Bermain di “hutan’ Jakarta

1999_Februari_Edisi 098_milikita:
Bermain di “hutan’ Jakarta

Nicole, putrid berumur 8 tahun, kelas 3 sekolah dasar mengisi sebuah kuisioner mengenai rencana pembangunan halaman sekolah yang penuh dengan garis, lantainya kasar dan bisa melukai, juga terbuat dari aspal. Saya ingin halaman yang punya tangga berjajar, pohon-pohon, rumput, burung, kolam ikan dan taman bunga!” Ungkapan ini menggambarkan kerinduan anak-anak akan  halaman bermain yang luas dan alami. Nampaknya kerinduan ini semakin sulit dipenuhi, karena berdasarkan prediksi PBB, diperkirakan hingga tahun 2005 lebih dari 60% penduduk dunia yang berjumlah 8.3 milyar akan tinggal di daerah perkotaan dengan konsekuensi ruang kehidupan semakin menyempit. Lalu dimana halaman bermain untuk anak-anak? Anak-anak miliki energi lebih luas untuk bermain.

Tak perlu menunggu tahun 2025, gambaran tentang bumi masa mendatang ini sudah bisa disaksikan di kota Jakarta. Anak-anak bermain sepeda atara gedung tinggi atau dengan gesitnya menghadapi salipan bis di jalan raya. Di rumah susun, anak-anak bermain layangan tidak lagi di halaman lapang, melainkan dipagar teras. Di lahan yang paling minimal, mereka ternyata sangat kreatif untuk menciptakan permainannya sendiri.

Pertemuan dengan samsul, bocah usia 8 tahun yang bersekolah di bilangan KS Tubun Jakarta, merupakan cerita menarik. Ia harus menerima kenyataan bahwa halaman sekolahnya hanya seluas lapangan bulu tangkis yang diapit bangunan bertingkat dan perkampungan padat. Jika jam istirahat berdentang, anak-anak berhamburan ke halaman itu. Namun banyak juga anak yang memanfaatkan kelas untuk tempat bermain. “Yah, biarin saja kalau halamannya cuma segini,” ujarnya dengan acuh tak acuh. “Pulang sekolah, dengan teman-teman aku bisa melatih burung merpati ke Serpong. Jauh juga sih, kita naik kereta dari stasiun tanah abang,” jelas Samsul yang tinggal di Jati Bunder. “Naiknya seperti itu tuh,”  ujarnya menunjuk anak-anak yang berada di atas atap kereta. Rupanya sampai di Stasiun Serpong, Samsul dan teman-teman akan melepas merpati kesayangan mereka. “Pokoknya, setiap hari harus bertambah jauh,” tandas Samsul yang dibenarkan kedua konconya, Panji dan Salam.

Sabrani punya cerita lain lagi. Sekolahnya berada di lokasi Bongkaran, .. tempat yang identik dengan kaum kumuh di pinggiran kali. Tiap hari, sepulang sekolah ia dan teman-temannya biasa menghabiskan waktu bermain dimana pun. Tetapi yang menjadi tempat favorit mereka adalah pinggir kali dekat jembatan. “Soalnya, di tempat itu ada yang sering begituan”, jelasnya sambil menyelipkan ibu jari diantara telunjuk dan jari tengah. “Siang-siang begini juga sering, Bang,” katanya menyakinkan. Seperti anak-anak yang ketagihan, Sabrani dan temannya kadang tak segan-segan mengintip jarak dekat. Bahkan, ia punya “rute” khusus untuk menemukan pemandangan 17 tahun ke atas tersebut. Hal semacam ini sangat umum di kawasan jembatan Tanah Abang dan Bongkaran, bahkan disiang hari kita bisa dapati perempuan yang tengah “berpromosi”. Belum lagi praktek perjudian yang tengah dengan mudah ditemui di pinggir-pinggir jalan maupun kios-kios.

Bagi Panji, Sabrani, Samsul, Salam dan Yudi bumi bermainnya sangat luas. Karena, kali, jembatan, preman, judi dan perempuan-perempuan penjaja cinta dalah pemandangan yang akrab di “arena bermain” mereka. Dan halaman, — seperti kata Pearce dalam Magical Child, merupakan tempat dimana mereka tumbuh dan mengembangkan intelegensinya, tempat dimana anak-anak membuat kontak dan proses dengan lingkungan, serta yang tak kalah penting adalah membantu sistem sensor dan proses otak secara kseluruhan—bukan satu-satunya tempat bagi anak-anak itu. Namun yang harus kita wapadai, kalau halaman merupakan tempat belajar mereka, maka situasi sekeliling yang negatif  bisa berpengaruh pada pertumbuhan kepribadiannya. Banyak pengamat sosial menuliskan, tawuran anak-anak sekolah di Jakarta diantaranya disebabkan kurangnya ruang ekspresi. Lalu, akankah kelak anak-anak itu akan meniru kakak-kakanya yang tumbuh dalam tradisi kekerasan, yang selalu menyelipkan senjata dibalik seragam sekolah?

Sumber:
Innovation in Play Enviroments, Paul.F. Wikinson, London: Croom Helm, 1980
Permainan anak kota dan anak desa oleh Hans Daeng. Basis: Juni 1982
Gennep, Arnold Van. The Rites of Passager, ransit. By Monika B. Vizdon & Gabrielie L. Caffe; introd By Solon T. Kimbali, repr. Cetakan pertama 1960. London: 1965

 

Leave a Reply

Close Menu