Coretan Program Bahari

Beberapa waktu lalu, bersama Toha, saya mencoba membuat coretan untuk menjawab apa yang dibutuhkan di dalam sebuah program, sehingga dapat membantu pulihnya martabat negeri ini. Kami menemukan tiga hal, yaitu: Multikultur, Quadra-Helix, dan Ekonomi Kerakyatan.

Berikut ini coretan kami dalam bentuk skema sederhana. Pada skema terkahir, saya mencoba membuat ‘turunan’ program yang akan diuji-jalankan mulai November 2017.

Sila simak dan beri masukan di bawah.

Kartu Lebaran dari Jokowi

Di sela kesedihan karena banyak bemo teman-temannya yang dijaring oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta, pak Kinong senang sekali mendapat ucapan Lebaran dari presiden republik ini.

Pak Kinong beserta istri dan anak-anaknya kemudian menulis dan mengirimkan surat balasan lengkap dengan beberapa gambar dengan spidol.

Selamat lebaran pak Jokowi.

Terima kasih pada Harjuni Rochajati dan Arief Adityawan untuk fotonya.

Terima kasih presidenku.
Terima kasih telah memberi perhatian sederhana yang berarti besar bagi rakyat jelata.

Save

Antara Teknologi dan Kesetaraan: Studi Kasus Bemo Bertenaga Listrik

Di 2011 sebuah kelompok warga Jakarta mulai melakukan upaya revitalisasi atas keberadaan bemo (becak motor) sebagai moda transportasi kota Jakarta. Teknologi kendaraan bertenaga listrik diajukan oleh kelompok madani itu sebagai alternatif dari pelarangan bemo untuk beroperasi. Bemo bertenaga listrik (bemo gatrik)[1] merupakan solusi karena, bagi kelompok tersebut, peniadaan bemo akan ikut menekan daya imajinasi, inspirasi, dan inovasi warga Jakarta – bila tidak bisa disebut menghilangkan satu dari banyak akar kebudayaan kota.

Kelompok yang terdiri warga kota dari berbagai latar belakang ini beranggapan bahwa bemo perlu dilestarikan, karena memiliki sejarah yang panjang dan mengkonstruksi budaya kota Jakarta. Terlebih akibat dari kepunahannya akan lebih banyak memberi dampak buruk dari (sekedar) soal risiko peremajaan transportasi kota. Bagi sebagian warga kota Jakarta, bemo merupakan bagian dari kehidupan mereka. Bemo merupakan moda transportasi murah meriah yang dapat menelusuri jalan-jalan kecil di antara perumahan, sehingga memungkinkan warga kota untuk berpindah tempat dengan efisien di dalam jarak yang terlalu jauh untuk dilakukan dengan berjalan kaki, terlalu dekat bila menggunakan kendaraan bermotor lain. Bemo merupakan kenangan masa lalu yang tidak ingin dilupakan. Hal lain yang sangat disayangkan bila bemo dibuat punah adalah artikulasi yang dapat timbul kemudian adalah konotasi bahwa konsumsi benda-benda baru lebih diutamakan. Benda lama dianggap tidak berguna dan perlu diganti, tanpa memperhitungkan nilai kebudayaannya. Dalam hal ini, bemo sebagai obyek yang telah ikut mengonstruksi kebudayaan kota Jakarta dianggap tidak berguna.

Becak motor itu awalnya adalah kendaraan pengangkut barang produksi pabrik Daihatsu antara 1957-1963. Oleh Presiden Soekarno bemo dijadikan kendaraan pengangkut penumpang untuk menyambut perhelatan olahraga internasional di Jakarta, pada Ganefo di 1963. Di 1996 Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Soerjadi Soedirdja mengeluarkan Surat Keputusan Gubernur yang intinya melarang beroperasinya bemo di ibukota. Bemo yang beroda tiga dan bertenaga mesin 2-langkah (2-tak, berbahan bakar bensin campur oli) itu dilarang beroperasi, harus diremajakan, atau lebih tepatnya digantikan, dengan kendaraan roda empat bermesin 4-langkah (4-tak, berbahan bakar bensin).

