Blitar

2002_Maret_Edisi 132_Telusur:
Blitar
Marco Kusumawijaya

Mana yang lebih dulu, Candi Panataran atau Kota Blitar? Sebagian akan menjawab: “Bung Karno!”
Karena Blitar belum pernah menjadi reruntuhan, maka belum ada penyajian sejarah evolusinya. Lebih banyak angka diketahui mengenai sejarah Candi Panataran, mungkin karena ia telah menjadi reruntuhan.

Memang data sejarah cenderung disusun atas dasar tarikh resmi saja. Maka seolah-olah sejarah Kota Blitar pun baru dimulai ketika statusnya sebagai Gementee Blitar ditetapkan pada tahun 1928. Begitu juga Kabupaten Blitar, seolah baru lahir pada “Hari jaitoe hari moelainja pendoedoek di kaboepaten Blitar bias dapet kesempatan toeroet mengoeroes sebagian hal negrinja”.

Sedang dari reruntuhan Candi Penataran diketahui bahwa ia dibangun selama lebih dari dua setengah abad, sejak 1197 hingga 1454. Tentu saja sebagian besar oleh kaum Majapahit, terutama di masa Maharaja Hayam Wuruk, yang dalam Negarakertagama disebutkan kerap mengunjunginya.

Bila candi berfungsi begitu penting, maka tidak mungkin tiada suatu permukiman berkembang di dekatnya. Dan Blitar hanyalah 10 kilometer di Selatan Candi Panataran.

Panataran
Candi adalah tanda baca peradaban; yang dibangun kemanusiaan untuk mengucapkan kepada Sang Misteri mengenai keberadaan mereka yang berkembang biak dan berdaya cipta, segala hasil upaya kemanusiaan mencari dan sekaligus menyatakan dirinya.

Bas-relief Candi Panataran memberikan keterangan penting mengenai peradaban Majapahit. Ditampilkan bagaimana mereka melakukan domestikasi pisang, nanas, dan durian di pekarangan atau kebun berpagar. Digambarkannya bagaimana music menjadi bagian dari hidup. Genderang, gong, gampang, dan kecer (sejenis simbol) adalah sebagian ungkapan Panataran tentang keindahan bebunyinya.

Gambar-gambar. Itulah sejarah mereka yang berupaya menyetir alam semesta, menyusun hikayat dan pemahaman, menata kehidupan bersama, mencari kabar tentang hakekat Sang Misteri. Dalam upaya itu, tampillah kegagalan, kesedihan, kemarahan, kebodohan, kekalahan, dan kekuasaan. Tampil pula perjuangan mengingat dasar hati, mengingat hakekat, kesamaan nasib, yang adalah sesame jiwa pada sebuah bhwana.

Makam Bung

Paula Aminem, Anna Soekatinem, Maria Moedjinah adalah jiwa-jiwa yang beruntung beristirahat dalam sebuah permakaman umum bersebelahan dengan Bung. Hanya sayangnya mereka dipisahkan oleh tembok susunan batu setinggi 3,5 meter yang begitu panjang. Tembok-tembok ini menyempitkan ruang Bung sendiri. Rasanya akan juga menyesakkan nafas Bung, yang dilahirkan hidup dari dan dibesarkan oleh rakyatnya.

Tapi Bung mugkin akan merasa lega bahwa pelabuhannya yang terakhir masih mampu menghidupi rakyat. Mungkin juga ia akan tersenyum melihat bagaimana mereka berkarya. Mungkin juga bersedih melihat rendahnya nilai yang diberikan pada karya mereka.

Rakyat yang menuai rejeki dari kehadiran Bung di Blitar adalah para pedagang mainan anak. Mereka yang menjual ikan lele kertas, yang dapat menggelepar karena diberi roda, berputaran pegas karet gelang, dengan harga Rp. 1.000,-. Mereka yang menjajakan kupu-kupu plastic selebar daun jati, yang sayapnya dapat mengepak, dengan harga Rp. 2.500,-. Di tangan mereka,semua yang sisa (karet ban, kertas Koran, karet gelang, plastic, potongan kayu, dan kawat) berganti rupa menjadi mainan lucu. Bersahaja tapi penuh imajinasi… suatu yang disenangi Bung.

Menginap?

Hotel Sari Lestari menawarkan yang terbaik.
Ia adalah sebuah kompleks yang berpusar pada sebuah bangunan utama buatan tahun 1850 dan telah sempurna direnovasi. Kamar-kamar suite berpintu besar, berjejer di kiri kanan ruang tengah yang lebar, tinggi dan membuat orang merasa kecil di dalamnya. Gerbang masuknya adalah sebuah pelengkung selebar ruangan. Di hadapannya sebuah veranda menghadang angin dari jalan masuk. Puluhan foto Bung Karno bertebaran di semua dinding. Semerbak sedap malam rata di setiap penjuru. Sedangkan resepsionis, restoran dan ruang duduk, yang menjajari kiri-kanan jalan masuk, membentuk kolonade. Warna merah darah banteng muncul di taplak, dinding dan tirai seakan membangkitkan semangat dan gelora Bung. Sebuah atraksi penyambutan.

Kalau berani “diperbolehkan”, silakan coba suite Putra Sang Fajar. Ranjang besar dan tinggi-harus dinaiki dengan dingklik-,burung garuda di belakang kepala ranjang, dan tebaran foto-foto Bung di beberapa sisi. Sebuah kamar yang penuh kenangan akannya. Di ruang tamunya, terdapat deretan empat lukisan besar Putra Sang Fajar. Di situ Bung terlihat tengah mengangkat kawula yang bersimpuh di kakinya. Meja dan kursi kerja, lemari serta kursi tamu dan juga meja kopi, dibuat mendekati selera Bung, seandainya masih hidup. Bermalam di suite Putra Sang Fajar agaknya memerlukan niat dan nyali khusus.

Sore hari di Hotel Lestari, jangan lupa untuk mencicipi jajan pasar di warung pojok yang bersahaja dan tentram di bawah naungan pohon beringin. Atapnya hanyalah genteng biasa, yang sebagian besar sudah menghitam dan berlumut. Meja-meja t’te-a-t;te kursi kayu tua, adalah tempat yang nyaman untuk deretan jajan pasar adalah kesempatan untuk memanjakan lidah dengan uthuk-uthuk, lapis, geronthol, tiwul, pisang goring, dan juga bubur sumsum.

Perlu ruang besar?

Pergilah ke alum-alun, beberapa ratus meter di kanan hotel. Masjid, pendopo kabupaten, penjara serta balai kota mengelilingi emapt sisinya. Deretan pohon beringin raksasa mengalahkan kehadiran segala hal lain yang ada di sana. Merekalah penguasa pusat kota yang sesungguhnya. Pengusaha yang memberikan keteduhan bagi siapa saja, termasuk yang hendak menikmati Cendol Jempol khas Blitar di bawah naungannya.

Bila alun-alun tak cukup juga melegakan. Berkendaralah ke Pantai Tambak Rejo. Hanya butuh 45 menit untuk mencapai pantai berjarak 35 kilometer di Desa Tambak Rejo, Kecamatan Bakung,Laut Selatan. Bila berutung dating pada bulan Syura, saksikanlah upacara Labuhan oleh nelayan setempat. Kesempatan baik untuk kembali menghargai kekuatan alam.
Blitar, hanya 80 kilometer di Barat Malang. Ia menawarkan pengalaman beragam dari rentang waktu yang begitu panjang.

Leave a Reply

Close Menu