Coretan Program Bahari

Beberapa waktu lalu, bersama Toha, saya mencoba membuat coretan untuk menjawab apa yang dibutuhkan di dalam sebuah program, sehingga dapat membantu pulihnya martabat negeri ini. Kami menemukan tiga hal, yaitu: Multikultur, Quadra-Helix, dan Ekonomi Kerakyatan.

Berikut ini coretan kami dalam bentuk skema sederhana. Pada skema terkahir, saya mencoba membuat ‘turunan’ program yang akan diuji-jalankan mulai November 2017.

Sila simak dan beri masukan di bawah.

Antara Teknologi dan Kesetaraan: Studi Kasus Bemo Bertenaga Listrik

Di 2011 sebuah kelompok warga Jakarta mulai melakukan upaya revitalisasi atas keberadaan bemo (becak motor) sebagai moda transportasi kota Jakarta. Teknologi kendaraan bertenaga listrik diajukan oleh kelompok madani itu sebagai alternatif dari pelarangan bemo untuk beroperasi. Bemo bertenaga listrik (bemo gatrik)[1] merupakan solusi karena, bagi kelompok tersebut, peniadaan bemo akan ikut menekan daya imajinasi, inspirasi, dan inovasi warga Jakarta – bila tidak bisa disebut menghilangkan satu dari banyak akar kebudayaan kota.

Kelompok yang terdiri warga kota dari berbagai latar belakang ini beranggapan bahwa bemo perlu dilestarikan, karena memiliki sejarah yang panjang dan mengkonstruksi budaya kota Jakarta. Terlebih akibat dari kepunahannya akan lebih banyak memberi dampak buruk dari (sekedar) soal risiko peremajaan transportasi kota. Bagi sebagian warga kota Jakarta, bemo merupakan bagian dari kehidupan mereka. Bemo merupakan moda transportasi murah meriah yang dapat menelusuri jalan-jalan kecil di antara perumahan, sehingga memungkinkan warga kota untuk berpindah tempat dengan efisien di dalam jarak yang terlalu jauh untuk dilakukan dengan berjalan kaki, terlalu dekat bila menggunakan kendaraan bermotor lain. Bemo merupakan kenangan masa lalu yang tidak ingin dilupakan. Hal lain yang sangat disayangkan bila bemo dibuat punah adalah artikulasi yang dapat timbul kemudian adalah konotasi bahwa konsumsi benda-benda baru lebih diutamakan. Benda lama dianggap tidak berguna dan perlu diganti, tanpa memperhitungkan nilai kebudayaannya. Dalam hal ini, bemo sebagai obyek yang telah ikut mengonstruksi kebudayaan kota Jakarta dianggap tidak berguna.

Becak motor itu awalnya adalah kendaraan pengangkut barang produksi pabrik Daihatsu antara 1957-1963. Oleh Presiden Soekarno bemo dijadikan kendaraan pengangkut penumpang untuk menyambut perhelatan olahraga internasional di Jakarta, pada Ganefo di 1963. Di 1996 Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Soerjadi Soedirdja mengeluarkan Surat Keputusan Gubernur yang intinya melarang beroperasinya bemo di ibukota. Bemo yang beroda tiga dan bertenaga mesin 2-langkah (2-tak, berbahan bakar bensin campur oli) itu dilarang beroperasi, harus diremajakan, atau lebih tepatnya digantikan, dengan kendaraan roda empat bermesin 4-langkah (4-tak, berbahan bakar bensin).

Sejak Surat Keputusan Gubernur itu berlaku, banyak bemo yang ditangkap untuk dihancurkan. Sebagai pengganti, pengemudi bemo diberi fasilitas kredit kendaraan Angkutan Pengganti Bemo (APB) yang beroda empat. Faktor ketidaksiapan birokrasi dan banyaknya oknum di lapangan mengakibatkan ratusan pengemudi bemo itu tidak dapat menggunakan fasilitas yang ditawarkan. Bemo-bemo yang terjaring diperjualbelikan secara tidak resmi, sehingga ratusan bemo yang terjaring itu kembali beroperasi, walau tanpa surat-surat resmi. Karena bemo menjadi sebuah kendaraan yang tidak legal, jumlah pemasok suku cadang untuk kendaraan beroda tiga itu makin lama makin berkurang, mengakibatkan suku cadang bemo pun sulit didapat. Para pengemudi bemo bergelut dalam situasi yang sulit. Selain mereka perlu bersiasat untuk menghadapi aparat hukum, mereka perlu memberdayakan kreativitas yang tinggi untuk membuat bemo-bemo mereka mampu untuk terus beroperasi demi dapat tetap menghasilkan uang untuk hidup mereka dan keluarga.