Sejak Surat Keputusan Gubernur itu berlaku, banyak bemo yang ditangkap untuk dihancurkan. Sebagai pengganti, pengemudi bemo diberi fasilitas kredit kendaraan Angkutan Pengganti Bemo (APB) yang beroda empat. Faktor ketidaksiapan birokrasi dan banyaknya oknum di lapangan mengakibatkan ratusan pengemudi bemo itu tidak dapat menggunakan fasilitas yang ditawarkan. Bemo-bemo yang terjaring diperjualbelikan secara tidak resmi, sehingga ratusan bemo yang terjaring itu kembali beroperasi, walau tanpa surat-surat resmi. Karena bemo menjadi sebuah kendaraan yang tidak legal, jumlah pemasok suku cadang untuk kendaraan beroda tiga itu makin lama makin berkurang, mengakibatkan suku cadang bemo pun sulit didapat. Para pengemudi bemo bergelut dalam situasi yang sulit. Selain mereka perlu bersiasat untuk menghadapi aparat hukum, mereka perlu memberdayakan kreativitas yang tinggi untuk membuat bemo-bemo mereka mampu untuk terus beroperasi demi dapat tetap menghasilkan uang untuk hidup mereka dan keluarga.

Untuk mengatasi masalah tersebut, di 2012 sebuah kelompok madani warga Jakarta mendorong program revitalisasi bemo. Selain melakukan pendekatan ke pihak pemerintah, kelompok ini berpatungan dan bergotong-royong menghadirkan berbagai teknologi yang mudah, murah, dan cocok untuk diterapkan pada bemo. Harapannya, teknologi yang tepat dapat mendorong perbaikan kehidupan para pengemudi bemo. Teknologi diharapkan dapat menghadirkan kesetaraan.

Berbagai eksperimen dilakukan yang utamanya adalah untuk menjawab permasalahan inti, yaitu agar bemo tidak mengakibatkan polusi suara dan udara. Mulai dari eksperimentasi menggunakan gas hidrogen yang disalurkan ke karburator untuk menekan gas buang, sampai akhirnya berhasil membangun sebuah bemo bertenaga listrik (bemo gatrik) berbadan serat kaca (fiberglass). Usaha patungan dan gotong-royong sebagian kecil warga Jakarta itu banyak membantu dalam proses eksperimentasi, sehingga bemo gatrik dapat meluncur ke Balai Kota untuk mengajukan sebuah alternatif transportasi kota yang bebas polusi udara dan suara di Februari 2013.

Teknologi motor listrik (Brushless Direct Curent motor) dan baterai jenis Solid Lead Acid (SLA) yang digunakan untuk menggerakkan purwarupa (prototype) bemo gatrik mampu mengangkut beban jarak pendek, sesuai dengan kebutuhan para pengemudi bemo. Teknologi motor tanpa sikat itu meminimalisir adanya kebutuhan perawatan berbiaya tinggi, seperti penggantian pelumas secara berkala. Baterai SLA merupakan wadah penyimpan energi listrik yang paling minimal untuk suatu aplikasi kendaraan listrik. Masa operasinya cenderung panjang, yaitu dapat mencapai dua tahun. Saat uji coba untuk menarik penumpang, bemo gatrik mampu menempuh sekurang-kurangnya jarak 15 kilometer dengan beban enam penumpang di belakang dan satu di depan, sebelum kemudian perlu dilakukan pengisian baterai (charging) selama enam jam. Kemampuan ini dianggap dapat menjawab kebutuhan para pengemudi bemo yang mengangkut penumpang empat sampai lima rit di pagi hari pukul 6-9 dan di sore hari pukul 16-19.

Teknologi yang diaplikasikan pada sebuah purwarupa bemo gatrik itu diharapkan dapat sedikit banyak meningkatkan posisi tawar para pengemudi bemo di mata birokrasi pemerintah, sehingga negosiasi dapat terjadi secara setara. Berbagai usaha dilakukan untuk menghadirkan teknologi yang dapat dikelola secara mandiri, tanpa tergantung pada produsen skala industri, namun ternyata tidak mendapat tanggapan yang setara dari pihak pemerintah. Para pengemudi bemo tetap dihadapkan pada pelarangan yang tercantum di dalam Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta yang dikeluarkan pada 1996.

