Air Mancur, Membuat Ruang Lebih berjiwa

2002_Maret_Edisi 132_Bahas
Air Mancur, membuat ruang lebih berjiwa
Ade Tanesia

Ingatkah anda pada air mancur berjoget di bilangan Monas? Ingatkah bahwa di situ pula Anda bias berteu dengan warga kota lainnya, saling menyapa atau sekedar melempar senyum. Kini air mancur berjoget telah tiada. Monas pun kehilangan salah satu daya tariknya.

Air mancur di tengah kota, memang berdaya untuk melahirkan rasa. Mungkin karena itu pula, ada “kebutuhan besar” untuk merenovasi air mancurdi Bundaran Hotel Indonesia, yang rencananya akan mulai dilaksanakan tahun ini. Kelak, menurut perancangnya, Prof.Dr. Ir Danis Worro, Patung Selamat Datang yang tingginya 20 meter itu akan dikelilingi oleh barisan air mancur dalam konfigurasi warna merah dan putih (dihasilkan dari 96 nosel. Tidak hanya itu, ahli perkotaan dariIITB ini pun kan menambah sensasi karyanya dengan gelombang ombak lautan (dihasilkan dari 210 nosel) dan lesatan komet (dihasilkan sebagai sentuhan akhir, akan dibuat juga program konfigurasi gerak air mancur yang disesuaikan dengan music pengiringnya.

Sepertinya, Jakarta akan mempunyai lagi air mancur berjoget. Untuk itu, tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan (konon mencapai Rp. 14 milyar!) Karenanya, sebuah tantangan besar bagi seorang Danis Woro untuk membuktikan bahwa air mancurnya memang layak semahal itu, misalnya karena memang mampu membuat warga untuk saling melempar senyum damai diantara belantaran beton, kemacetan dan kebisingan kawasan Thmarin-Sudirman. Bila tidak, karya itu tidak berbeda dengan kosmetik berlebihan bagi sebuah kota yang tengah compang-camping.

Air mancur di tengah kota, memang punyak banyak cara untuk melahirkan rasa. Seperti halnya Trevi Fountain karya Nicola Salvi dan G. Panini di Roma. Air mancur (atau lebih tepat disebut pancuran air) yang diselesaikan tahun 1762 ini, masih saja berhasil mengundang decak kagum bagi siapa saja yang memandangnya. Sebagai adi karya, ia berhasil menerbitkan rasa hormat, sehingga terasa ad jarak yang diciptakannya bagi para penikmat.

Ini berbeda dengan konsep yang diperkenalkan Lawrence Halprin ketika membangun Lovejoy Plaza di Portland, Oregon pada tahun 1966. Ia membuat sebuah air mancur mampu berinteraksi dengan manusia sekitarnya. Halprin membiarkan air mengalir melewati tangga-tangga hingga menghasilkan ritme bunyi air yang berbeda-beda. Ia pun memberi kesempatan bagi anak-anak untuk bermain air, bahkan berenang, di kolam besarnya.

Salah satu arsitek Indonesia yang menggunakan konsep Halprin adalah Ir. Didik Kristiadi MLA, MUD, yang mengibaratkan air mancur sebagai panggung tempat berlangsungnya drama yang diperankan oleh air dan orang-orang yang melewatinya. Dengan prinsi inilah Kristiadi mendesain air mancur di Kampus Universitas Muhamadiyah Yogyakarta (UMY).

“Airnya dimuncratkan dari baawah dan percikannya mengenai mahasiswa. Sensasi yang akan terjadi misalnya ketika ada mahasiswa yang terkena airnya akan ditertawakan teman-temannya. Inilah estetika ekologi yang saya anut,” ujar Kristiadi. Menurutnya, konsep tersebut tidaklah baru. Itu sama seperti indahnya pemandangan saat anak-anak kecil bermain di pancuran air desanya.