Untuk mengatasi masalah tersebut, di 2012 sebuah kelompok madani warga Jakarta mendorong program revitalisasi bemo. Selain melakukan pendekatan ke pihak pemerintah, kelompok ini berpatungan dan bergotong-royong menghadirkan berbagai teknologi yang mudah, murah, dan cocok untuk diterapkan pada bemo. Harapannya, teknologi yang tepat dapat mendorong perbaikan kehidupan para pengemudi bemo. Teknologi diharapkan dapat menghadirkan kesetaraan.

Berbagai eksperimen dilakukan yang utamanya adalah untuk menjawab permasalahan inti, yaitu agar bemo tidak mengakibatkan polusi suara dan udara. Mulai dari eksperimentasi menggunakan gas hidrogen yang disalurkan ke karburator untuk menekan gas buang, sampai akhirnya berhasil membangun sebuah bemo bertenaga listrik (bemo gatrik) berbadan serat kaca (fiberglass). Usaha patungan dan gotong-royong sebagian kecil warga Jakarta itu banyak membantu dalam proses eksperimentasi, sehingga bemo gatrik dapat meluncur ke Balai Kota untuk mengajukan sebuah alternatif transportasi kota yang bebas polusi udara dan suara di Februari 2013.

Teknologi motor listrik (Brushless Direct Curent motor) dan baterai jenis Solid Lead Acid (SLA) yang digunakan untuk menggerakkan purwarupa (prototype) bemo gatrik mampu mengangkut beban jarak pendek, sesuai dengan kebutuhan para pengemudi bemo. Teknologi motor tanpa sikat itu meminimalisir adanya kebutuhan perawatan berbiaya tinggi, seperti penggantian pelumas secara berkala. Baterai SLA merupakan wadah penyimpan energi listrik yang paling minimal untuk suatu aplikasi kendaraan listrik. Masa operasinya cenderung panjang, yaitu dapat mencapai dua tahun. Saat uji coba untuk menarik penumpang, bemo gatrik mampu menempuh sekurang-kurangnya jarak 15 kilometer dengan beban enam penumpang di belakang dan satu di depan, sebelum kemudian perlu dilakukan pengisian baterai (charging) selama enam jam. Kemampuan ini dianggap dapat menjawab kebutuhan para pengemudi bemo yang mengangkut penumpang empat sampai lima rit di pagi hari pukul 6-9 dan di sore hari pukul 16-19.

Teknologi yang diaplikasikan pada sebuah purwarupa bemo gatrik itu diharapkan dapat sedikit banyak meningkatkan posisi tawar para pengemudi bemo di mata birokrasi pemerintah, sehingga negosiasi dapat terjadi secara setara. Berbagai usaha dilakukan untuk menghadirkan teknologi yang dapat dikelola secara mandiri, tanpa tergantung pada produsen skala industri, namun ternyata tidak mendapat tanggapan yang setara dari pihak pemerintah. Para pengemudi bemo tetap dihadapkan pada pelarangan yang tercantum di dalam Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta yang dikeluarkan pada 1996.

