Circus

1998_Agustus_Edisi 093_bahas:
Circus

Sirkus = berarti bundaran atau lingkaran – bisa berarti sekelompok permainan akrobat dan perilaku binatang yang unik – berarti pula warna-warni lagak pakaian – atau berarti tenda besar penuh warna. Begitu banyak asosiasi dari kata sirkus ! namun sirkus adalah elemen kehidupan sekelompok manusia – yang dalam sejarahnya selalu terlempar-lempar = dibenci sekaligus disukai, dihormat sekaligus dihina –dicintai sekaligus disakiti  dan ramai sekaligus sepi.

Embrio tikus bisa ditelusuri sejak jaman romawi dan yunani kuno, misalnya dalam bentuk pertandingan kuda atau pergulatan antara manusia dan binatang. Bentuk sirkus gaya romawi bisa ditemukan di mesir kuno – yaitu ketika Ptolemy, putra Iskandar Agung, dari dinasti Macedonia menguasai mesir dari 323 – 30SM. Saat itu muncul kebiasaan untuk membuat parade binatang-biantang aneh/eksotis sebelum berlangsungnya upacara keagamaan. Tertarik akan parade binatang itu, langsung saja Ptolomey membiayai berbagai ekspedisi ke Ethiopia untuk mencari gajah ke Afrika mencari simpanze. Prosesi ragam binatang paling spektakuler yang pernah terjadi di mesir saat itu adalah saat perayaan pada awal Dionysus yang diorganisasikan oleh Ptolemy untuk mengawali kekuasaannya.

CirCus maximus : Agen Legitimasi Kekuasaan di Romawi Kuno Pertunjukan binatang oleh para magistri [pelatih binatang] di Kerajaan romawi kuno biasanya di adakan di CirCus MaxiMus – sebuah arena balapan kereta kuda. Dalam bentuk yang paling sempurna. CirCus Maximus dapat menampung sekitar 200.000 penonton. Dua tokoh yang menggunakan pertunjukan ini untuk tujuan politik adalah Pompey dan Julius Caesar. Di masa kekuasaan mereka, wibawa kerajaan Romawi sedang merosot, sehingga untuk mengembalikan reputasi dan menaikkan popularitasnya, mereka membutuhkan dukungan massa melalui pertunjukan spektakuler sekaligus membagikan “sembako”berupa jagung untuk rakyat yang kelaparan. Acara ini disebut Oanis et circenses – roti dan sirkus – sebuah usaha untuk merebut hati rakyat romawi kuno agar kembali pada kebesaran kerajaannya.

Walau diperuntukkan bagi rakyat romawi, pertunjukan circus maximus juga dikonsumsi oleh para pejabat kerajaan, sehingga muncul aturan-aturan dalam menonton sirkus. Misalnya para senator duduk di kursi paling bawah, sementara para kesatria di deretan tengah dan sisanya untuk warga biasa. Selain itu mulai diberlakukan tata cara berpakain menonton, semisal setiap pengunjung dipaksa untuk mengenakan jubah atau didiizinkan memakai pakaian warna-warni kecuali warna putih, merah tua, ungu. Di masa pemerintahan Kaisar Agustus, peraturan ini diperlonggar dimana masyarakat bisa menonton sirkus tanpa sepatu di musim panas. Meskipun CirCus maximum menjadi tontonan bergengsi di masa romawi kuno, namun disekitar gedungnya tetap bermunculan pedagang-pedagang kaki lima, para peramal, dan pelacur. Seorang penulis nasrani menuliskan, bahwa pelacur tersebut berasal dari timur, menari dengan kostum oriental dengan iringan simbal, drum dan kastanyet. Konon karena bisingnya pertunjukan circus maximum, kaisar romawi terkenal. Klaigula, pernah mengirim tentaranya untuk memukul penonon dengan tongkat gada agar diam. Juga terkabar, ada yang melempar ular kesekumpulan penonton hingga banyak orang yang tewas. Melihat situasi ini, maka demi kenyamanan menonton, para bangsawan dan orang kaya biasanya membawa segerombolan budak-budak kekar.