Konsep yang sama pernah diterapkan pula saat mengikuti sayembara desain landmark kawasan Ancol, di mana rancangan Kristiadi bersama Anusapati, pematung dai ISI, dan Ir. Adi Utomo Hatmoko ini keluar sebagai pemenang favorit. Mereka merancang air mancur dengan tabir kaca serta memungkinkan pengunjung berjalan di atas ramp spiral menuju mercu suar.
“Objek yang dipajang bukan objek mati, pengunjung bias naik menuju mercu suar. Mungki kalau kepanasan mereka pakai paying dan ini akan menghasilkan panorama tersendiri. Inilah estetika yang bias mendekatkan karya seni dan masyarakat. Air mancur adalah karya dinamis, bukan statis, “lanjut pengajar di Jurusan Arsitektur UGM ini.

Air mancur di tengah kota, nyatanya mampu memelihara rasa. Gemericiknya melemahkan kebisingan. Cahaya matahari yang dipantulkan memendarkan energi alam. Cipratan airnya melahirkan kegembiraan. Sungguh, keberadaannya membuat ruang lebih berjiwa.

Muka Air, Seperti Apa Wujudnya?

2002_Maret_Edisi 132_Bahas
Muka Air, Seperti Apa Wujudnya?
Rohman Yuliawan


What attract people most, in sum, is other people -William Whyte
Pendapat pengamat masalah perkotaan asal Amerika ini sepertinya benar. Hasrat dasar manusia sebagai makhluk sosial memang selalu ingin berada di tengah manusia lainnya. Itu sebabnya adanya ruang kolektif menjadi keharusan bagi sebuah kota. Runag terbuka bersama tersebut bias saja berupa lapangan, alun-alun, plaza, taman kota atau muka air (waterfront).

Muka air sebagai salah satu bentuk ruang terbuka mungkin masih belum disasari keberadaannya, apalagi peranannya. Padahal, menurut Marco Kusumawijaya, pakar lingkungan binaan, muka air (ruang sepanjang tepi badan air; sungai, laut maupun danau) menyodorkan ruang interaksi bermakna dalam, yaitu menempatkan manusia di hadapan wilayah tanpa batas, alamiah, dan jujur, di mana manusia akan menyadari kekerdilannya di hadapan alam dan, tentu saja, Sang Khalik.

¬¬Potensi kawasan muka air mulai marak dibicarakan pada tahun 1960an, ketika di Amerika muncul kegairahan baru untuk menengok kembali kawasan tepi air, sisi kota yang “terabaikan”. Ann Breen dan Dick Rigby, penulis buku “Waterfronts; Cities Reclaim Their edge.” Menuturkan bahwa di tahun 1950-an pelabuhan-pelabuhan tua di Amerika bagian utara mulai ditinggalkan seiring berkembangnya fasilitas transportasi udara dan sarana pengapalan barang yang lebih moderen di kawasan Amerika bagian selatan. Dan kondisinya semakin memburuk ketika industri dan pemukiman pun memuarakan limbahnya di kawasan pelabuhan tersebut.

Seiring dengan munculnya kesadaran masyarakat akan nilai sejarah kawasan tepi pantai, tempat awal perkembangan kota, dan tumbuhnya kepedulian akan masalah lingkunagan hidup, semangat “menggairahkan kembali” kawasan muka air pun merembak. Kawasan muka air dijadikan ruang dimana khalayak dapat bergaul dengan nyaman. Kemudian muncul Harbour Place di New Hampshire dan Bayside Marketplace di Miami, Florida. Langkah ini kemudian disusul oleh pengembangan muka air di luar Amerika, semisal di sepanjang Sungai Thames yang membelah kota London dan di pelabuhan kota Barcelona.

Sebetulnya, kita pun banyak memiliki kawasan muka air yang berpotensi untuk indah dan nyaman bila memang dipikirkan dengan sungguh-sungguh.

“Contohnya adalah kota Palembang. Sungai Musi yang membelah kota mempertontonkan vitalitas yang mengagumkan, terutama karena aktifitas ekonomi dan sosial yang pernah dan masih berpusar di permukaannya,” tutur Marco.
Masalhanya, muka air dalam benak sebagian besar orang masihlah berfungsi sebagai “halaman belakang” dari suatu kota. Sungai tersu digelontori limbah dan sampah, sementara pantai digerus dan diurug hingga kehilangan daya dukung alamiahnya.

