Bimo Wihatmo…”harus berani rugi untuk tari”

Bimo Wihatmo…”harus berani rugi untuk tari”

2001_Mei_Edisi 124_Seni:
Bimo Wihatmo…”harus berani rugi untuk tari”
Ade Tanesia

Bertahan selama 22 tahun di dunia tari bukan waktu yag sedikit. Tapi karena kecintaannya, Bimo Wiwohatmo selalu setia menggeluti dunia tari. Hingga kini sebanyak 35 karya koreografinya sudah dipentaskan. Sebenarnya semangat apa yang membuat dirinya rela jatuh bangun di dunia koreografi tari? “Sejak kecil saya memang sudah ingin menjadi seniman. Dan saya memang sudah menari jawa sejak usia 10 tahun. Lalu saya masu SSRI untuk belajar seni rupa di Yogyakarta. Kemudian di tahun 1979 saya berguru pada Bagong Kussudiarjo. Hampir selama 13 tahun saya ikut padepokan Bagong. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk keluar dan membuat karya-karya sendiri. Tidak mudah memang membuat pertunjukan tunggal, tapi itu sudah menjadi pilihan dan harus dilaksanakan. Darimana uangnya? Yah dicari sebisa mungkin. Tidak bisa lagi kita menghitung untung rugi. Harus berani rugi, apalagi membuat pertunjukan itu sudah pasti ruginya”, ujar Bio Wiwohatmo. Karya tari pertama Bimo adalah “Komposisi No” dan dilanjutkan dengan “Kubus-kubus’ pada tahun 1985. Hasil koreografinya memang menawarkan inovasi baru, karena ia sangat senang bereksperimen dalam sisi visual panggung. Latar belakang pendidikannya di Seni Rupa tak lenyap begitu saja, justru memperkuat karya-karya koreografinya. “Dalam menciptakan karyanya, seorang koreografer mempunyai racikan sendiri. Walaupun ada istilah notasi laban, seperti not balok musik, tetap saja koreografer tidak harus mengikuti aturan itu. Saya sendiri biasanyaberangkat dari inspirasi panggung dan lighting, baru kemudian bersama penari menciptakan gerak. Lalu komposisi itu dibuatkan sketsa dan alur. Karena seringkali penari pun lupa dengan gerakannya”, ungkap pria yang di tahun 1993 telah membangun Bimo Dance Company.

Kreativitas Bimo Wiwohatmo tidak sia-sia, setelah namanya melambung di dunia tari internasional, ia pun mulai bergerak untuk menggelar sebuah festival teri internasional di Yogyakarta. Lahirlah “Interaction: Asian Modern Dance” di tahun 1998, yang telah melibatkan koreografer dari Jepang. Singapura, Malaysia, dan tahun ini akan memperluas jaringannya dengan penari Kanada dan Jerman. Inilah satu-satunya acara tari internasional di Yogyakarta. Bukan cerita bual, jika ada kabar tentang dirinya menjual mobil untuk meombok penyelenggaraan acara ini. Sepertinya semula, menjadi seorang koreografer haruslah berani rugi dan tidak kapok.

This Post Has One Comment

  1. Bang teruskan berkarya … kapan saya bisa ngobrol tentang sebuah konsep koreografi alam yg semakin rumit…

Leave a Reply

Close Menu