Warung ‘Kopi Beneran’ di ‘Bunderan’

Hari ini ada warung kopi baru buka.

Sebut saja namanya Warung Bundaran Kemang, karena memang lokasinya di seberang utara bundaran yang ada di jalan Kemang Selatan XII, Jakarta.

Jangan berharap terlalu banyak, karena tidak ada yang ‘kekinian’ di sini, karena ini adalah warung seadanya. Obrolan sederhana dengan ditemani kopi robusta asal Lampung, kopi arabika Toraja, atau Aceh Gayo, mungkin dapat mengisi harimu sekali-kali.

Warung ini menyediakan kopi hasil giling dari biji di samping minuman bubuk produksi industri. Pesan yang ingin kami sampaikan adalah nikmatilah kopi hasil tanah air sendiri, tidak harus yang mahal, apalagi sampai perlu-perlunya memaksakan diri mengonsumsi minuman instan.

Dapur kami adalah bemo berwarna jingga yang pensiun dari berkeliling di tengah padatnya jalan ibukota. Gelas-gelas enamel dan kaca yang digunakan merupakan sumbangan dari banyak pendahulu kami yang selalu ingin berbagi dengan sederhana.

Warung Bundaran Kemang mungkin akan berganti nama di masa yang akan datang. Namun biarlah untuk saat ini, kami namakan demikian. Sampai sekarang, belum jelas betul jam buka warung ini, namun bila melihat kap bemo jingga (oren, orange) di depan warung itu terbuka, maka mampirlah..

Hilangkan, gantikan, lupakan, dan bebaslah dari masalah

Sejak Juni 2017 bemo berangsur-angsur dihilangkan dari jalan-jalan di ibukota. Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta seperti tidak mempertimbangkan bahwa dengan menghilangkan bemo, maka ia juga menghapus sejarah yang dimiliki alat transportasi untuk menyambut perhelatan Ganefo itu, dan menghilangkan berbagai kenangan di sekitar keberadaan bemo yang dimiliki publik. Di negara ini memang publik dibiasakan untuk cepat lupa.

Dishub menganggap pihaknya telah melaksanakan tugas dengan tepat, karena telah melakukan sosialisasi dan mengeluarkan surat penertiban sebelumnya. “Sebelum penertiban, sudah digelar pertemuan dengan para pemilik. Mereka sudah sepakat direvitalisasi,” kata Kepala Dishub DKI Jakarta, Andri Yansyah, Senin, 24 Juli 2017[1]. Sebagai catatan, sosialisasi yang dilakukan, lebih banyak dihadiri oleh pihak organda dan wakil pemilik bemo yang berpihak pada penjual kendaraan pengganti.

Lepas dari dukungan dishub pada berkembangnya mentalitas pelupa, kata revitalisasi pada pernyataan kepala dinas itu pun tidak tepat, karena yang terjadi adalah penggantian bemo dengan bajaj. Bemo dihilangkan dari peta transportasi umum DKI Jakarta, karena kondisi dan keberadaannya sudah dianggap sudah tidak layak. Bemo tidak sedang di-vital-kan kembali menjadi alat transportasi kota. Bemo sekedar dihilangkan.

Hal lain yang menjadi pertanyaan adalah pernyataan dari pemerintah bahwa bemo-bemo itu digantikan oleh bajaj. “Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Widjatmoko mengatakan, bajaj yang memiliki roda empat mulai diuji coba di Jakarta. Uji coba itu dilakukan selama 3 bulan mulai 19 Juli 2017.”[2] Bila mengacu pada definisi yang tertulis di dalam undang -undang Republik Indonesia nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu lintas dan angkutan jalan, bemo dapat dikategorikan sebagai kendaraan bermotor umum dalam trayek, sedangkan bajaj adalah kendaraan bermotor umum tidak dalam trayek. Bagaimana satu hal dapat digantikan oleh hal lain yang berbeda dalam cara beroperasinya? Ditambah lagi, menurut undang-undang tersebut kendaraan umum beroda tiga tidak dikenal.[3]

