Opang Kalcit Galau

Ponten mendekati 100 ..

IMG_3353 IMG_3354 IMG_3355

Ini adalah satu di antara 20 buku tabungan pengendara ojek yang sehari-hari mangkal di depan pintu utama Kalibata City (kalcit), Jakarta Selatan. Mereka menabung Rp 1,000 – Rp 15,000,- rupiah setiap hari untuk biaya kecelakaan, perbaikan, dan masa depan.

Selain menabung, Pak Jamil dan kawan-kawan pengendara ojek pangkalan kalcit sedang menguji coba tarif standar ojek dari #kalcit ke mana saja rp 4 ribu/km. Minimum rp 10 ribu.

Tarif ini memang tidak bisa menyaingi tarif ojek online, namun manfaatnya dapat langsung dinikmati oleh sesama manusia, bukan oleh perusahaan bermodal asing.

Peralatan yang dibutuhkanpun sederhana.. Menggunakan yang ada di sekitar mereka. Pertama adalah penunjuk jarak di spedometer motor masing-masing dan spidol ‘whiteboard’. Dengan spidol yang mudah dihapus itu, angka penunjuk jarak pada spedometer saat brangkat dituliskan pada ‘kaca’. Angka itu lalu dikurangkan pada angka jarak saat sampai di tujuan. Hasilnya dikalikan empat ribu rupiah, inilah nilai yang perlu dibayar penumpang.

Untuk informasi lebih lanjut, pemesanan ojek atau sekedar menyapa pak Jamil dapat dihubungi di +628567460433.

Pak Jamil dan kawan-kawan juga berencana untuk mendisiplinkan diri dengan mendaftarkan keluarga masing-masing pada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

 

 

Save

Wirausaha Telur Makmur

Pak toni siang itu ditemu di kawasan kemanggisan. Ia tinggal di Blitar, dekat makam bung karno.

Setiap minggu, pak Toni mengarungi pantura 16-24 jam perjalanan ke Jakarta, mengantar pesanan telur ayam.
Dengan dua kali mengisi solar di tengah perjalanan, ia mengeluarkan Rp 750 ribu. Biaya ini tertutup dengan ongkos yang dibayar oleh pemesan, sebesar Rp 2juta per truk

Setiap pengiriman, ia mengangkut 320 tumpuk x 9 lapis kertas telur = 5 ton= 3,500 butir, senilai Rp 65 juta

Di kampungnya di Blitar, telur ayam itu dijual Rp 9rb/kg. Ia menjualnya Rp 13 ribu per kilogram pada pedagang besar, yang kemudian menjualnya eceran di pasar atau dari kiosnya seharaga Rp 19 ribu per kilogram.

Konon pak Toni memperoleh untung minimal Rp 5juta per sekali kirim.

Setelah membongkar muat telur-telur itu, ia akan ke Pulo Gadung. Langganan lain. Ia biasa mengangkut bahan pakaian dari sana ke Blitar dengan ongkos angkut yang sama.

Ia bersemangat sekali bolak-balik pantura, sendiri, tanpa kenek.
Senang mendengar cerita pak Toni siang itu..

catatan: harga ‘tatakan’ bubur kertas itu Rp 300,- per lembarnya

Srikandi Jeruk: sebuah Kelompok Usaha Bersama Batik Lasem

Bertempat di Desa Jeruk, tahun 2006, empat orang Ibu berkolaborasi untuk memperbaiki jalan hidup masing-masing. Sekarang jumlah mereka 12 orang, Pak William Kwan dari Institut Pluralisme Indonesia yang mendampingi mereka hingga mandiri.
Di sebuah pertigaan jalan desa yang sepi, sebuah papan berwarna putih menunjukkan lokasi di mana sebagian ibu-ibu Desa Jeruk memproduksi batik Lasem.
Anehnya, ada sebuah lembar tempel melekat di dinding ‘ruang pamer’ mereka yang bertuliskan pernyataan yang tidak etis (dari pemerintah kabupaten) dan bertolak belakang dengan kondisi Ibu-ibu yang sangat mampu itu.

Folk Mataraman Institute

FMI merupakan ruang ‘hedonis dan foya-foya’.. ruang reriyungan, ropyan-ropyan yang mengandung unsur gayeng, dan ballada. Ruang ini dapat menyembuhkan penyakit hypertensi dan gangguan pencernaan akut.

FOLK MATARAMAN INSTITUTE Lahir Hari Rabu, 23 April 2011, pukul 02:35 (pagi).

Musik perdana yang digulirkan adalah musikalisasi syair Chairil Anwar berjudul Sajak Putih.

Bersandar pada tari warna pelangi,

Kau depanku bertudung sutra senja,

Di hitam matamu kembang mawar dan melati,

Harum rambutmu mengalun bergelut senda.

Sepi menyanyi, malam datang mendoa tiba,

Meriah muka air kolam jiwa,

Dan dalam dadaku memerdu lagu,

Menarik menari seluruh aku,

Hidup dari hidupku, pintu terbuka,

Selama matamu bagiku menengadah,

Selama kau darah mengalir dari luka,

Antara kita Mati datang tidak membelah.

