatirkan cukur dapat mengakibatkan luka diwajah. Segala sisa rambut langsung dibersihkan dengan sikat “brush” dan agar tidak gatal sekitar leher di bubuhi bedak atau tepung. Tata cara cukur antara barber shop dan tukang cukur jalanan relative tidak jauh berbeda. Tapi soal peralatan memang bisa berbeda, misalnya di Barber Shop tersedia alat pijat listrik atau alat cukur listrik yang sering kali tidak terdapat pada tukang cukur “bawah pohon”

  1. Di Medan, Cukur Disebut Cuci Muka!

Sebutan cuci muka ini hanya berlaku untuk mencukur a la Cina. Tidak seperti cukur rambut atau jenggot yang biasa kita kenal, proses pencukuran dari daratan Cina punya ciri tersendiri. Mereka tidak hanya memangkas, tapi juga membersihkan secara detil semua anak rambut di sekujur wajah. Dari jidat, pipi hingga rambut di lubang hidung pun menjadi sasaran pisau cukur-bahkan tersedia alat dari bulu angsa untuk membersihkan lubang telinga. Oleh karena itu barber shop milik orang Tionghoa, seperti Barber Shop Masa Baru, biasanya dilengkapi lampu khusus yang fungsinya untuk menerangi lubang kuping. Dengan hasil wajah yang terlihat lebih licim, bersih, necis, sehingga tidak heran jika orang Medan menyebut cara cukur ini dengan istilah Cuci Muka.

 

Leave a Reply

Close Menu