Tidak hanya itu, menjadikan muka air sebagai ruang terbuka nampaknya masih jauh dari kenyataan. Ambil saja contohnya bentang pantai Jakarta yang panjangnya sekitar 30 kilometer itu, apakah masih tersisa darinya secuil ruang public yang ada? Pantai?, sebuah lingkup muka air yang seharusnya menjadi hak public, malah lebih banyak digarap sebagai lahan pemukiman yang hanya bias diakses oleh kalangan terbatas. Kawasan Ancol atau Pantai Indah Kapuk, misalnya, memperlihatkan betapa hak masyarakat umum untuk menikmati bentangan pantai secara bebas telah dibatasi oleh kepentingan pariwisata an modal.

Ironisnya, para pengembang dengan restu pemerintah kota tentunya, dengan berani menyebut kawasan tersebut sebagai “waterfront city”. Padahal sebuah “city”, menurut Marco, mensyaratkan ruang akomodasi bagi kepentingan khalayak, siapa pun dia. Sebuah kota, apalagi yang berpredikat waterfront city, sejatinya lahir dan dibangun oleh kesepakatan-kesepakatan khalayak, bukan oleh segelintir orang yang kebetulan punya kuasa.

“Kota-kota yang dibangun atas kehendak orang banyak, selalu kota pantai atau muara sungai. Ia tumbuh alamiah bersama dengan tumbuhnya perdagangan antar bangsa, antar orang-orang yang berbeda. Sementara kota-kota pedalaman, cenderung dibangun oleh sebuah bentuk kekuasaan yang berusaha membenarkan diri dengan segala bentuk simbol-simbol,” papar Marco. Banyak kota telah terjebak untuk memasrahkan kawasan muka airnya ke tangan modal dan kekuasaan, seperti halnya Jakarta. Muka air diperlakukan tak lebih sebagai komoditas dagang. Akhirnya, ruang terbuka yang terbentuk pun cenderung menyisihkan hak warga untuk menikmati matahari tenggelam di ufuk barat. Muka air pun tak pernah terwujud dengan jelas dan benar di benak sebagian besar warga masyrakat. Karenanya, ia semakin sering disalah artikan dan disalah gunakan.

¬¬Sumber: Been, Aris and Dick RSgby
Watercity: Cities Reclaim Their Edge, Mc Graw-Mtld, 1994; Kusumawijaya, Marco, “Ahli Kota dan Arsitektur.” Arikel untuk Jurnal Arsitektur Indonesia, Jakarta: 2002.

Majapahit, memang hebat!

2002_Maret_Edisi 132_Bahas
Majapahit, memang hebat!
Ade Tanesia

Memasuki Trowulan, segera kita dikejutkan oleh sosok Kolam Segaran yang gigantic dalam ukuran 375 x 175 meter!
Syahdan, di tepi Segaran atau “laut (buatan)” itulah raja Majapahit menjamu para tamu kehormatan dengan pesta-pesta bersalut suguhan melimpah. Dan, untuk lebih memamerkan kemamuran kerajaannya, Sang Paduka tidak segan untuk membuang peralatan makan emas dan perak ke kolam sedalam 5,6 meter ini.

Kemakmuran Majapahit adalah contoh sukses kemampuan manusia mengelola air. Kolam Segaran, Waduk Baureno, Waduk Kumitir, Waduk Domas, Waduk Kratom, Waduk Kedungwulan, Waduk Temon, dan kanal-kanal berdinding bata selebar 35 hingga 45 meter, adalah gambaran nyata dari upaya memanfaatkan air. Dengan demikian pada musim kemarau lahan pertanian tetap terairi, sedang di musim penghujan, banjir pun tak sampai datang menimpa.

Ada pembagian fungsi dari waduk yang menarik di cermati. Waduk Baureno misalnya, dibangun untuk menampung kikisan yang turun dari Gunung Anjasmoro. Kemudian, air yang lebih bersih akan dialirkan ke Wauk Domas, untuk menahan banjir, dan ke Waduk Kumitir, untuk mengairi sawah. Dari kedua waduk tersebut dipasang pipa terakota menuju Kolam Segaran dan Waduk Keraton, untuk memenuhi kebutuhan di wilayah Kraton.