Imajinasi, inspirasi, dan inovasi melalui teknologi tenaga listrik pada bemo gatrik ternyata memperlihatkan tidak majunyanya cara pikir aparat negara. Hal ini dapat disimpulkan, bila tidak ingin berasumsi bahwa teknologi kendaraan listrik akan menggeser, mengecilkan, sehingga menurunkan pendapatan pabrik kendaraan bertenaga bahan bakar minyak – fosil. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Edward Tenner dalam bukunya Why Things Bite Back, bahwa pada setiap langkah maju di dunia teknologi, bersamanya akan membawa kemunduran satu langkah yang tidak terduga.[2] Dari studi kasus program revitalisasi bemo gatrik di Jakarta, kita dapat melihat bahwa kehadiran teknologi tidak selalu menghadirkan kesetaraan di tengah-tengah masyarakat. Untuk mencapai kesetaraan dalam berkehidupan perlu didampingi adanya pemikiran kritis dan niat progresif dari setiap pihak yang terlibat dalamnya.

 

[1] Program Revitalisasi ini dapat diketahui lebih lanjut melalui situs aikon.org.

[2]A step forward in technology tends to bring with it an unexpected step backward. A step forward for some people frequently brings with it a step backward for others.” Dikutip dari tulisan Profesor Freeman Dyson berjudul Technology and Social Justice di dalam kuliah umum Nizer 1998. Freeman Dyson adalah akademisi di Institute for Advanced Study in Princeton, New Jersey. Di unduh dari tulisan situs Carnegie Council November 25, 1997. https://www.carnegiecouncil.org/publications/archive/nizer_lectures/004 pada 21 Juni 2017, pukul 09:35.

Kirim Buku Gratis

Kabar gembira dari Pustaka Bergerak.

Setiap tanggal 17 Pos Indonesia menggratiskan pengiriman buku ke seluruh wilayah Indonesia.

Syarat pengiriman buku: berat paket maksimal 10 kg, dan paket mencantumkan kata “BERGERAK”.

Mohon kawan-kawan yang punya buku (bekas pun tak apa) meluangkan waktu ke kantor pos terdekat pas 17 Juni nanti, dan kirim buku ke kawan-kawan relawan.

Berikut ini alamat jaringan relawan Pustaka Bergerak. Sila pilih yang dianggap sesuai. Disarankan untuk kirim buku ke wilayah perbatasan atau kepulauan dan daerah terpencil lainnya.

Terima kasih banyak.

Salam Pustaka Bergerak

Save

Save

Proses Pembuatan Bemo Ikon Jakarta Berlanjut

Minggu siang yang terik. Pak Iin terlihat sedang merapikan cat jingga yang baru disemprot pada sekujur badan Bemo Ikon Jakarta. Jingga, oranye, orange adalah warna Jakarta kata pak Kinong. Masih melanjutkan pembicaraaan di jalan Kimia beberapa waktu lalu, pak Sutino (Kinong), pak Asikin (Iin), dan para pengemudi bemo di trayek Karet Tengsin, berpatungan membangun sebuah Bemo Ikon Jakarta (BIJ).

Badan bemo itu terbuat dari lembaran besi baru yang dibentuk oleh kang Aeb selama dua bulan. Cengkorongan, komponen mekanik, dan badan BIJ akan dirapikan oleh pak Iin. Motor penggerak berupa dinamo listrik Direct Current (DC), controller rekomendasi dari mas Brilian dan Wahyu dari Bogi Power, Yogyakarta. Baterai sedang ‘dicari’ yang tepat untuk dapat menggerakkan BIJ minimal 30 kilometer sekali isi (charge).

