Community paper itu bernama Entho Cothot

1999_September_Edisi 104_peduli:
Community paper itu bernama Entho Cothot

Era reformasi tidak saja ditandai dengan lahirnya lebih dari 1.600 Surat izin Usaha penerbitan Pers (SIUPP) baru. Lebih dari itu, di masa penuh perubahan serba cepat ini, masyarkat pun dihadapkan pada sebuah pemikiran baru, bahwa beragamnya media massa tidak menjamin sebuah pemahaman yang betul tentang persoalan di sekitar pembaca. Tidak jarang berita-berita yang ditampilkan malah membuat bingung sampai akhirnya mendorong munculnya sikap “tidak mau tahu.” Tentu saja sikap ini bertentangan dengan salah satu tujuan media massa, yaitu membuat pembacanya “ingin tahu.”

Lahirnya jurnalis-jurnalis “belum matang”, meminjam kata-kata Satrio Arismunandar (Redaktur Pelaksana Majalah D&R), tidak saja menghasilkan media yang kedodoran, tapi sering kali juga membuat kisruh arus lalu lintas berita di masyarakat. Dan ketika masyarkat menentukan sikap penolakan, berguguranlah media yang baru lahir tersebut satu per satu.

Tentunya media massa bukanlah lahan untuk menjual sensasi berita. Karena kehadirannya tidak saja harus memperluas wawasan tapi, yang paling penting, dapat melahirkan nurani dan tanggung jawab.

Berbicara mengenai wawasan dan sikap yang harus dibangun oleh media massa, ada sebuah kasus yang mungkin dapat jadi renungan, betapa seharusnya kerja media massa lebih berkiprah untuk memberdayakan masyarakat pedesaan, kaum yang paling menderita di tengah gonjang-ganjing politik dan ekonomi saat ini.

Memberdayakan masyarakat melalui media cetak, mungkin terlalu muluk menurut anggapan seorang lulusan Fakultas Seni Rupa ITB bersama Singgih S. Kartono, Dengan bahsa yang sederhana, ia malah menggambarkan kelahiran community paper-nya sebagai “cemilan informasi mingguan, bikin gemuk pikiran” bagi warga Desa Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah.

Jangan berharap community paper garapan Singgih akan seperti tampilan Info Kelapa Gading bagi warga pemukiman Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dengan format selembar folio dilipat empat dan cetakan kualitas teknologi Xerox alias foto kopi, terbitan ini tampil sesederhana namanya, Entho Cothot (EO, cemilan berbahan dasar singkong (sejenis misro) kegemaran warga Desa Kandangan. Namun, ensensi EC tidaklah sesederhana itu. Simak saja beberapa tema yang diangkatnya, mulai dari “apa yang akan terjadi bila desa subur seluas 355 Ha ini digarap oleh bangsa Barat?”. “desaku sudah berubah, kemajuan fisik bayak tapi mental masyarakatnya malah cenderung mundur”, “it Takes a Village untuk warga Kandangan”, sampai dengan “mengenai lebih jauh pribadi dan program para kandidat Kepala Desa”, “control sosial bagi proyek-proyek di Desa Kandangan”, “resiko jadi bangsa merdeka”, dan “pemilu jurdil.”

EC telah terbit lebih dari 50 edisi. Penulisnya masih satu orang, ya masih Singgih itu, tapi penggunanya semakin banyak saja. Paling tidak ada lebih dari 40 warga yang berlangganan terbitan seharga Rp. 200,- ini. Di edisi ke-4 bahkan dimuat ucapan terimkasih kepada dr. Suparjo yang mau berlangganan sampai 10 edisi dan kepada Bu Anteng, Camat Kandangan, yang selain berlangganan untuk sendiri juga untuk kantornya. Dan untuk menjangkau pembaca yang lebih luas, EC tidak saja melibatkan Sri Wahyuni, istri yang banyak berkeliling desa, tak juga merangkul pihak percetakan (baca: pemilik Foto Copy Alfa) untuk turut menjadi distributor.

Bagi seorang sarjana yang memilih pulang kampung seperti Singgih, EC adalah semacam kontribusi intelektual. Ia mengajak teman-teman sesama warga Kandangan untuk kenal, berpikir, dan bertindak bagi desa yang juga harus menghadapi era millenium baru. Seperti juga desa-desa lain di Indonesia, Kandangan seharusnya tidak jauh tertinggal dalam upaya memperkuat daya masyarakatnya untuk bertahan dan berkembang di abad mendatang. Dan Informasi yang lahir dari kejernihan pendangan (dan nurani) adalah salah satu cara mewujudkannya.

Community paper itu bernama Entho Cothot, ‘cemilan informasi mingguan, bikin gemuk pikiran”-nya warga Desa Kandangan.

Sumber: Entho Cothot. Surat dan telepon Singgih,.”Tetap Independen”, Aliansi Jurnalis Independen, Agustus 1999.

Leave a Reply

Close Menu