Imajinasi, inspirasi, dan inovasi melalui teknologi tenaga listrik pada bemo gatrik ternyata memperlihatkan tidak majunyanya cara pikir aparat negara. Hal ini dapat disimpulkan, bila tidak ingin berasumsi bahwa teknologi kendaraan listrik akan menggeser, mengecilkan, sehingga menurunkan pendapatan pabrik kendaraan bertenaga bahan bakar minyak – fosil. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Edward Tenner dalam bukunya Why Things Bite Back, bahwa pada setiap langkah maju di dunia teknologi, bersamanya akan membawa kemunduran satu langkah yang tidak terduga.[2] Dari studi kasus program revitalisasi bemo gatrik di Jakarta, kita dapat melihat bahwa kehadiran teknologi tidak selalu menghadirkan kesetaraan di tengah-tengah masyarakat. Untuk mencapai kesetaraan dalam berkehidupan perlu didampingi adanya pemikiran kritis dan niat progresif dari setiap pihak yang terlibat dalamnya.

 

[1] Program Revitalisasi ini dapat diketahui lebih lanjut melalui situs aikon.org.

[2]A step forward in technology tends to bring with it an unexpected step backward. A step forward for some people frequently brings with it a step backward for others.” Dikutip dari tulisan Profesor Freeman Dyson berjudul Technology and Social Justice di dalam kuliah umum Nizer 1998. Freeman Dyson adalah akademisi di Institute for Advanced Study in Princeton, New Jersey. Di unduh dari tulisan situs Carnegie Council November 25, 1997. https://www.carnegiecouncil.org/publications/archive/nizer_lectures/004 pada 21 Juni 2017, pukul 09:35.

IRTCC Regulation (in Indonesian)

REGULASI
TEKNIK DAN NON-TEKNIK
“INDONESIAN RETRO TOURING CAR CHAMPIONSHIP ( IRTCC ) 2008”

1. KATEGORI
1.1 Kategori kendaraan yang diperbolehkan untuk mengikuti INDONESIAN RETRO TOURING CAR CHAMPIONSHIP (IRTCC) 2008 adalah kendaraan dengan tahun produksi maksimum tahun 1985 dengan penggerak roda belakang (RWD).
1.2 Kategori pembalap Non Seeded dan Pemula untuk RETRO & RETRO1.
1.3 Kategori pembalap Seeded untuk RETRO 2.
1.4 Pembalap yang menggunakan kendaraan VW HARUS mendapat rekomendasi dari Volkswagen Racing Association (VRA).
1.5 Kategori kelas yang diperlombakan:
Retro Kendaraan dengan kapasitas mesin 0 cc – 1600 cc*.
Retro 1 Kendaraan dengan kapasitas mesin 1601 cc – 2000 cc*.
Retro 2 Kendaraan dengan kapasitas mesin 0 cc – 2000 cc*. (Seeded)
*oversize maksimal 1 mm contoh :
1600 cc piston diameter 78 mm maksimum oversize 79 mm
2000 cc piston diameter 85 mm maksimum oversize 86 mm

2. BERAT MINIMUM
2.1 Berat minimum adalah berat kendaraan termasuk pembalap, perlengkapannya dan peralatan keselamatan.
2.2 Berat kendaraan tidak pernah boleh lebih ringan daripada apa yang tertera pada peraturan ini, baik dalam babak kualifikasi maupun pada saat balapan.
2.3 Ballast (berat tambahan) dapat ditambahkan untuk mencapai berat minimum. Ballast harus terbuat dari besi dan dipasangkan pada mobil secara permanen dengan di las, atau semi permanen dengan mur dan baut. Lokasi penempatan ballast bebas, tetapi harus di dalam kabin penumpang dan/ atau bagasi.
2.4 Berat minimum kendaraan sesuai dengan kapasitas mesin adalah sebagai berikut:
0 cc s/d 1600 cc (RETRO) minimum 900 Kg (Seeded +60 Kg)
1601 cc s/d 2000 cc (RETRO 1) minimum 1.000 Kg (Seeded +60 Kg)
2.5 Penambahan berat akan diberikan pada setiap pemenang seri sebagai berikut:
Juara I : 60 Kg Juara IV : 20 Kg
Juara II : 50 Kg Juara V : 10 Kg
Juara III : 40 Kg
Penambahan berat tidak berlaku pada kelas RETRO 2 (Seeded).
2.6 Penambahan berat maksimum adalah 60 kg.
2.7 Sanksi bila kendaraan lebih ringan dari ketentuan yang berlaku adalah Start paling belakang saat kualifikasi & diskualifikasi saat lomba.