Sumber: Arifin, Karina, Waduk dan Kanal di Pusat Kerajaan Majapahit Trowulan-Jawa Timur. Skripsi, Jakarta: Jurusan Arkeologi fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1983). Kartoredjo, Sartono, Prof. DR.,700 Tahun Majapahit (1293-1993) Suatu Bunga Rampal, Edisi kedua, Surabaya; Dinas Pariwisata Daerah, Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur 1993.¬¬

Air, Majapahit, dan Kemakmuran

2002_Maret_Edisi 132_Bahas
Air, Majapahit, dan Kemakmuran
Ade Tanesia

Bila Jakarta 700 tahun ke depan hanyalah sebuah peninggalan, akankah ia meninggalkan sebentuk kota yang mengagumkan? Atau ia hanya akan meninggalkan gundukan sampah di seantero wilayahnya?

Sungguh dari sebuah peninggalan kita dapat menilai kemajuan atau keterbelakangan sebuah kota. Dan seorang Raden Wijaya seakan tahu betul bagaimana cara untuk mengharum-lestarikan namanya. Ia mewariskan Trowulan, sebuah “kota” di Mojokerto, Jawa Timur, yang sohor sebagai pusat kerajaan Majapahit. Dari tanah pemberian Jayakatwang (Raja Kediri) ini, Majapahit mampu memegang kendali monopoli perdagangan. Hal ini dimungkinkan oleh kematangannya dalam merencanakan dan membangun saluran-saluran air.

Cerita Majapahi, adalah cerita tentang sebuah kerajaan yang meraih kemakmuran dengan memanfaatkan air. Tidak saja sebagai urat nadi pelayaran, tapi juga sumber kesuburan bagi pertanian mereka. Dalam berita Ying-yai Sheng-lan (1416) diungkapkan bahwa pelabuhan Canggu hampir tidak pernah sepi dari duyunan orang yang hendak datang ke ibu kota Majapahit, yang jaraknya satu setengah hari berjalan kaki. Mereka datang dari berbagai daerah. Dalam kisah lainnya, disebutkan pula adanya kedatangan bangsawan asal Persia lengkap bersama unta-unta mereka.

Menguasai titik-titik pelabuhan terpentig, membuka kesempatan Majapahit untuk memenuhi pundi kerajaan dengan hasil pajak dagang dan hasil bumi. Tidak cukup dengan itu, kerajaan ini pun memperluas lahan pertaniannya. Mereka mampu mengirim beras ke daerah-daerah di bagian timur Nusantara untuk ditukar dengan rempah-rempah, yang kemudian mereka jual ke China. Semua kemakmuran ini, sekali lagi, tidak lepas dari kepiawaian Majapahit membangun system pengairan. Mereka membangun waduk, kolam buatan serta kanal, yang tidak saja mampu mengairi areal pertanian, tapi juga berfungsi mengendalikan banjir saat Kali Brantas meluap.

Keseriusan mengelola air bias terlacak dengan adanya jabatan; matamwak untuk mengurus saluran irigasi, hulu wuatan untuk mengurus pengelolaan jembatan dan hulair untuk pengolahan air. Para pejabat inilah yang mengawasi mengalirnya air antara satu waduk ke waduk lainnya serta mengontrol seluruh kawasan agar tidak ada yang mengalami kekurangan air. Sementara untuk memperlancar hubungan dagang, dalam prasasti Trowulan (1358) disebutkan adanya 44 buah tempat penyeberangan di tepi Sungai Solo dan 34 buah lainnya di tepi Brantas.

Menguasai jantung perdagangan laut dan piawai menerapkan teknologi pengairan untuk pertanian, maka lengkaplah kejayaan Majapahit. Tidak berlebihan bila kemudian Majapahit menyandang predikat sebagai kerajaan maritim agraris. Namun, ternyata air pula yang menggiring kerajaan ini ke jurang kehancuran.

Dimulai dengan terjadinya letusan Gunung Anjasmoro tahun 1451. Waduk-waduk, kanal-kanal dan saluran-saluran air banyak tak terselamatkan. Kondisinya diperparah dengan merajalelanya pembabatan hutan oleh para pejabat. Banjir pun tak lagi terbendung. Sementara itu perebutan kekuasaan tengah pula berlangsung. Kilau Majapahit mulai memudar. Pusat kerajaan makin terdesak ke pedalaman, menjauhkan Majapahit dari air yang menghidupinya.