Ditulis pada Hari Selasa, 18 Januari 1944. Lagunya dikarang, dinyanyikan, dan direkam (selesai dalam satu hari) pada Hari Sabtu, 23 April 2011, 01.27

Chairil Anwar, syair

Krishna Encik Widiyanto, pencipta lagu, gitaris, penyanyi latar

Pandan Purwacandra, pianis

Ade Tanesia, vokal

Samuel Indratma, audio visual

Mural di Jembatan Kewek, Yogyakarta, dibuat selamat empat jam oleh Sanggar Bambu

  • Totok Buchori
  • B. Purwokurnianto
  • Bima Batutama
  • Dadah Subagja

Program Difabel Yogyakarta: Istimewa!

Samuel Indratma mengajakku mampir ke Taman Budaya Yogya. Tempat itu ramai, walau hari sudah mulai malam.

Di salah satu ruang, Ugo Untoro sedang memamerkan karya-karyanya yang dibuat di atas kertas; pojok sini ada yang sedang mengerjakan kapal-kapalan kertas, dibuat besar dari bahan lempeng besi; di undakan tangga ke lantai atas, batu-batu kali yang dilukis di atasnya dengan potret orang-orang hilang ingatan yang sering ditemui di sekitar kota Yogya; sebelah sana terlihat banyak hasil aktifitas para difabel. Bentuk-bentuk mata, telinga, hidung, tangan, dibuat besar dengan media tanah yang kemudian dibakar. Bentukan-bentukan itu dijadikan ‘kanvas’ bagi para difabel.

Sebuah becak Yogya kemudian dikeluarkan dari samping gedung. ‘Slebor’ (spakbor?) yang dicat putih, terlihat kontras dengan warna kayu yang dilapis vernis mengkilat dan rangkaian besi yang membentuk rak buku. Ini Adalah media promosi bagi program difabel Yogyakarta, kata Sam. Becak itu akan diisi dengan berbagai cetakan literatur, promosi tentang program yang mulai digiatkan di kota istimewa itu.

Wuiih!

Percetakan di Gang Cilik

Dari sang ayah, Oom Ki Hauw memperoleh ilmu soal cetak mencetak. Ia meneruskan usaha percetakan ayahnya itu yang konon dimulai sejak tahun 1900-an. Anak-anaknya sekarang tidak ada mau meneruskan, sehingga mesin-mesin yang masih kokoh terjaga oleh pelumas dan penutup plastik itu diam mengumpulkan debu.

Semua mesin cetaknya menggunakan tenakan kayuh, injak, atau putar. Tidak pakai listrik. Huruf-huruf timah dari ukuran enam ‘pun’ (sebutan jaman dulu untuk ukuran besar huruf: ‘point’) sampai 24 ‘pun’ masih berada di tempatnya – di laci-laci tipis dalam lemari kayu jati yang berjejer sepanjang dinding.

Nama usaha keluarga ini adalah Percetakan Juwana. Dulu satu-satunya percetakan di Kota Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Sejak awal, usaha ini berada dalam rumah berdinding kayu di sebelah sebuah jalan kecil yang pernah ‘heboh’ oleh ‘kerusuhan’ geng Nero. Furnitur, perlengkapan kantor, dan atribut cetak mencetak masih lengkap menunggu energi baru yang mau mengaktifkannya.

Tempat Pelelangan Ikan Juwana

Jam Lima pagi di Tempat Pelelangan Ikan di Utara Kota Juwana sudah ramai.

Kapal merapat. Keranjang-keranjang plastik di lempar ke atasnya. Anak buah kapal mengisi keranjang-keranjang itu dengan ikan sejenis dengan sekop. Digeser ke samping, untuk disemprot air dan diluncurkan ke darat melalui papan-papan kayu berpagar rendah. Di darat, keranjang-keranjang itu dipilih-pilih oleh pembeli dan diberi (kartu) nama.

Jam delapan pagi, lelang ikan dimulai.

Banyak sekali jenis ikan di sini. Antara lain Ikan Munir, Sriwangi, Mata goyang, Bluso (yang nantinya dijadikan surimi: bahan nugget, baso ikan), Sapi yang gemuk,  Tela (di Kalimantan disebut Ikan Nyonya), Basing (tepak), Trunul, Layar. Ikan Tongkol dijual Rp 8.000,- per kilogram. Ikan Tengiri dijual Rp 27.000,- per kilogram. Tapi jarang karena hanya ada musiman – biasa tanggal 4 sampai 6 setiap bulannya.
Ikan Tongkol hitam dijual Rp 12.000,- per kilogram, sedangkan Terisi ksukaan orang jerman Rp 41.000,- dan Ikan Kakap merah Rp 30-36 ribu.

Banyak truk siap beroperasi di sini. Rata-rata truk diisi lima ton ikan yang diawetkan dengan es batangan tidak kurang dari 50 batang. Harga satuan es batangan itu Rp 17.500,-.

Keliling Juwana Sebentar

Pak Zawakit asal Solo, pindah ke Juwana ketika menikahi istrinya sejak 1992. Pengemudi becak montor ini membuat sendiri dan mengoperasikan bentor sejak 2002. Ia mengajakku ke rumah Mbak Suji pembuat terasi di musim hujan. Kalau musim panas, tidak banyak rebon (udang kecil) sehingga ia membantu suami mengurus tambak udang mereka di Utara Juwana. Setelah sedikit ngobrol soal cara membuat terasi (yang terkenal enak dan dibuat tanpa bahan pengawet, bumbu, ataupun dimasak), kami mampir ke rumah Ibu Ngaminah, salah satu pengusaha batik tradisional di daerah Bakaran.