3. PERALATAN DAN KESELAMATAN
3.1. Setiap kendaraan diwajibkan memasang Rollbar minimum 6 (enam) titik dengan pipa berbahan Seamless.
3.2. Ukuran pipa dan skema, sesuai dengan buku peraturan balap mobil IMI 2008, dan wajib menggunakan side bar di pintu kanan & kiri depan.
3.3. DIHARUSKAN memasang safety belt berukuran 3 inch minimum 4 (empat) titik, tarikan seatbelt minimal 60 derajat, dan wajib menggunakan shoulder pad.
3.4. DIHARUSKAN memasang tabung Pemadam kebakaran tipe BCF/BTM min. 2,5 kg, dan harus menggunakan bracket. Khusus tabung Pemadam Kebakaran, HARUS diposisikan agar dapat dicapai dengan mudah oleh pembalap, dalam keadaan masih terikat Safety Belt di tempat duduknya.
3.5. Seluruh perlengkapan keamanan ini harus lolos scruteneering.

4. MESIN
Konfigurasi mesin inline & boxer (khusus VW) diperbolehkan.
Maksimum jumlah Cylinder adalah 4.
Penggunaan mesin sepenuhnya bebas dan diperbolehkan engine swapping serta tidak wajib se-merk dengan body kecuali VW harus menggunakan mesin VW.
Komponen Short Engine/Block kompetisi ( Racing Parts ) DILARANG.
Khusus untuk VW diperbolehkan menggunakan Crankshaft Counterweight maksimal 78 mm untuk kelas RETRO 1 dan RETRO 2, Crankshaft Counterweight maksimal 69 mm untuk kelas RETRO.
Komponen Cylinder Head BEBAS.
Mesin type ROTARYdan konfigurasi V Engine DILARANG.
Penggunaan NOS, Forced Induction – Turbocharger,Supercharger dan sejenisnya DILARANG.
Penggunaan ECU/Engine Management, dan sejenisnya DILARANG.
Tahun pembuatan mesin adalah BEBAS.
Penggunaan teknologi VTEC,VVTI,MIVEC dan sejenisnya DILARANG.
Penggunaan Dry Sump DILARANG.
Penggunaan Electric Water Pump DILARANG.
Dudukan Mesin (Engine Mounting) harus dengan konstruksi yg benar dan kuat.
WAJIB memasang engine cut off di dalam kabin dan dapat dicapai dengan mudah oleh pembalap dalam keadaan masih terikat safety belt di tempat duduknya, serta harus memasang tambahan tuas pemutus engine cut off diluar kabin.

5. PASOKAN BAHAN BAKAR DAN UDARA
Pasokan bahan bakar WAJIB menggunakan karburator dan system saringan udara bebas.
Diameter karburator maksimum 50 mm.
Ukuran Venturi/Choke untuk kelas RETRO dengan spesifikasi mesin dengan jumlah klep tidak lebih dari 16 klep maksimum diameter 36 mm dan maksimum diameter 38 mm untuk kelas RETRO 1 dan RETRO 2.
Ukuran Venturi/Choke untuk kelas RETRO dengan spesifikasi mesin dengan jumlah klep lebih dari 16 klep maksimum diameter 34 mm dan maksimum diameter 36 mm untuk kelas RETRO 1 dan RETRO 2.
Fuel Pump tidak boleh berada di ruang mesin.
Fuel Line yang berada di dalam kabin harus menggunakan bahan braided steel tanpa sambungan, sedangkan Fuel Line yang diluar kabin harus terbuat dari bahan pipa.
Tangki bahan bakar tidak boleh satu ruangan dengan pembalap. Boleh dipindah ke dalam bagasi tetapi harus dibuatkan separator.
Untuk karburator yang berada diatas header dan alternator WAJIB memakai tatakan yang terbuat dari bahan metal/plat.