Susah-susah Gampang: Regenerasi Pemain di Dunia Teater

2002_Maret_Edisi 132_Lintas:
Susah-susah Gampang: Regenerasi Pemain di Dunia Teater
Ade Tanesia

Siklus pemain teater yang datang dan pergi seringkali dialami oleh kelompok-kelompok teater di Indonesia. Kalau pun banyak orang yang berminat, biasanya rontok di tengah jalan, Yudi Ahmad Tadjudin dari Teater Garasi pernah sampai 100 orang yang terlibat. Namun hanya 15% yang masih bertahan hingga kini.

“Regenerasi adalah hal sulit dalam dunia teater. Jangan bicara dulu soal bakat, yang serius saja sangat sedikit. Kebanyakan hanya datang dan pergi,” ungkap Yudi.

Dalam kasus Teater Garasi, banyak orang yang ingin terlihat, tapi sudah menciut dengan keseriusan kelompok teater ini menekuni dunianya. Dengan melewati tahun-tahun yang panjang, teater Garasi memang sudah memperoleh enam pemain baru, di antaranya ada tiga orang yang cukup menjanjikan.

Persoalan anggota yang datang dan pergi juga dialami oleh sutradara Teater Tetas, Ags Arya Dwipayana. Walaupun hampir setiap tahunnya ada generasi yang siap bergabung, namun banyak yang mundur.

“Dalam satu tahun selalu ada sekitar 25 anggota baru bergabung, namun meskipun anggota teater Tetas saat ini mencapai 50 orang yang tetap aktif hanya 25 orang. Anggota baru datang, nanti yang lama hilang. Sesekali mereka muncul kalau sedang kangen. Siklusnya seperti itulah, keluar masuk, gugur satu persatu, selalu ada pengganti yang baru. Capek memang tapi asik,” tutur Ags Arya Dwiyana.

Teater Koma yang mempunyai anggota terdaftar sejumlah 75-100 orang, ternyata hanya 40 orang saja yang aktif. Kaderisasi di kelompok ini dilakukan dengan beberapa cara, misalnya tahun 2000 sempat membuka penerimaan anggota baru. Ada pula denganmelihat bakat seseorang dan didekat secara perlahan untuk ditarik masuk ke teater. Atau cara lain lagi, yaitu menawarkan scenario Nano Riantiarno untuk digarap oleh anak-anak Bulungan namun tetap dengan asuhan sang sutradara.

“Memang susah mencari orang dengan minat dan bakat yang bagus, tetapi asal dijalani akan muncul dengan sendirinya.” Ujar Sari Madjid, pemain senior dan stage manager Teater Koma.
Teater di Indonesia memang bukan broadway yang actor dan artinya bisa hidup dari teater. Dunia Teater di Indonesia rupanya masih dianggap pilihan ganjil untuk diterjuni secara total, karena itu masih banyak keragu-raguan untuk menekuninya.

Check your Green Map

2002_Maret_Edisi 132_Green Map:
Check your Green Map

Green Map adalah sebuah system pemetaan yang bermaksud menampilkan sumber dan lingkungan dan budaya di suatu kawasan. Saat ini,jaringan Green Map System yang dibangun oleh wendy Brawer di New York pada tahun 1994, telah terbentuk di 156 kota di dunia. Jakarta terdaftar sebagai kota ke-156 dan ibu kota Negara ke-20 atas nama [aikon!] dan Marco Kusumawijaya.

Tujuan akhirnya adalah meningkatkan kebiasaan hidup perkotaan yang sehat berlandaskan asas berkelanjutan. Caranya? Dengan membantu warga untuk menyadari setiap interaksi yang terjadi antara sumber daya alam dan kebudayaan. Dan ini harus dimulai dengan menampilkan kepermukaan setiap kenyataan dan maknanya sehingga dapat disadari keberadaan dan peran pentingnya.

Green Map untuk Jakarta telah terbit di [aikon!] edisi 131. Februari 2002 dengan Kemang sebagai kawasan pertama yang ditampilkan. Dan akan disusul dengan kawasan Kebayoran Baru dan Menteng.