Harapannya, kelompok kecil yang bersemangat ini dapat mengajukan BIJ dalam waktu dekat ke balai kota.

img_4725 img_4723 img_4730 img_4729 img_4728

Sedikit coretan yang akan diajukan ke pihak pemerintah provinsi DKI Jakarta adalah seperti berikut ini:

Tujuan

  1. Meremajakan bemo
  2. Menciptakan citra transportasi kota masa depan melalui Bemo yang dekat dengan publik, ramah lingkungan, kreatif dan berteknologi tinggi;
  3. Menciptakan ikon (simbol) Kota Jakarta;
  4. Mendorong masyarakat untuk bergotong royong membangun kota;
  5. Mendorong sinergi antar dinas: Dinas Pehubungan, Dinas Pariwisata dan Dewan Kesenian Jakarta;
  6. Bemo ada peninggalan bersejarah, sehingga dengannya Pemprov DKI Jakarta ikut melakukan kampanye menolak lupa.

Tahapan

  1. Pemprov DKI Jakarta mengadopsi Program Revitalisasi Bemo Jakarta sebagai cikal bakal adanya ikon transportasi kota Jakarta;
  2. Pemprov DKI Jakarta mefasilitasi pembentukan Koperasi Bemo Jakarta (KBJ);
  3. KBJ membangun sebuah purwarupa Bemo Ikon Jakarta (BIJ);
  4. KBJ melalui Uji Tipe dan memperoleh izin beroperasi di trayek yang ada sekarang + tempat wisata;
  5. KBJ memproduksi BIJ;
  6. Bemo lama diserahkan kepada koperasi;
  7. BIJ diserahkan kepada pemilik bemo lama.

Pendanaan

Pemprov DKI Jakarta diharapkan dapat mefasilitasi dalam bentuk dana untuk;

  1. Pembentukan Koperasi Bemo Jakarta (KBJ);
  2. Pembangunan sebuah purwarupa Bemo Ikon Jakarta (BIJ). Pembangunan purwarupa telah dimulai. sementara ini menggunakan dana urun dari pengemudi bemo dan warga kota;
  3. Proses Uji Tipe dan perizinan.

Koperasi Bemo Jakarta (KBJ) akan mengusahakan dana;

  1. Pencarian sponsor (BUMN, BUMD, Dinas Pariwisata, Swasta) yang akan digunakan untuk memproduksi BIJ, menyewa tempat penyimpanan dan pemeliharaan,
  2. Penghancuran bemo lama.

Ada pun ajuan susunan kepengurusan dan anggota Koperasi Bemo Jakarta (KBJ), adalah:

  1. Gubernur DKI Jakarta
  2. Kepala Dinas Perhubungan
  3. Kepala Dinas Pariwisata
  4. Kepala Dewan Kesenian Jakarta
  5. Pengemudi Bemo Jakarta, yang memiliki;
    • KTP DKI Jakarta
    • KK DKI Jakarta
    • Rekening di Bank DKI
    • BPJS Kesehatan
    • Kartu Jakarta Pintar

Save

Save

Opang Kalcit Galau

Ponten mendekati 100 ..

IMG_3353 IMG_3354 IMG_3355

Ini adalah satu di antara 20 buku tabungan pengendara ojek yang sehari-hari mangkal di depan pintu utama Kalibata City (kalcit), Jakarta Selatan. Mereka menabung Rp 1,000 – Rp 15,000,- rupiah setiap hari untuk biaya kecelakaan, perbaikan, dan masa depan.

Selain menabung, Pak Jamil dan kawan-kawan pengendara ojek pangkalan kalcit sedang menguji coba tarif standar ojek dari #kalcit ke mana saja rp 4 ribu/km. Minimum rp 10 ribu.

Tarif ini memang tidak bisa menyaingi tarif ojek online, namun manfaatnya dapat langsung dinikmati oleh sesama manusia, bukan oleh perusahaan bermodal asing.