6. PENGAPIAN
6.1. Merek dan type busi bebas.
6.2. Kabel busi bebas.
6.3. Koil boleh diganti dan diperbolehkan menambah alat tambahan untuk memperbesar pengapian dan jumlah pemakaian koil tidak boleh lebih dari 1 buah.
6.4. Distributorless sepenuhnya DILARANG.
6.5. Timing Programmable sepenuhnya DILARANG.

7. TRANSMISI DAN KOPLING
System Transmisi dan Kopling bebas, transmisi manual sequential tidak diperbolehkan dan flywheel harus standart (non kompetisi/racing).

8. SUSPENSI
Komponen Suspensi bebas, tapi tidak boleh mengubah system suspensi. Misalnya, mobil aslinya dengan suspensi MacPherson Strut tidak boleh dirubah menjadi double wishbone.
Khusus VW diperbolehkan penambahan sockhbreker maksimum 1 buah pada tiap roda belakang.

9. REM
System Rem sepenuhnya bebas.

10. RODA ATAU BAN
10.1. Ban yang boleh digunakan harus produksi dalam negeri atau yang diwajibkan oleh Organizing Committee IRTCC 2008.
10.2. Diameter velg maksimum berukuran 15”
10.3. Ban tidak boleh keluar dari spakbor/ harus dalam body.
10.4. Ban slick tidak diperbolehkan.

11. INTERIOR
11.1. Jok harus bucket seat
11.2. Stir boleh diganti dan ditambahkan spacer.
11.3. Tunnel Box (tutup gearbox) harus terbuat dari bahan plat, boleh diripet/dilas dan menyatu dengan ruang kabin.
11.4. Disarankan memasang No.Start di dashboard.

12. EXTERIOR
12.1. Bumper depan dan belakang boleh dirubah bentuk dan bahan, sejauh tidak mengesampingkan factor safety.
12.2. WAJIB memasang bonnet pin di kap motor.
12.3. Bodi secara keseluruhan harus tampak asli, kabin harus asli.
12.4. Pintu belakang, Kap motor, bagasi boleh diganti dengan bahan yang lebih ringan,khusus untuk pintu depan kiri boleh diganti tetapi wajib memakai double sidebar.
12.5. Kaca spion luar kiri-kanan harus ada, namun bentuk boleh dirubah.
12.6. Penambahan peralatan aerodinamis diperbolehkan.
12.7. Lampu depan dan belakang diizinkan dilepas namun lubang tempat lampu wajib di tutup rapat. Penutup lampu depan dapat dibuatkan lubang-lubang untuk udara masuk.
12.8. WAJIB memasang 1(satu) buah lampu rem berwarna merah yang berfungsi dan dapat terlihat jelas dari belakang, dengan ukuran minimal 10 x 5 cm.
12.9. Lampu sein, lampu sore dan lampu bahaya (HAZARD) harus ada dan dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
12.10. Pemakaian kaca Acrylic diperbolehkan tetapi tebal minimal harus 5 mm, kecuali kaca depan HARUS kaca laminated.
12.11. Disarankan kaca depan memakai kaca film clear.
12.12. Bodi dan Chasis harus dalam kondisi baik, dalam artian tidak ada bagian yang keropos dan bersifat membahayakan.
12.13. WAJIB memasang Towing di bagian depan dan belakang serta diberi tanda.

13. PROTES
13.1. Apabila timbul keganjilan dari spesifikasi kendaraan, maka diberlakukan sistem protes.
13.2. Setiap protes harus menyertakan permohonan tertulis dengan jelas kepada Organizing Committee (OC) IRTCC 2008.
13.3. Setiap protes dikenakan biaya sebesar Rp. 1.000.000,- (Satu Juta Rupiah) + Rp. 3.000.000,-(Tiga Juta Rupiah) untuk pengecekan/pembongkaran bila diperlukan.
13.4. Setiap protes harus sudah sampai dan terbayar lunas, selambat-lambatnya dalam waktu 30 menit setelah perlombaan berakhir.
13.5. Alasan protes harus jelas dan ditujukkan kepada siapa, serta yang mengajukan harus dapat membuktikan bahwa yang bersangkutan adalah pendaftar dan peserta yang sah.
13.6. Apabila protes tersebut benar dan diterima, maka biaya tersebut akan dikembalikan.

