Category: 1999 04 Edisi 100

  • Gaya hidoep kaoem terpelajar tempo doeloe

    1999_April_Edisi 100_milikita: Gaya hidoep kaoem terpelajar tempo doeloe Nurani Juliastuti Waktu itu tahun 1901. Kemenangan koalisi partai-partai Kristen di Belanda telah merubah kebijaksanaan kaum penjajah di negeri hindia. Mereka mendesak kebijakan politik etis yang hendak memperluas kesempatan pendidikan bagi anak-anak pribumi. Kebijakan ini telah melahirkan elit baru di Indonesia, yaitu golongan kaum terpelajar. Mereka inilah […]

  • Atribut Mahasiswa

    1999_April_Edisi 100_selip: Atribut Mahasiswa Kartu Mahasiswa. Di dalam bis, kartu ini bisa berubah menjadi “karcis diskon.” Merkipun peraturan Pemerintah DKI yang ditempel di bis-bis dituliskan “Mahasiswa/pelajar Rp. 100 dengan menunjukan kartu”, ternyata tak semua punya nyali untuk menghadapi kenek. “Dari pada dibentak-bentak?” kata Dian mahasiswa Perbanas Jakarta semester akhir. Di Yogyakarta lebih bersahaja. Cukup melihat […]

  • Menjadi pekerja sosial

    1999_April_Edisi 100_selip: Menjadi pekerja sosial “City Year”, program mahasiswa peduli kota. Sebuah program untuk mempedulikan persoalan kemiskinan serta lingkunagn kota seperti memperbaiki taman untuk masyarakat, atau mempercantik pemukiman kumuh, dll. “Sebelumnya tak terlintas dalam diri saya untuk bertanggung jawab pada apapun, selain punya BMW, rumah atau apartemen mewah. Sekarang cara berpikir ini sudah usang, lewat […]

  • Mahasiswa

    1999_April_Edisi 100_selip: Mahasiswa The Happy Selected Few”! Inilah ungkapan Soe Hok Gie ketika berbicara soal mahasiswa, yaitu segelintir kaum muda yang bisa mengenyam pendidikan tinggi serta punya tanggung jawab dalam perjuangan bangsanya. Sedikit tidak heroik, masa mahasiswa punya segudang romantisme, dari mulai harus menjalani plonco, bangga terhadap atributnya, sampai bagaimana mereka berusahan mengenali potret buram […]