Beberapa pertanyaan lain yang perlu dikritisi kemudian, antara lain, adalah: 1. Berapakah jumlah bajaj yang kini telah beroperasi? Apakah belum mencapai jumlah maksimumnya yang menurut Kepala Bidang Angkutan Jalan Dinas Perhubungan DKI Emmanuel di 2015 tidak boleh melebih 14,424 buah?[4] Dengan mengalihkan bemo ke bajaj, apakah tidak akan melebihi ‘kuota’ dan akan menimbulkan masalah baru? 2. Apakah publik, khususnya pemilik dan pengemudi angkutan umum, telah mengetahui tentang adanya Rencana Induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan baik Nasional, Provinsi, maupun kabupaten/kota seperti yang tercantum dalam undang-undang tersebut? Mengajak partisipasi publik (secara tepat tentunya) merupakan asas yang tercantum dalam undang-undang juga bukan?

Di pihak lain, para pengemudi dan pemilik pengemudi bemo memiliki masalahnya sendiri. Mereka terbiasa (atau dibiasakan) untuk tidak berpikir panjang dan cenderung menunggu peruntungan. Mereka berharap kinerja Dishub sama dengan masa kepemimpinan gubernur-gubernur sebelumnya, yaitu ‘anget-anget tai ayam’. Tunggu beberapa minggu, bila petugas sudah lupa, bemo-bemo akan dapat bebas beroperasi lagi – tentunya dengan memberi kontribusi pada petugas dinas di lapangan.

Masalah pelupaan memang akut di negara ini. Hal ini diperparah dengan ketidaktepatan dalam penggunaan kata dan ketidakjernihan berpikir dalam mengatasi masalah. Manusia memang cenderung memperumit masalah.

 

[1] http://www.beritajakarta.id/read/47312/-dishub-rampungkan-tahap-awal-revitalisasi-bemo–#.WXw8JoXBdFU

[2] http://megapolitan.kompas.com/read/2017/07/21/15564481/ada-bajaj-roda-empat-di-jalanan-jakarta-ini-kata-dishub

[3] https://beritagar.id/artikel/berita/bajaj-beroda-tiga-akan-pensiun-dari-jalanan

[4] http://jakarta.bisnis.com/read/20150106/77/388351/setelah-batasi-sepeda-motor-ahok-buat-zonasi-bajaj

Bemo akan hilang?

Setelah dilarang beroperasi sejak terbitnya SK Gubernur DKI Jakarta di 1996, 21 tahun kemudian, Senin, 6 Juni 2017 kemarin, bemo kembali dinyatakan dilarang beroperasi. Memang banyak ‘kesimpangsiuran’ dalam penanganan moda transportasi yang muncul pertama kali di Jakarta di 1962 ini.

Pak Kinong berusaha untuk ‘meluruskan’, dengan menanggapi empat pilihan yang ditawarkan oleh pemprov dki, walau informasi tersebut diterima melalui pesan singkat.

Berita mengenai persoalan ini juga tertulis di harian Kompas yang terbit 8 Juni 2017 kemarin.

Apakah kali ini becak2 bermotor itu benar2 akan hilang? Pagi tadi, 12 Juni 2017, pak Kinong mengabari, delapan bemo trayek Karet disita oleh Dinas Perhubungan melalui DLLAJR nya.

Save

Save

Revitalisasi Bemo Jakarta sebuah Gagasan

revitalisasi-bemo-jakarta2

Becak Motor (bemo) merupakan Warisan Budaya Kota Jakarta

Bemo tidak hanya akan diremajakan namun akan direvitalisasi menjadi ikon ibukota Jakarta.

Bemo 2016 merupakan sarana transportasi penunjang TransJakarta yang bebas polusi dan berbudaya.

Bemo 2016 melayani penumpang di dalam trayek yang sudah ada dan mempublikasikan materi pendidikan bagi warga kota.