14. SANKSI & PEMERIKSAAN TEKNIS
14.1. Apabila pihak yang mendapat protes itu ternyata terbukti melakukan hal yang di luar dari peraturan yang berlaku (dalam hal ini Peraturan Teknik dan Peraturan Perlombaan), maka pihak tersebut DIHARUSKAN membayar penalty sebesar Rp. 5.000.000,- dan Point kejuaraan yang sudah diperoleh otomatis akan hilang.
14.2. OC IRTCC 2008 BERHAK meminta pembongkaran mesin seusai perlombaan secara mendadak dan tanpa pembertahuan sebelumnya, minimal 1 kali dan maksimal 2 kali dalam satu musim balap, antara lain untuk memeriksa volume kapasitas mesin.Permintaan ini dapat ditujukan kepada semua peserta, atau hanya kepada beberapa peserta (misalnya pemenang 1 s/d 3 atau secara acak), atau hanya satu peserta secara acak.
14.3. Peserta yang diminta membongkar mesinnya wajib mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk melaksanakan pembongkaran ini.Segala biaya yang berkenaan dengan pemeriksaan ini adalah tanggung jawab peserta.
14.4. Apabila ditemukan keganjilan yang tidak sesuai dengan REGULASI IRTCC 2008 yang berlaku, maka pihak yang melakukan hal tersebut DIHARUSKAN mambayar pinalti sebesar RP.5.000.000,- dan poin kejuaraan yang sudah diperoleh otomatis akan hilang.

15. POINT KEJUARAAN
Point yang didapat untuk setiap pembalap di tiap kelasnya maupun secara umum :
15.1. JUARA 1 ? 10 point
15.2. JUARA 2 ? 8 point
15.3. JUARA 3 ? 6 point
15.4. JUARA 4 ? 5 point
15.5. JUARA 5 ? 4 point
15.6. JUARA 6 ? 3 point
15.7. JUARA 7 ? 2 point
15.8. JUARA 8 ? 1 point

Point juga ditambahkan kepada setiap peserta sebagai berikut :
Kualifikasi Tercepat / POLE POSITION ? 2 point.
Waktu race tercepat dalam satu putaran/ FASTEST LAP ? 2 point.
Setiap menyelesaikan satu putaran ? 1 point.
Tiap Peserta dapat memperebutkan Kejuaraan Umum Akhir tahun berdasarkan jumlah point yang didapat dari urutan finish secara umum di tiap serinya.

16. CATATAN
16.1 Pihak penyelenggara (OC) dapat menambahkan/merubah peraturan dengan
pemberitahuan melalui media, bulletin kepada seluruh peserta bila dianggap perlu selama Kejuaraan berlangsung.
16.2 Penentuan kategori dari pembalap/peserta akan ditentukan oleh beberapa orang yang
ditunjuk oleh penyelenggara/OC IRTCC 2008 dan berdasarkan daftar pembalap yang
dikeluarkan oleh IMI.

SEGALA PERATURAN YANG BELUM TERCANTUM DALAM REGULASI INDONESIAN RETRO TOURING CAR CHAMPIONSHIP 2008, OTOMATIS MENGIKUTI PERATURAN UNTUK KELAS-KELAS NON-KEJURNAS (IMI SANCTIONED)
Update 15 January 2008

Tata cara masuk track SIRKUIT pada saat LATIHAN
• Keluar dari KORIDOR PIT (A) menuju SAFETY AREA (B)
• Kecepatan max. 40 km/jam di SAFETY AREA (B) menuju garis END SAFETY AREA (C).
• Apabila lampu merah di END SAFETY AREA (C) menyala, anda tidak boleh melewati garis di END SAFETY AREA, menunggu diizinkan masuk trek dengan tanda menyalanya lampu hijau.
• Apabila lampu hijau di END SAFETY AREA (C) menyala, anda diperbolehkan masuk trek dengan memperhatikan kendaraan lain yang sedang latihan di sisi kiri anda.