Ili-ili sang penguasa air

2002_Maret_Edisi 132_Bahas
Ili-ili sang penguasa air
Joni Faizal
ili2
Sebut saja namanya Teguh. Usianya sekitar lima puluh tahunan. Ia, seperti petani lain lebih sering memakai celana hitam selutut. Tidak ada tanda-tanda dari penampilannya yang menunjukkan kewibawaan. Tapi di Balerejo,Kecamatan Batanghari, Kabupaten Lampug Timur, ia adalah orang penting.

Teguh memiliki kekuasaan besar, karena ia adalah seorang ili-ili, petugas yang paling bertanggung jawab terhadap aliran air dikampungnya. Ia adalah pemilik hak untuk mengatur kemana air akan dibelokkan, kapan aliran air akan dihentikan. Artinya, ia pula yang menjadi tumpuan keberhasilan dan kegagalan panen desanya.

Di desa Balerejo, distribusi air menganut system jonggolan, yaitu pengelolaan air dengan cara iuran. Dari setiap bahu (ukuran yag dipakau di Desa Balerejo untuk menyebut ¾ hektar sawah), penduduk wajib menyisihkan 30 kg gabah untuk mendapatkan air. Dan Teguh mendapat 20 kg dari setiap 30 kilogram itu! Maklum saja sebagai ili-ili Teguh tidak digaji rutin setiap bulannya.

Berbeda dengan pamong-pamong desa, ili-ili berhak pula mendapatkan “upah” setiap kali panen (baik itu musim padi maupun musim palawija) dari pemilik lahan, sementara pamong-pamong desa hanya mendapat bagiam dari pengelolahan air hanya saat muim padi.

Dengan profesi di “tempat basah” seperti itu, ili-ili berpeluang besar untuk disuap. Bayangkan saja, untuk mendapat pasokan air di luar pengairan, paling tidak petani Balerejo harus menyedot air sungai. Itu memakan biaya sewa diesel sebesar 4000 per jam. Untuk sawah seluas 0.25 bahu (1 bahu -0.7 ha.), diperlukan waktu selama 6 jam.

Seorang petani bernama Maksum mengaku lebih suka menyuap ili-ili dari pada menyewa diesel. Biaya untuk itu memang cukup besar, yakni mencapai Rp. 150.000,- sekali suap untuk lahan setengah bahu. Meski harus berhutang ia tetap rela melakukannya “Apa pun caranya, panen tak boleh gagal.” Ujar Maksum.

Cara yang ditempuh Maksum jelas hanya berlaku bagi petani yang memiliki modal. Sedangkan yang tidak, biasanya diam-diam menutup aliran air petani lainnya pada malam hari. Usahan ini tidak jarang menjadi pemicu perkelahian antar petani, walaupun diantaranya kerabat sendiri.

Sumber: Winarta, Yunita T. et.at Satu Dasa Warsa Pengendalian Hama Terpadul; Berjuang Menggapai Kemandirian dan Kesejahteraan. Jakarta; Indonesia #AO Intercountry Program, 2000¬¬¬

Dari Pena Remy Sylado ke Kamera Nia Di Nata

2002_Maret_Edisi 132_Berbagi:
Sebuah masyarakat, sebuah asal pikiran terbuka, sebuah [aikon!] society
Harjuni Rochajati

Dari berbagi-Februari
Dari Pena Remy Sylado ke Kamera Nia Di Nata
Jum’at, 15 Februari 2002

Kehadiran penulis dan sutradara Ca Bau Kan berhasil menyesaki kantor [aikon!] dengan sekitar 30 peserta.

Ini adalah film layar lebar pertama bagi Nia. Sementara bagi Remy, ini adalah karya kesekian puluh, paling tidak sejak meluncurkan puisi-pusisi mbeling yang terkenal di tahun 70-an itu. Karyanya terakhir yang diterbitkan berupa naskah sandiwara berjudul Siau Ling.

Remy memiliki begitu banyak data tentang seluk beluk hidup etnis Tionghoa di Indonesia. Arsip Nasional dan sahabat karib adalah sumber pengetahuannya untuk Ca Bau Kan. Sementara Nia, adalah pembaca yang begitu mengagumi setiap detail gambaran dikalamkan Remy.

