Bojongsari, kampung ratusan golfer

2001_Juni_Edisi 125_Jelajah:
Bojongsari, kampung ratusan golfer
Joni Faizal

Di sini, golf menjadi paru-paru kehidupan. Anak-anak kecil sudah lama menggantikan kelereng dengan stik golf. Di sini, para golfer ternama Indonesia lahir dan memulai karir.

Bukan sekedar guyonan kalau di Bojongsari ada lomba golf tingkat RT. Bahkan, golf bisa disebut sarapan pagi orang kampung ini. Ini kenyataan! Kampung yang terletak 12 Km dari sebelah barat Kota Depok ini tempatnya para golfer pro. Di sini pula lahir para golfer yang membawa nama harum Indonesia di pentas nasional maupun Asia. Catat saja nama Maan Nasyim, Sanusi, Sarmili, Deni, Abd. Rohim, atau pun yang junior. Tidak mengherankan nila setiap tahun, pelatnas golf di Rawamangun selalu merekrut putra-putra Bojongsari. Selain itu, kampung ini pun dikenal sebagai pemasok pekerja di padang golf, mulai dari penyabit rumput, caddy, master caddy, starter, marshal, hingga manager.

“Dapat dikatakan 90 persen penduduk Bojongsari memiliki pekerjaan yang berhubungan dengan golf,” kata Doni, Ketua RW 02/03, yang sehari-harinya berprofesi sebagai starter di Palm Hill Golf Klub, Jakarta.

“Di Palm Hill sendiri, paling tidak terdapat 50 orang pekerja yang berasal dari Bojongsari,” lanjutnya.
Itu baru di satu padang golf, belum termasuk temapt lain seperti Rancamaya, Matoa, Rawamangun, Senayan, bahkan ada juga yang bekerja di luar negeri.

Tanah seratus perak per Meter
Kemasyuran generasi muda Bojongsari di dunia golf, bukan tanpa pengorbanan para orang tua mereka, yang harus merelakan tanah mereka untuk dijadikan padang golf. Peristiwa itu terjadi sekitar akhir tahun 1960-an. Kampung Bojongsari yang luasnya mencapai 169,3 hektar tersebut harus kehilangan sebagian lahan pertaniannya. Kalau dilihat dari peta saat ini, wilayah itu meliputi RW 05, RW08, RW 10 dan RW13.

“Waktu itu tanah hanya dihargai seratus perak!” tutur Kadiman, salah seorang sesepuh kampong. Menurut ayah seorang putra yang juga pemain golf pro ini, tidak seorang pun pada waktu itu yang berani menolak patokan harga yang ditawarkan.”Yang nolak dianggap PKI,” katanya.

Bila generasi tua melihat hal tersebut sebagai ‘pemaksaan kehendak orang berduit’, generasi muda seangkatan Azis (37 thaun), misalnya, merasa yang tentunya bertolak belakang dengan wujud hutan dan kebun orang tua mereka.
“Waktu itu kami membuat sendiri stik golf dari kayu jambu atau kayu kayu duku,” tutur Azis , ketua RT 03 yang juga master caddy di klab golf Rancamaya, Ciawi.

Dalam konteks bermain, mereka semakin dekat dengan golf, permainan yang sebutannya konon berasal dari ‘game of love and feeling’. Mereka belajar mengayunkan stik, memungut bola, dan menjual bola bekas di padang golf Sawangan, yang termasuk kategori tertua di Jakarta ini. Untungnya, pengelola padang golf pun banyak memberikan kesempatan, selama anak-anak tidak mengganggu permainan para tamu yang datang. Mungkin sudah tumbuh kesadaran bahwa kelak anak-anak tersebut akan menjadi aset penting di dunia golf.

Leave a Reply

Close Menu