Tata cara keluar dari track Sirkuit pada saat LATIHAN
• Bila ingin keluar dari track SIRKUIT, anda harus memberi tanda sein kanan sesudah tikungan terakhir.
• Pada saat anda memasuki daerah SAFETY AREA (B) max. kecepatan 40 km/jam di sisi kiri dari marka SAFETY AREA (Garis Kuning)
• Sebelum garis END SAFETY AREA (C) anda berbelok ke arah kanan menuju KORIDOR PIT (X).

Tata cara masuk track SIRKUIT pada saat BALAP

• 15 MENIT sebelum waktu schedule balap, anda harus siap di CHECKING AREA (TRACK IN) dengan perlengkapan balap (Baju balap, Helm dan Sarung tangan) dan SAFETY BELT dalam keadaan terpasang.
• Anda menuju SAFETY AREA (B) dengan kecepatan max. 40 km/jam ke arah garis END SAFETY AREA (C).
• Apabila lampu merah menyala, anda harus menunggu sebelum garis END SAFETY AREA (C), menunggu sampai diizinkan masuk trek dengan tanda lampu hijau Menyala.
• Apabila lampu hijau sudah menyala, anda memasuki trek dan memutari SIRKUIT menuju ke arah posisi GRID (D).
• Berhenti di posisi grid masing-masing (sesuai dengan grid setelah kualifikasi) dan mematikan mesin anda.
• Perhatikan aba-aba dari petugas START (Ditunjukkan dengan papan waktu).

S T A R T
• Pada saat papan “START ENGINE” ditunjukkan, anda diperbolehkan menyalakan mesin anda.
• Apabila bendera merah dikibarkan, anda memutari SIRKUIT untuk melakukan “WARMING LAP” (satu putaran), dan DILARANG MENYUSUL peserta lain.
• Setelah memutari SIRKUIT, anda kembali ke posisi grid anda (D).
• Pada saat LAMPU MERAH menyala, anda bersiap untuk START.
• Apabila lampu Merah MATI & Lampu HIJAU menyala START dimulai.

F I N I S H
• Setelah bendera KOTAK HITAM & PUTIH / Checkered Flag dikibarkan, berarti balapan telah selesai (Finish).
• Dilarang melintasi Garis Finish lebih dari 1X atau akan dikenakan sanksi oleh Pimpinan /Pengawas Perlombaan.
• Anda memutari SIRKUIT dan memasuki SAFETY AREA (B) menuju ke SCRUTEENERING AREA untuk ditimbang MOBIL & PEMBALAPNYA.
• Setelah ditimbang, anda DIHARUSKAN memarkirkan Kendaraannya di area PARC FERME.
A D D E N D U M

• Addendum 01 :
Sticker Main Sponsor Even Sentul (FASTRON – PERTAMAX Touring Car Championship 2008) WAJIB DIPASANG.
‘- Sticker No. Start – Tidak boleh dipotong
‘- Sticker di Kaca Depan – Kaca Belakang

• Addendum 02 :
DRY TYRE – SESUAI Peraturan Teknik IIRTCC 2008, Menggunakan Ban Produk Lokal dan boleh di Cutting

• Addendum 03 :
WET TYRE – (Penentuan WET RACE dilakukan oleh Penyelenggara Min. 15 Menit sebelum Race dimulai / Pintu Kuning di buka),
DIIZINKAN menggunakan BAN Non-Lokal / IMPORT dengan ukuran Wheels Diameter Max. 15 Inch, Merek BEBAS, BAN tersebut adalah NON-SLICK WET TYRE / NON-RACING (COMPETITION) PURPOSE ONLY, dan HARUS dijual secara massal / umum.

• Addendum 04 :
Jarak Terendah dari Bagian Bawah Mobil, adalah apabila terjadi pecah ban, satu maupun ke-empatnya, tidak menimbulkan gesekan dengan permukaan lintasan.

• Addendum 05 :
DISARANKAN memakai HELMET FULLFACE dan MEMASANG No. START masing-masing di dalam kabin.

• Addendum 06 :
WAJIB mengikuti BRIEFING PESERTA (boleh diwakilkan oleh CREW) – Sanksi DENDA.