Ca Bau di tangan Remy maupun Nia, tak luput dari kritik dan kecaman. Bila Remy maupun Nia, tak luput dari kritik dan kecaman. Bila Remy dianggap “sok tahu” bahkan “menyudutkan etnis Tionghoa”, maka Nia dianggap “tidak mampu”. Tapi, keduanya terus melanjutkan karya dan menyodorkan masyarakat untuk menilai.

Menjelang magrib Remy Sylado harus berpamitan walaupun banyak peserta yang masih ingin bertanya. Acara dilanjutkan dengan pemutaran cuplikan beberapa adegan film Cau Bau Kan.

Sampai jumpa di Berbagi bulan Maret, bersama Asmujo dan Fabriek Gallery-nya.

Mengelola air, menciptakan peradaban

2002_Maret_Edisi 132_Bahas
Mengelola air, menciptakan peradaban
Joni Faizal

Kerajaan legendaris Sheba dan Saba, kerajaan megah di sudut tenggara Yaman, selama 13 abad berhasil membangun peradaban yang ditopang oleh sistem pengairan. Mereka berhasil mengubah gurun menjadi tanah pertanian subur. Tetapi cerita tentang kemakmuran mereka berakhir saat bendungan, yang memberi makan sebagian penduduk Timur Tengah pada saat itu, runtuh akibat tidak dikelola dengan baik. Lepas tahun 570 M, keberuntungan waduk akhirnya menenggelamkan pula Sheba ke dasar kehancuran.

Manusia mulai “mengatur air” paling tidak sejak Jaman Batu Baru (50.000 – 5.000 SM). Kala itu manusia mulai belajar bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan pangan. Saat itu pula manusia tengah membangun peradabannya.

Air, kekuatan besar yang dapat menentukan kemakmuran. Alirannya telah mengantar banyak mencapai pera-daban besar. Bangsa Mesir Karena Sungai Nil, Bangsa Mesopotamia yang daerahnya kini menjadi Irak, Karen sungai Trigis dan Furat, Bangsa India karena Sungai Indus dan Bangsa Cina karena Sungai Kuning.

Kejayaan peradaban Mesir setidaknya dimulai sejak Menes, yang merupakan pendiri keluarga raja pertama, giat mendirikan bangunan-bangunan hidrolik di ibu kota Memphis sekitar 3100 SM. Pekerjaan Menes ini dilanjutkan oleh beberapa wangsa Firaun dalam bentuk system pengairan yang tertata. Mereka membuat tanggul juga saluran air dari sungai Nil ke Danau Moeris dia barat Memphis, yang tidak saja dapat menahan luapan Sungai Nil, tapi juga dapat membuat Faiyum sebagai daerah subur dan rimbun; Tidak berlebihan bila kemudian Herodotus, menyebut Mesir sebagai “anugerah sungai Nil”.

Anugerah aliran sungai pula yang memahat Mohenjo-daro di Lembah Indus dalam sejarah peradaban besar umat manusia. Ibu kotanya yang disebut Kota Harapan, 332 km sebelah utara Karachi, Pakistan, dianggap berhasil membangun dirinya melalui kecanggihan teknologi pengelolaan air. Padahal itu terjadi pada 2500 SM!. Salah satu yang menarik dari kehidupan kota tersebut adalah berkembangnya sistem pembuangan air dari perumahan melalui saluran tertutup bawah jalan.

Tahun 700 SM, raja Asiria, Senacherib, jua melengkapi Niiveh, ibu kota negaranya, dengan saluran air yang sebagian melintangi lembah lebar, yang merupakan salah satu talang besar di jaman itu. Dibutuhkan 2.000.000 balok batu untuk membangunnya. Tidak hanya itu, Mesopatamia pun terkenal dengan Terusan Nahrwan yang mengalirkan air sejauh 300 kilometer, dari Tikrit dan Sammara sampai ke Kut.

