Dewi Anjar

27 Januari 2012. Masalah teknis terberat dari pengoperasian bemo, adalah ia menimbulkan polusi udara. Mesin 305 cc dengan sistem ‘2-tak’ menghasilkan asap putih, hasil dari ketidaksempurnaan pengapian.

Untuk menjawab itu, eksperimentasi dilakukan dengan memasang produk Ir. Mustari, yang ‘menghembuskan kabut hidrogen ke dalam karburator, sehingga dapat memeroleh hawa bagi pengapian yang lebih sempurna, sebelum diledakkan oleh busi, untuk menggerakan piston.

Dewi Anjar, nama bemo itu, menjadi ‘kelinci percobaan’..

Antara Bemo dan Bung Karno #1

oleh: Arief Adityawan

Tengah hari yang terik, namun taman itu nampak teduh. Di pinggir Jalan Bendungan Hilir, taman tersebut diapit oleh Jalan Danau Situaksan dan sebuah kali kecil. Sekelompok orang duduk berbincang-bincang di taman tersebut. Ketika saya menanyakan bahwa saya mencari pemilik bemo di antara mereka, terjadilah proses saling-tunjuk. “Saya kan cuma ngontrak, yang pemilik itu namanya Pak Marto. Tapi orangnya lagi pergi, bentar lagi dateng”, jelasnya sambil menunjuk skuter Vespa yang lagi parkir. Mereka juga menyebut nama orang lain, “Pak Yudi”, yang disebut sebagai “pengurus paguyuban” yang dapat ditemui di pangkalan Bemo di Pasar Bendungan Hilir.

Perbincangan mengenai bemo berlanjut. Sang pengontrak bemo itu lalu bercerita bahwa dirinya pernah diliput sebuah stasiun televisi swasta selama satu hari penuh, mulai dari kehidupan di rumahnya, hingga pekerjaannya sebagai pengemudi Bemo. Bahkan temannya pernah diikuti oleh awak televisi swasta lain selama dua hari, dengan bayaran limaratus ribu rupiah. Mereka bercerita bahwa sudah lama wacana penghapusan bemo dilontarkan pemerintah. Mereka berharap biarlah bemo terhapus dengan sendirinya, seiring waktu.

Tiba-tiba muncul seorang pengemudi Bemo yang lebih tua dan berkaca mata, namanya pak Herman, yang ikut dalam pembicaraan. “Sebagian Bemo mulai ada di Indonesia pada tahun 1961-62, ketika Bung Karno bangun daerah Senayan untuk Conefo”, demikian bapak itu menjelaskan. “Bemo keluaran pabrik Daihatsu Jepang ini, disebut Trimobil” lanjutnya. Entah benar atau tidak, pak Herman mengaitkan kehadiran Bemo dengan tindakan Jepang di saat menjajah Indonesia, yang membawa demikian banyak biji besi ke negerinya. Hal yang lebih menarik perhatian adalah ketika dia menjelaskan bahwa Bemo yang dia tarik, artinya dia bukan pemilik bemo, itu masih asli – di atas kepala pengemudi, atapnya masih terpal dibaut. “Pokoknya kayak sunroof” jelasnya.

Ketika Pak Herman melihat seorang perempuan yang nampak hendak pergi bekerja muncul dari gang dan mencari bemo, ia mempersilakannya naik ke Bemonya. Pak Herman biasa menyetor kurang-lebih 50 ribu rupiah per hari ke pemilik Bemo. Untuk dirinya, ia membawa pulang uang dengan jumlah yang sama. Sebagai pengemudi, ia bertanggung jawab atas semua pengeluaran akibat kerusakan bemo. Onderdil Bemo pada umumnya buatan daerah Tegal, Jawa Tengah. Walau ada yang berasal dari Taiwan, namun sekarang buatan Tegal lebih menguasai pasar, jelasnya. Bahan bakar yang digunakan adalah bensin campur oli, dengan perbandingan: 5-6 liter bensin dicampur ¼ liter Oli.

Nama lengkap Pak Herman yang ramah ini adalah B. Hermanto. Ia lahir tahun 1959 di mana sekarang terbangun Stadion Utama Senayan (Gelora Bung Karno). Setelah rumah orang tuanya digusur, ia pindah ke daerah Karet, Bendungan Hilir, yang sekarang dekat SMUN 35. Menurut Pak Herman, pemilik Bemo yang ia sewa, sesungguhnya sudah meninggal. Kepemilikan Bemo dilanjutkan oleh anak almarhum. “Namanya Anto, alamatnya di jalan Mesjid III. Anto punya dua bemo, satunya lagi rusak”, jelas Pak Herman.