Cuplikan spesifikasi;

  1. Bertenaga listrik minimal 9KW
  2. Baterai LiFePo4
  3. Jangkauan minimal 150 Km setiap pengisian, dengan efisiensi minimal 40KWH
  4. Pengisian baterai maksimal 3 jam.
  5. Aplikasi panel surya dan baterai cadangan tersedia di pangkalan.
  6. Lolos Uji Tipe layak menjadi sarana transportasi umum lingkungan.
  7. Jumlah penumpang tujuh orang @ 80Kg: Satu orang di depan sebelah pengemudi, enam penumpang duduk berhadapan di belakang.
  8. Material lokal minimal 90%.
  9. Bagian sisi kap/atap penumpang sebagai papan publikasi layanan masyarakat, bagian atas kap adalah panel surya yang berfungsi mendukung pengisian baterai.
  10. On Board Unit terhubung dengan Operation Control Center di kantor pusat Transjakarta. Global Positioning System. QLUE Transit.
  11. Tiket elektronik.

Fungsi (yang sudah diuji coba)

  • Angkutan Lingkungan: transportasi penunjang TransJakarta,
  • BemoBaca: Perpustakaan Keliling
  • Bemoskop: Bioskop/layar tancap keliling

Fungsi alternatif

  • Distro: Kendaraan outlet penjualan cindera mata DKI Jakarta,
  • Kios penjualan pulsa listrik,
  • Kendaraan makanan cepat saji (food-truck).

Kolaborasi

  1. TransJakarta
  2. PT KAI
  3. Perusahaan Listrik Negara
  4. Telkom
  5. Dinas Pariwisata
  6. Badan Arsip dan Perpustakaan
  7. Dewan Kesenian Jakarta sebagai pengelola program
  8. Badan Ekonomi Kreatif

Koperasi simpan pinjam yang dibentuk akan melakukan investasi 300 bemo bertenaga listrik yang akan dioperasikan dalam tujuh trayek yang saat ini masih dijalankan oleh bemo-bemo yang perlu diremajakan di kawasan;

  1. Bendungan Hilir
  2. Buaran
  3. Grogol
  4. Karet
  5. Mangga Besar
  6. Manggarai
  7. Stasiun Kota

Pemilik/pengemudi bemo yang ada ditukar dengan satu bemo bertenaga listrik[1]. Bemo lama akan dihancurkan, material dijual ‘kiloan’ dan diserahkan sebagai uang muka kepada koperasi.

Pemasukan bemo 2016 diperoleh dari;

  1. Harga tiket elektronik Rp 3,000,- per penumpang satu kali jalan[2]. Dana ini langsung masuk ke rekening pengemudi, setelah dipotong retribusi bagi Pemda DKI Jakarta dan Koperasi.
  2. Pendapatan tambahan adalah dari pembayaran sponsor pada kap dan program pendidikan[3] di rusunawa/kampung kota.
  3. Sewa dari tamu hotel berbintang.

Koperasi membiayai kebutuhan operasional bulanan, berupa;

  1. Pemeliharaan bemo
  2. Program
  3. Marketing

[1] Untuk sementara ini, uang muka yang telah disepakati oleh para pemilik/pengemudi bemo adalah sebesar Rp 1,5 juta dengan melampirkan fotokopi Kartu Keluarga, BPJS, KJP dan rekening Bank DKI. Pembayaran angsuran Rp 1 juta/bulan. Dengan pembayaran lunas dalam 48 bulan (4-tahun). Jika Nilai satu bemo (diperkirakan) Rp 40,000,000,-/buah (menurut media untuk produk bajaj listrik PT Arrtu Media Energie maka, bila dikalikan 300 bemo, nilai investasi koperasi adalah Rp 12 Miliar.

[2] Satu bemo berpotensi untuk melayani 7 penumpang x 10 jalan = 70 penumpang x 300 bemo = 21,000 orang per hari x tiket Rp 3,000,- = Rp 63 juta per hari x 30 hari = Rp 1,89 miliar per bulan.