Bangsa Cina tidak ketinggalan menuai kejayaan peradaban melalui persahabatan dengan air. Sungai Kuning dengan Terusan Agung sepanjang 1600 km, selama 2000 tahun berfungsi sebagai jalan utama perdagangan antara pusat politik di utara dengan pusat pertanian di selatan. Pada puncak kesibukannya, lebih dari dua juta ton gandum disalurkan melalui perahu-perahu kayu. Aliran ini pun berfungsi sebagai system pengendalian banjir, sekaligus rute tamasya para kaisar ke sejumlah istana dan taman yang berjajar di tepiannya.

Peradaban bentukan air juga menyisakan tinggalannya di Nusantara. Proyek paling tua terletak di hulu Kali Konto dan terus ke barat sampai bermuara di Kali Brantas, Kertosono, Jawa Timur. Pada prasasti di desa Harinjing (dari tahun 921), bagian pertamanya mengulang sebuah prasasti tahun 804 tentang penggalian sebuah saluran oleh para kepala desa serta pembangunan sebuah tanggul di anak sungai Kali Konto. Pengetahuan pengelolaan air yang menjadi politik agraris para raja Jawa, kemungkinan besar dicontoh dari kemegahan Angkor yang teah memiliki waduk berkapasitas lebih dari 50 juta m3.

Begitu banyak catatan sejarah tentang kekuatan air membentuk dan menghancurkan peradaban manusia. Tidak cukuplah untuk jadi pelajaran bagi kita?

Sumber;  Leopald, Luna R. Kenneth David “Water.” Tie Life 1990  Lambard, Denys, Nusa Jawa; Silang Budaya, Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentris. Jakarta; PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000. www.oldprints.co.uk¬

Citilink hanya sukses memoles pesawat.

2002_Maret_Edisi 132_Sekitar Kita:
Citilink hanya sukses memoles pesawat.
Joni

Trend membuat tubuh pesawat dengan gambar dan aneka corak rupanya menyentuh juga maskapai penerbangan komersil kita. Paling tidak, hal itu telah lakukan oleh Garuda Indonesia dengan produk Citilink-nya. Di tubuh pesawat jenis Fokker-28 itu, kini dapat kita nikmati stulasi flora tropis dengan warna-warni yang mengundang mata.

Menurut Anang, dari bagian kreatif Mentari Communication-perusahaan yang mendapat kontrak mendesain pesawat itu gambar-gambar bunga tersebut sengaja dipilih untuk memberikan kesan aktif, non-formal, berjiwa muda, dan dinamis, sebagaimana target penumpang yang diirik oleh citilink.Gambar gambar flora itu,tulis Anang,sekaligus pula mewakili khazanah kekayaan alam Indonesia.Menarik bahwa kemudian pesawat jenis Fokker-28,yang di anggap biasa itu bisa tampil sebagai pesawat istimewa karena balutan desain baru.

Di banyak Negara,gambar di tubuh pesawat umumnya dibuat untuk menunjukan identitas, kebanggaan, atau pesan tertentu, selain tentu saja untuk tujuan komersil. Amerika Selatan, misalnya, membuat desain yang menyatakan persamaan hak. Sementara Austria mengambil aikon composer Johann Strauss yang potret wajahnya menghiasi ekor beberapa pesawat milik maskapai penerbangan mereka. Jepang pun tidak ketinggalan. Gambar Pokemon yang sering muncul di layar televise, menempel cantik di pesawat milik All Nippon Airways setelah seorang anak berusia lima tahun bernama Shota Sato berhasil memenangkan lomba desain pesawat itu.

Di beberapa Negara, corak ragam badan pesawat nampknya dimanfaatkan betul untuk mengusung sebuah pesan, juga untuk menguatkan identitas negara. Dan inilah yang tidak terasa pada meriahnya tubuh Citilink, selain memang menjadikan sebuah Fokker-28 tampil lebih cantik.

“Desain itu hanya intuisi dari kami ketika menerjemahkan tentang sesuatu yang menyegarkan dan indah di Indonesia,” papar Stefanus Sulis, Head of Mentari Communication. Akibatnya, corak bungan yang dipilih pun tidak menyampaikan pesan khusus, selaun hanya mewakili suasanan negeri tropis. Dan kita semua tahu, tidak hanya Indonesia yang berpredikat sebagai negeri tropis.