Coca Cola, Handphone dan Internet !

1998_Juni_Edisi 091_bahas:
Coca Cola, Handphone dan Internet !
Santi

“Desa Global”, Inilah konsep Marshall McLuhan, yang menunjukkan bahwa luas wilayah, jarak, dan sekat antar negara tidak menjadi rintangan karena semakin berkembangnya teknologi informasi.

Teknologi informasi memungkinkan coca cola digilai remaja di berbagai belahan dunia : Teknologi Informasi memungkinkan handphone ditenteng di sebuah mikrolet karena dianggap benda bergenggsi. Mencermati kembali keberadaan teknologi informasi di Indonesia, maka sering kita bertanya-tanya, apakah bangsa ini sudah cukup siap menerima segala bentuk teknologi ini?

Untuk menjawab pertanyaan sulit ini, Triyono Likmantoro, S.Sos, pakar komunikasi dari Universitas Diponegoro-Semarang, mengatakan bahwa perkembangan teknologi komunikasi harus dilihat secara krtitis, Artinya, pengkonsumsian teknologi harus dikaitkan dengan kultur setempat.

Menyitir pemikiran Alvin Toffler, maka masyarakat Indonesia saat ini mengalami loncatan dari tiga tahapan. Jika Toeffler mengatakan bahwa masyarakat melewati tahap dari masyarakat pertanian, kemudian ke masyarakat industri, dan selanjutnya adalah masyarakat informasi, maka masyarakat yang sebenarnya telah meninggalkan tahapan pertanian tapi belum sepenuhnya memasuki tahapan industri. Dengan demikian ketika teknologi informasi yang dilahirkan oleh masyarakat Informasi ini tiba-tiba dipaksakan untuk diterima oleh masyarakat Indonesia, maka yang terjadi adalah sebuah shock-culture. Walhasil fungsi teknologi seringkali menjadi salah kaprah alias tidak berfungsi apa adanya.

Di Indonesia, hand-phone dan pager yang harusnya berfungsi sebagai alat bantu untuk mempermudah komunikasi beralih fungsi menjadi sekedar alat petunjuk prestise seseorang. Bahkan banyak bukti memperlihatkan bagaimana orang-orang rela untuk menenteng hand-phone dan pager yang sebetulnya tidak bisa berfungsi hanya supaya bisa mejeng di pusat-pusat keramaian dan kemudian orang lain akan melihatnya sebagai bagian dari kelompok kelas menengah yang punya prestise. Internet begitu dicandui sampai-sampai harus menunggak biaya telepon.

Disinilah, menurut Triyono, masyarakat Indonesia seringkali melihat teknologi informasi bukan dari sisi nilai gunanya tapi dari sisi nilai simbol status. Kondisi inilah yang pernah ditakutkan oleh Walter Lippman-yang mengatakan bahwa teknologi menjadi berbahaya karena dapat menciptakan “picture in our head”. Maksudnya tidak sekedar memberikan realitas yang sesungguhnya, tapi hanya merekayasa tanda-tanda.

Rekayasa inilah yang menjadi ancaman dalam pembentukan pemikiran manusia. Sebagai contoh Amerika Serikat, mereka sama sekali tidak menundukkan dunia Arab melalui diplomasi politik atau bahkan melalui kekuatan militer, tapi justru melalui iklan produk Coca-Cola yang ditayangkan secara terus menerus melalui TV, yang merupakan salah satu hasil dari teknologi informasi. Dengan penerimaan Coca-Cola ini sebenarnya, sadar atau tidak, dunia Arab telah menerima pengaruh Amerika dengan tangan terbuka.

Namun diingatkan oleh Triyono bahwa sangat naïf jika kita menolak sebuah penemuan teknologi baru hanya karena ketakutan bahwa teknologi tersebut akan “menghancurkan” kemanusiaan. Menurutnya, yang diperlukan sekarang adalah bagaimana menjadikan teknologi menjadi “manusiawi.” Artinya, jika tujuan penciptaan teknologi adalah sebagai sarana untuk mempermudah kerja seseorang, maka kembalikanlah tujuan tersebut sebagaimana mestinya. Selain itu, penerimaan sebuah teknologi dalam masyarakat perlu dibarengi dengan adanya mentalitas, modal, dan skill. Artinya, selama kita hanya sekedar bertindak sebagai konsumen teknologi maka selamanya kita hanya akan menjadi alat dan objek dari kepentingan ekonomi dan politik dari negeri pencipta teknologi. Dan selama penciptaan teknologi tidak didasarkan pada kebutuhan masyarakat kita sendiri, maka teknologi tersebut akan menjadi asing dan tidak berguna untuk masyarkat banyak.

Memang, diakui oleh Triyono, bahwa apa yang dikemukanannya hanyalah sekedar sebuah himbauan. Dia tidak bisa memungkiri bahwa teknologi selalu terikat pada kepentingan ekonomi dan politik dari sebuah kelompok tertentu. Karena bagaimanapun juga, sadar atau tidak, kemajuan teknologi yang telah dicapai selama ini telah merubah banyak perubahan dalam kehidupan kita sehari-hari. Mengutip apa yang dikatakan oleh Karen Paulsell, dalam tulisannya yang berjudul Computer and Communication, teknologi membawa perubahan pada hubungan antar manusia, pada rumah dan tempat kerja kita, pada udara yang kita hirup, pada hutan-hutan  dan ada lapisan ozon.

Persoalannya adalah bagaimana kita memulai dari diri kita sendiri untuk membuat sebuah teknologi menjadi lebih “manusiawi” [santi]

Leave a Reply

Close Menu