[3] Masing-masing pangkalan memiliki minimal dua BemoBaca dan dua Bemoskop yang beroperasi dengan melayani publik dalam hal perpustakaan dan layar tancep yang berisi berbagai penyuluhan. Produsen non produk tembakau yang memasang iklan layanan masyarakat pada kap bemo yang beroperasi di trayek, mendapat kesempatan untuk memiliki program di kampung kota yang dikelola oleh Dewan Kesenian Jakarta.

Save

Save

Save

Paguyuban Bemo Jakarta Bertemu dengan Sudinhub

Jumat, 9 September 2016 pertemuan berkala Paguyuban Bemo Jakarta dihadiri oleh Suku Dinas Perhubungan samping stasiun Kota. Menurut beberapa pemilik/pengemudi bemo, itu adalah kali pertama pemerintah mau ‘turun ke bawah’ berbincang saling tukar sudut pandang. Terima kasih kepada Ibu Regitta dan pak Verdiansyah dari Dinas Perhubungan yang dengan sigap membantu usaha para pengemudi bemo sejak pertemuan terdahulu.

Melanjutkan diskusi yang sebelumnya diadakan di kantor Dinas Perhubungan dan obrolan di Jalan Kimia, siang itu kedua pihak saling memberi masukan.

Inti obrolan jelas. Pemerintah DKI Jakarta akan meremajakan (menghapus) bemo dari Jakarta kurang dari tiga bulan dari hari ini, di akhir 2016. Para pengemudi bemo diharapkan oleh pemerintah untuk mengajukan solusi kendaraan pengganti yang dapat diwujudkan oleh adanya kerjasama dengan produsen kendaraan pengganti yang telah lolos Uji Tipe dan memiliki pihak penanggung dana yang diwakili oleh sebuah koperasi. Pihak pemilik dan pengemudi bemo memiliki banyak sekali pertanyaan, antara lain seperti apakah kendaraan pengganti bemo itu, sistem trayek saat ini akan tetap ada,  harganya berapa, garansi, cara pembayaran dan banyak lagi.

Dalam kurang dari tiga bulan ini, para pengemudi bersepakat untuk mengusahakan (mencari produsen atau membangunnya sediri) kendaraan pengganti bemo dengan kendaraan berbentuk dan berkapasitas seperti bemo yang ada sekarang, lolos Uji Tipe Kementrian Perhubungan, ramah lingkungan dan dapat menjadi ikon ibukota.

Siang itu banyak sekali yang dibicarakan. Banyak harapan di pertemuan itu. Mari kita lihat sejauh mana pemerintah kota mengadopsi kepentingan (sebagian) warganya.

Save

Save

Temu Kimia Sabtu Sore

Sabtu sore, 3 September 2016. Teman-teman pengemudi dan pemilik bemo dari berbagai pangkalan berkumpul di Jalan Kimia, Jakarta Pusat.

Pertemuan santai di trotoar jalan masuk Universitas Bung Karno itu berlangsung santai, ramai membicarakan pertemuan sehari sebelumnya dan rencana ke depan.

Kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan itu adalah;

  1. Mengusahakan adanya bemo ‘baru’ yang dapat menjawab permasalahan polusi dan teknis lain dan dapat menjadi alternatif dari kendaraan yang ditawarkan oleh Dishub, Koperasi Kolamas Jaya dan Organda. Bemo ajuan ini perlu lolos uji oleh pihak yang berwenang. Sejalan dengan itu, satu bemo di setiap pangkalan akan dirapihkan secara bergotong-royong dan diusahakan untuk juga diuji kelayakannya. Syarat-syarat dan materi uji akan ditanyakan pada Dishub yang konon akan membantu,
  2. Menyebarkan angket untuk mengumpulkan suara penumpang bemo dan melampirkannya dengan surat kepada Jokowi dan Ahok yang dikirim pada akhir September,
  3. Mengundang Dinas Perhubungan untuk berkunjung ke setiap pangkalan dan melakukan sosialisasi rencana penghancuran bemo pada akhir 2016,
  4. Menampung berbagai informasi yang diberikan oleh pihak koperasi dan Organda soal fisik kendaraan pengganti dan mekanisme penggantiannya. Untuk sementara, para pemilik dan pengemudi bemo berkenan untuk mengganti bemo mereka dengan kendaraan baru, bila dibantu secara finansial seperti: uang muka sebesar 1,5 juta rupiah dengan angsuran 1 juta rupiah setiap bulannya,
  5. Menanyakan syarat-syarat yang dibutuhkan untuk menjadi petugas dan/atau pengemudi bus TransJakarta. Hal ini diperlukan bagi pengemudi bemo berusia 20-an tahun yang berkemungkinan untuk alih profesi.

