Bising

1997_akhir November_Edisi 081_peduli:
Bising

“Bising bikin pusing!” Bukan sekedar permainan kata, tulisan yang tertera pada sebuah kaos ini menandakan kejenuhan manusia terhadap situasi kota. Sebuah penelitian berdasarkan alat pengukur intensitas suara yang disebut decibel telah membuktikan seseorang cepat lelah, lekas marah atau singkat stress. Bahkan sebuah suara yang intensitanya mencapai angka 120 decibel, dapat merusak alat dengar manusia, misalnya menjadi tuli.

Lalu bagaimana dengan kita yang tianggal di kota, ketika setiap hari harus dibisingkan oleh suara klakson, deru kendaraan bis, motor, mobil. Kendaraan ini tidak saja mengeluarkan polusi kimia, tapi juga suara yang dicibrasikannya. Bayangkan saja sebelum sampai ke tempat kerja, kita sudah diletihkan oleh suara kendaraan di jalan. Kemudian saat pulang, kita pun dihadapkan pada kebisingan yang sama. Kadang-kadang kita menganggap hal ini tidak istimewa dan menjadi bagian dari keseharian yang harus dijalani. Padahal sebenarnya kita sedang menumpuk penyakit yang baru terasa di masa mendatang. Jika belum ada teknologi yang mampu mengatasi kebisingan lalulintas, dengan cara apa hal ini diatasi?

Nampaknya kita bisa mengurangi polusi suara dengan mengandalkan kesabaran. Yang paling sederhana saja, misalnya mengurangi frekuensi pemencetan klakson atau peluit bunyi klakson. Seringklai seseorang memencet klakson tidak berdasarkan fungsi utamanya, tetapi hanya karena tidak bisa sabar saja. Padahal siapun sebenarnya tahu bahwa memencet klaksaon beribu-ribu kali tidak bisa mengurangi kecelakaan lalulintas. Cara lain adalah memajukan kendaraan dengan kecepatan sandar, sehingga dapat mengurangi kecelakaan sekaligus mengendalikan populasi suatu kendaran di jalan. Di daerah perkampungan kita masih diingatkan oleh tulisan-tulisan yang ada di muka gang, misalnya: “matikan mesin” atau “motor harap dituntun”, “jangan ngebut” dan sebagainya. Lepas dari gang, siapa yang mau mengingatkan kita di jalan raya kalau bukan kesadaran untuk tidak mementingkan diri sendiri. Segala persoalan ternyata bisa dimulai dari perubahan perilaku karena penemuan teknologi yang paling canggih pun tergantung pada bagaimana kira memperlakukannya.

Leave a Reply

Close Menu