Peralatan yang dibutuhkanpun sederhana.. Menggunakan yang ada di sekitar mereka. Pertama adalah penunjuk jarak di spedometer motor masing-masing dan spidol ‘whiteboard’. Dengan spidol yang mudah dihapus itu, angka penunjuk jarak pada spedometer saat brangkat dituliskan pada ‘kaca’. Angka itu lalu dikurangkan pada angka jarak saat sampai di tujuan. Hasilnya dikalikan empat ribu rupiah, inilah nilai yang perlu dibayar penumpang.

Untuk informasi lebih lanjut, pemesanan ojek atau sekedar menyapa pak Jamil dapat dihubungi di +628567460433.

Pak Jamil dan kawan-kawan juga berencana untuk mendisiplinkan diri dengan mendaftarkan keluarga masing-masing pada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

 

 

Save

Pak Kinong dan Kawan-kawan 17an

Empat bemo warna-warni beriiringan dari Karet, Manggarai, Proklamasi, Gondangdia dan pulang lewat Balaikota. Konon mumpung pak polisi sedang upacara peringati 71 tahun negara (yang konon sudah) merdeka.

Di paling depan, BemoBaca putih dengan rak buku yang terlihat karena terpal penutupnya dibuka sepanjang jalan, dikemudikan oleh pak Kinong. Di belakangnya adalah pak Mahmud dengan bemo berwarna biru milik pak Iin. Atap bagian penumpang diselimuti kap berwarna merah bergambar Sutan Syahrir.Kemudian bemo ungu dengan kap merah bergambar Tan Malaka beserta pesannya yang diambil dari Buku Madilog. Bemo ungu itu baru selesai dicat dan kali ini disupiri pak Yadi yang ditemani pak Sugeng di sebelahnya. Paling belakang adalah bemo pak Mamat. Bemo yang paling ‘sehat’ dan rapih itu diselimuti rajutan benang poly warna-warni hadiah dari Kelompok RajutKejut tahun lalu.

Di tengah perjalanan, rombongan pak Kinong mampir ke kediaman mbak Gita di seberang Gedung Proklamasi, yang tidak disangka telah menyiapkan makan siang yang lezat di atas meja makan yang panjang. Terima kasih mbak.

Santai menyusuri jalan-jalan menebar polusi udara dan suara.

IMG_3095 IMG_3096 IMG_3097 IMG_3099 IMG_3107 IMG_3108 IMG_3109 IMG_3111 IMG_3113 IMG_3115 IMG_3116 IMG_3117 IMG_3125 IMG_3137 IMG_3140

Bemo akan Punah?

Tertulis di fotokopi surat Dinas Perhubungan DKI Jakarta bernomor 4823/-/819 bertanggal 23 Juni 2016, konon ada surat Ketua DPU Angkutan Lingkungan Organda DKI Jakarta nomor 002/dishub-angling/vi/2016 tanggal 8 Juni 2016 perihal Percepatan Penggantian Angkutan Bemo.

IMG_2382_dishub-bemo

Pagi tadi pak Kinong membahas rencana menanggapi surat tersebut. Rencana yang terdiri dari berbagai butir itu perlu dilakukan, setidaknya mengusahakan kepastian nasib beliau beserta teman-teman sesama pengemudi bemo.

Rencananya antara lain;

  1. Mengajukan surat permintaan audisi di depan Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi Provinsi DKI Jakarta, Bapak Andri Yansyah,
  2. Mempersiapkan suatu usul/skema kerja-bersama antara pengemudi bemo dan Dinas Pariwisata (misalnya) yang dapat menjadi alternatif bagi rencana pemprov untuk melakukan ‘peremajaan’ dengan ‘menggantikan’ bemo dengan kendaraan lain,
  3. Mengumpulkan dukungan dari warga kota, khususnya para penumpang bemo yang selama ini terbantu dengan adanya alat transportasi jarak pendek ini,
  4. Mengusahakan segera proses ‘kosmetika’; merapikan eksterior dan mencari solusi praktis untuk menjawab permasalahan polusi udara dan suara. Antara lain mencoba untuk mengajak produsen bajaj listrik dalam negeri, yang konon telah memperoleh izin dari pihak yang berwenang soal kelaikan jalan/operasi.

Mohon doa restu.

Save