Soal Bemo di Dinas Perhubungan DKI Jakarta

Undangan dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta diterima Hari Kamis, 1 September 2016 malam. Banyak perdebatan di antara pengemudi bemo tentang sah atau tidaknya undangan tersebut. Dari yang tadinya semua wakil dari pangkalan bemo akan hadir, pada saat waktunya, hanya wakil dari pangkalan Bendungan Hilir, Karet dan Grogol yang hadir.

Selain pihak Dishub yang diwakili oleh pak Mas Des (?) dan mbak Regatta, hadir dalam pertemuan tersebut pihak Organda, Koperasi Kolamas Jaya.

Ada sembilan dasar hukum yang digunakan;

  1. Undang-undang nomor 22 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
  2. Keputusan Menteri Perhubungan nomor 35 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan dengan Kendaraan Umum. Khususnya pasal 28d dan 32.2b
  3. Peraturan Menteri Perhubungan nomor 32 2016 yang mencantumkan soal mobil penumpang angkutan lingkungan dapat saja beroda tiga.
  4. Peraturan Daerah nomor 5 2014 tentang Transportasi. Khususnya pasal 50.1 dan 51.2c.
  5. Keputusan Gubernur DKI Jakarta nomor 1471 30 Oktober 1989 tentang Rayonisasi Angkutan Penumpang Umum.
  6. Keputusan Gubernur DKI Jakarta nomor 84 2004 tentang Pola Transportasi Makro.
  7. Instruksi Gubernur DKI Jakarta nomor 33 1996 tentang Pelaksanaan Peningkatan Pelayanan dari Bemo Menjadi Bus Kecil.
  8. Surat Gubernur DKI Jakarta nomor 1356/-1.711.5 22 Mei 1996 tentang Peremajaan Bemo.
  9. Surat Keputusan Kepala DLLAJR DKI Jakarta nomor 331 1996 30 Agustus 1996 tentang Penetapan Trayek dan Rute Kendaraan Pengganti Bemo.

Menurut data 2 September 2016 yang diperoleh dari survey lapangan Dinas Perhubungan jumlah bemo berdasarkan wilayah dan trayek adalah sbb.;

Jakarta Pusat

  • Bendungan Hilir Pejompongan tercatat 63 bemo dengan 30 bemo di antaranya masih beroperasi.
  • Karet – FO Sudirman tercatat 16 bemo dengan  12 bemo di antaranya masih beroperasi.

Jakarta Barat

  • Jalan Latumenten, Grogol – Duta Mas, Jelambar tercatat 40 bemo dengan 30 bemo di antaranya masih beroperasi.
  • Olimo – Mangga Besar – Pintu Air – Pasar Baru tercatat 24 bemo dan beroperasi.

Jakarta Selatan

  • Manggarai – RS Cipto Mangunkusumo tercatat 25 bemo dengan 22 bemo di antaranya masih beroperasi.

Jakarta Utara

  • Pademangan – Stasiun Kota tercatat 40 bemo dengan 35 bemo di antaranya masih beroperasi.

Jakarta Timur

  • Jalan dr Radjiman – Pulo Jahe tercatat 20 bemo dengan 12 bemo di antaranya masih beroperasi.

Total terdapat tujuh trayek dengan 228 bemo yang tercatat dan 165 di antaranya masih beroperasi.