Philip Astley : Bapak Sirkus Modern John Evelyn, pria kebangsaan Eropa yang hidup di abad 17 bercerita…” Di Southwark, saya melihat pasar malam St. Magaret  yang diramaikan oleh sekumpulan monyet sedang menari dengan para pemain akrobat : ada pula  pemainan juggling : menyemburkan api dari mulut : juga terlihat Jacob Hall menari di atas seutas tali dengan gerak-gerak yang tidak pernah saya jumpai sebelumnya. Para pemain akrobat itu kebanyakan berasal dari timur tengah dan asia, sehingga menjadi tontonan menarik pada bangsa Eropa. Pada abad 17-18, pasar malam Eropa memang memainkan peranan penting dalam dunia perdagangan – dan disana pula pertunjukan akrobat  mendapat tempat di hati masyarkat. Namun sampai abad 18, belum ada usaha untuk menyatukan berbagai bentuk atraksi ini dalam sebuah pertunjukan. Phillip Astley [1742-1814], seorang veteran perang dari kavalri Inggris mulai menyatukan berbagai elemen pertunjukan yang nantinya menjadi cikal bakal bentuk sirkus modern. Mulanya Astley telah menemukan gaya-gaya akrobat di atas kuda. Temuannya ini merupakan hasil percobaannya mencari keseimbangan ketika kuda sedang melaju dalam putaran atau lingkaran. Bentuk lingkaran inilah yang mengawali bentuk ajang pementasan sirkus modern. Kemudian atas ide Astley, ring dikelilingi oleh sederatan tempat duduk bertingkat-tingkat. Disamping mengadakan perombakan ajang pentas sirkus, Astey sadar akan pentingnya promosi. Dan memang popularitasnya makin melesat tatkala ia mendirikan amphiteater yang juga digunakan sebagai pendidikan berkuda di Lambeths sade of Londons West Minster Bridge. Untuk meramaikan pertunjukannya, Astley menambah materi acara seperti atraksi badutnya Mr. Merryman, musik, akrobat, juggling, menari di atas seutas tali. Lalu dengan adanya hubungan antara Inggris dengan daerah jajahannya di India, maka Astley bisa memperoleh binatang seperti gajah untuk memperkaya materi atraksi binatang.

Penyebaran Sirkus modern di Eropa tak lepas pula dari peranan Phillip Astley. Di tahun 1772 ia pergi ke Perancis untuk memperlihatkan “kepiawaiannya berakrobat di atas kuda”. Di sana ia melihat bahwa banyak pemain akrobat telah hengkang dari keramaian pasar malam. 10 tahun kemudian, Astley kembali ke Perancis dan membuka amphiteater. Lalu ketika pertikaian antara inggris dan Perancis berkembang, Astley mengontrak amphiteater itu untuk Antonio Franconi [1737-1836], seorang keluarga bangsawan Venesia. Franconi menjadi primadona dalam pertunjukan sirkus perancis, dan kemudian ia pun meneruskan kepemilikan amphiteater itu dari Phillip Astley. Anak dan mantunya juga terjun dalam dunia sirkus, sehingga akhirnya bisa dikatakan bahwa keluarga Franconi menjadi pendiri sirkus perancis. Reputasi mereka adalah membuat standar ring seukuran 13 meter yang hingga kini masih dipakai oleh kebanyakan sirkus di dunia. Di tahun 1782, Astley mengadakan perjalanan ke Belgrade, mengunjungi Brsussel dan Vienna. Selama hidupnya ia telah mendirikan 19 sirkus permanen. Saingannya, Charles Hughes dari The Royal Ciscus di tahun 1793, telah memperkenalkan sirkus di Rusia saat ia mempertunjukkan sirkusnya di hadapan “Cahterine The Great”. Tahun 1793, John Bill Rickets, seorang penunggang kuda yang biasanya berlaga di Inggris mendirikan sirkus di Philadelphia dan kota New York. Nasib Rickets sangat tragis, karena tempat pertunjukannya terbakar sehingga ia harus kembali ke Inggris. Namun dalam perjalanan laut, amukan badai telah menghantam kapalnya sehingga ia pun hilang bersama sirkusnya. Entah sebuah kutukan, tetapi tempat pertunjukan sirkus seringkali hancur terbakar api. Ampiteater milik Phillip Astley telah 3 kali mengalami kebakaran. Ricktetts juga kehilangan sirkus di New York dan Philladelpia karena api. Setelah perang dunia, sekitar tahun 1812-an, bentuk sirkus permanen mulai digantikan oleh tenda-tenda yang bisa dibongkar pasang di lapangan rumput luas. Bisanya kelompok-kelompok sirkus ini melakukan perjalanan dengan angkutan kereta api, kereta kuda, truk, caravan. Bentuk sirkus keliling dinilai yang menjadi nenek moyang sirkus bertenda besar yang hingga kini selalu ditunggu kedatangannya di setiap kota.

 

Leave a Reply

Close Menu