Rekaman pertemuan dapat didengar di sini, sini dan di sini.

Pemerintah DKI ingin ‘merapihkan’ moda transportasi kotanya. Pemerintah itu mulai melakukan penertiban dari bus-bus besar Transjakarta, kemudian bus ukuran sedang seperti Metromini (oranye) dan Kopaja (hijau), sekarang tiba ‘giliran’ kendaraan transportasi kecil: termasuk Bajaj dan bemo. Bemo sebenarnya sudah dianggap tidak ada secara de jure sejak 1996, namun secara de facto 200 bemo lebih masih melayani penumpang dari kalangan bawah sampai pekerja kantoran. Para pemilik dan/atau pengemudi bemo diberi waktu sampai akhir 2016 untuk beralih ke alat transportasi umum lain, seperti Bajaj biru Berbahan Bakar Gas (BBG) dan minibus.

Dari pertemuan 2 September 2016 di kantor Dinas Perhubungan di Jatibaru, Tanah Abang itu, pemilik/pengemudi bemo diharapkan mematuhi alternatif yang ditawarkan, yaitu peremajaan melalui koperasi Kolamas Jaya yang didukung Organda. Prosesnya masih belum benderang betul, namun sederhananya adalah pemilik/pengemudi bemo menyerahkan bemo masing-masing untuk dihancurkan dan diberi kredit (melalui kerjasama ‘leasing’ dan koperasi) kendaraan roda tiga atau empat, sesuai pilihan.

Setelah dipertanyakan, alternatif ‘peremajaan’ bemo dapat dilakukan dengan mengajukan bemo yang ‘segar’ baik penampilan dan aspek teknisnya, sesuai dengan ketentuan yang disusun oleh Kementrian Perhubungan, berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan nomor KM 9 2004, tentang Pengujian Tipe Kendaraan Bermotor Menteri Perhubungan. Proses yang perlu dilalui antara lain adalah merancang ulang, pembuatan prototipe, melalui berbagai ujian untuk mengurus surat-surat kelayakan jalan, seperti yang diperoleh produsen otomotif selama ini. Ini adalah hal yang ‘berat’ bila dilakukan hanya oleh sekelompok pengemudi bemo yang ingin tetap menggunakan bemonya sebagai mata pencaharian.

Save

Save

Pak Kinong dan Kawan-kawan 17an

Empat bemo warna-warni beriiringan dari Karet, Manggarai, Proklamasi, Gondangdia dan pulang lewat Balaikota. Konon mumpung pak polisi sedang upacara peringati 71 tahun negara (yang konon sudah) merdeka.

Di paling depan, BemoBaca putih dengan rak buku yang terlihat karena terpal penutupnya dibuka sepanjang jalan, dikemudikan oleh pak Kinong. Di belakangnya adalah pak Mahmud dengan bemo berwarna biru milik pak Iin. Atap bagian penumpang diselimuti kap berwarna merah bergambar Sutan Syahrir.Kemudian bemo ungu dengan kap merah bergambar Tan Malaka beserta pesannya yang diambil dari Buku Madilog. Bemo ungu itu baru selesai dicat dan kali ini disupiri pak Yadi yang ditemani pak Sugeng di sebelahnya. Paling belakang adalah bemo pak Mamat. Bemo yang paling ‘sehat’ dan rapih itu diselimuti rajutan benang poly warna-warni hadiah dari Kelompok RajutKejut tahun lalu.

Di tengah perjalanan, rombongan pak Kinong mampir ke kediaman mbak Gita di seberang Gedung Proklamasi, yang tidak disangka telah menyiapkan makan siang yang lezat di atas meja makan yang panjang. Terima kasih mbak.

Santai menyusuri jalan-jalan menebar polusi udara dan suara.

IMG_3095 IMG_3096 IMG_3097 IMG_3099 IMG_3107 IMG_3108 IMG_3109 IMG_3111 IMG_3113 IMG_3115 IMG_3116 IMG_3117 IMG_3125 IMG_3137 IMG_3140